|
Merupakan cara masyarakat Banjar dalam menyelesaikan masalah, konflik ataupun pertikaian. Sebagai penengah dalam babaikan adalah pembakal atau Tuan Guru. Biasanya, orang muda lebih dahulu mengulurkan tangannya memohon ampun kepada yang tua, dan yang tua meminta maaf kepada yang muda. Hal ini diikuti oleh semua pihak yang bertikai, baik laki-laki maupun perempuan. Selanjutnya, Tuan Guru membacakan doa selamat dan memercikkan air wewangian ke atas kepala hadirin, sebagai pertanda telah berakhirnya persengketaan. Adat ini kental dipengaruhi oleh ajaran Islam. |