|
Merupakan acara khitanan bagi anak-anak usia 7-10 tahun di Banjar, Kalimantan selatan. Mula-mula, anak yang akan dikhitan berendam air dingin menjelang subuh di dalam panai (baskom dari gerabah) sambil dihibur oleh kakek/neneknya dengan cerita indah. Hal tersebut dimaksudkan supaya daging kemaluannya keriput, sehingga tidak akan sakit saat disunat. Pagi harinya, anak-anak tersebut diberi pakaian bagus, cincin dan gelang emas, dipersolek bagai mempelai dan di lehernya digantungi sebuah jimat penangkal setan. Di depan undangan yang memenuhi rumah, anak-anak itu didudukkan di atas sasanggan terbalik, diselimuti bahalai (kain batik panjang) yang serba mahal. Usai sunatan, Tuan Guru membaca doa dan melafalkan dua kalimah syahadat, menandakan mereka telah menjadi anak muslim sekaligus memberikan papadah (nasihat) kepada mereka. Ada beberapa pantangan harus dijalani oleh anak-anak pascakhitanan, di antaranya pamali menyantap ikan baung, tidur miring, melangkahi kotoran ayam dan lain-lain dan dianjurkan banyak mengaji/membaca Alquran. Acara selanjutnya adalah makan bersama dengan menu nasi lakatan balamak yang ditempa dan dipotong persegi empat, di atasnya dihiasi inti nyiur bagula habang, lengkap dengan kopi atau teh manis dan diakhiri dengan pembacaan doa selamat oleh Tuan Guru. |