Jumat, 24 Februari 2017   |   Sabtu, 27 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 7.970
Hari ini : 55.003
Kemarin : 88.940
Minggu kemarin : 233.537
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.796.889
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Candi Muara Takus

a:3:{s:3:

Kompleks candi ini terletak di desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar, kabupaten Kampar, Riau, Indonesia, kurang lebih 135 kilometer dari Kota Pekanbaru, Riau. Jarak antara kompleks candi ini dengan pusat desa Muara Takus sekitar 2,5 kilometer, tak jauh dari pinggir sungai Kampar Kanan. Candi ini ditemukan oleh Yzerman pada tahun 1893, ketika ia berkelana di hutan-hutan Sumatera. Ia tertegun ketika melihat sebuah gundukan tembok yang berlapis-lapis. Pada tahun 1935, seorang arkeolog berkebangsaan Belanda, Dr. F.M. Schnitger datang dan meneliti candi ini. Saat itu, ia sempat heran melihat kedatangan segerombolan gajah ke candi tersebut pada malam bulan purnama, seperti hendak berziarah. Ada yang menghubungkan kejadian ini dengan aspek mistik. Tapi sebenarnya, ini tak lebih dari kenyataan bahwa posisi candi Muara Takus memang berada di daerah lintasan dan permainan gajah.

Kompleks candi ini dikelilingi tembok berukuran 74 x 74 meter. Sementara candi itu sendiri berukuran 7 x 7 meter. Di luar areal kompleks, terdapat pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer yang mengelilingi kompleks ini sampai ke pinggir sungai Kampar Kanan. Di dalam kompleks ini, juga terdapat bangunan Candi Tua, Candi Bungsu dan Mahligai Stupa serta Palangka. Bahan bangunan candi-candi tersebut terdiri dari  batu pasir, batu sungai dan batu bata. Menurut sumber tempatan, batu bata untuk bangunan ini dibuat di desa Pongkai, sebuah desa yang terletak di sebelah hilir kompleks candi. Bekas galian tanah untuk bahan batu bata itu, sampai saat ini sangat dihormati oleh penduduk. Untuk membawa batu bata ke tempat pembangunan candi, dilakukan secara beranting dari tangan ke tangan. Walaupun belum pasti kebenarannya, cerita ini memberikan gambaran bahwa pembangunan candi itu dilakukan secara gotong royong.


Selain Candi Tua, Candi Bungsu, Mahligai Stupa dan Palangka, di dalam kompleks candi ini ditemukan pula gundukan yang diperkirakan sebagai tempat pembakaran tulang manusia. Di luar kompleks ini, terdapat bangunan-bangunan (bekas) yang terbuat dari batu bata, yang belum dapat dipastikan jenis bangunannya. Secara umum, ciri-ciri candi ini menunjukkan beberapa persamaan dengan Candi Kalasan di Yogyakarta, Indnesia.

Candi Muara Takus merupakan satu-satunya situs peninggalan sejarah berbentuk candi di Riau. Candi Budhis ini merupakan bukti historis bahwa agama Budha pernah berkembang di kawasan ini beberapa abad yang silam. Kendatipun demikian, para pakar purbakala belum dapat menentukan secara pasti, kapan candi ini didirikan. Sebagian mengatakan abad kesebelas, ada yang mengatakan abad keempat, abad ketujuh, abad kesembilan dan sebagainya.

Kredit foto : Koleksi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu

____________

Informasi lain tentang Candi Muara Takus bisa dibaca di sini (WisataMelayu.com).

Dibaca : 15.042 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password