Sabtu, 25 Maret 2017   |   Ahad, 26 Jum. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 7.808
Hari ini : 53.123
Kemarin : 72.414
Minggu kemarin : 301.775
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 101.989.508
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Masjid Sultan Suriansyah

1. Sejarah Pembangunan

Masjid Sultan Suriansyah didirikan antara tahun 1526 hingga 1550 M. Dari tarikh pendirian ini, tampaknya Masjid Sultan Suriansyah merupakan masjid tertua di Kalimantan. Sultan Suriansyah memeluk agama Islam pada tahun 1526 M, dan merupakan Raja Banjar pertama yang memeluk Islam. Pada masa kecil, ia bernama Raden Samudera. Ketika masuk Islam dan menjadi raja, ia memakai gelar Sultan Suriansyah. Ia juga dikenal dengan nama Penembahan atau Susuhunan Batu Habang.  

2. Lokasi

Masjid terletak di tepi Sungai Kuin, kelurahan Kuin Utara, Banjar Kota, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Karena terletak di tepi sungai, maka setiap orang yang lewat menggunakan angkutan air, bisa melihat masjid ini. Kira-kira 500 meter dari masjid, tardapat makam Sultan Suriansyah, pendiri masjid.

3. Luas

Masjid berukuran 26,1x22,6 meter.

4. Arsitektur

Arsitektur masjid cukup indah berbentuk panggung dan beratap tumpang, sesuai dengan bangunan tradisonal masyarakat Banjar.

Sebelum masjid ini direnovasi, pada bagian atasnya (puncaknya), terdapat sungkul yang terbuat dari kayu ulin. Usia sungkul itu lebih dari tiga abad, saat ini sudah dilepas dari atas masjid dan disimpan di Museum Lambung Mangkurat.

Di dalam masjid, terdapat sebuah mimbar dari kayu ulin (kayu besi). Lengkungan di muka mimbar dihiasi kaligrafi Arab bertuliskan La ilaha Illa Allah, Muhammad al-Rasulullah. Pada bagian kanannya, terdapat tulisan yang menunjukkan tarikh, yaitu 27 Rajab 1296 hijriyah. Asli tulisannya adalah: Krono Legi : Hijrah 1296 bulan Rajab hari Selasa tanggal 17. Sedangkan pada bagian kiri terdapat tulisan Allah subhanu wal hamdi al-Haj Muhammad Ali al-Najri.

Di bawah tempat duduk mimbar, terdapat undak-undak yang berjumlah sembilan buah, dengan ukiran yang bermotif flora. Pada tiap undak, juga terdapat ukiran medali berbentuk bunga. Masjid juga memiliki mihrab yang memiliki atap sendiri, terpisah dari bangunan induk.

Pada daun pintu sebelah barat dan timur masjid, terdapat lima baris inskripsi Arab berbahasa Melayu. Inskripsi itu tertulis dalam sebuah bidang berbentuk segi delapan berukuran 50x50 cm. Pada daun pintu sebelah kanan, inskripsi Arab-Melayu tersebut berbunyi, “Ba‘da hijratun Nabi Shalallahu ‘alahihi wassalam sunnah 1159 pada Tahun Wawu ngaran Sultan Tamjidillah Kerajaan dalam Negeri Banjar dalam tanah tinggalan Yang mulia". Sedangkan pada daun pintu sebelah kiri, inskripsinya berbunyi, "Kiai Damang Astungkara mendirikan wakaf Lawang Agung Masjid di Nagri Banjar Darussalam pada hari Isnain pada sapuluh hari bulan Sya‘ban tatkala itu (tidak terbaca)". Tarikh yang tertera pada inskripsi tersebut (Senin, 10 Sya‘ban 1159 H) menunjukkan masa dilakukannya pembuatan lawang (pintu) masjid oleh Kiai Demang Astungkara, pada masa pemerintahan Sultan Tamjidillah I (1734-1759).

Pola ruang di Masjid Sultan Suriansyah tidak berbeda dengan pola ruang Masjid Demak. Pola arsitektur ini kemungkinan dibawa bersamaan dengan masuknya agama Islam ke daerah ini oleh Khatib Dayan. Sebagaimana diketahui, Sultan Suriansyah masuk Islam karena pengaruh Kerajaan Demak. Sementara arsitektur mesjid Agung Demak sendiri dipengaruhi oleh arsitektur Jawa-Hindu.

Ada tiga ciri pokok dalam arsitektur Jawa-Hindu, yaitu hadirnya tiga aspek bangunan: atap meru (tumpang), ruang keramat (cella) dan tiang guru yang melingkupi ruang cella. Meru merupakan ciri khas atap bangunan suci di Jawa dan Bali. Bentuk atap yang bertingkat dan mengecil ke atas merupakan lambang vertikalitas dan orientasi kekuasaan ke atas. Bangunan yang dianggap paling suci dan dan penting memiliki tingkat atap paling banyak dan paling tinggi.

Ciri atap meru ini tampak pada Masjid Sultan Suriansyah yang memiliki atap bertingkat, dan memang,  masjid ini merupakan bangunan terpenting di daerah tersebut. Bentuk atap yang besar dan dominan, memberikan kesan ruang di bawahnya merupakan ruang suci (keramat; cella). Tiang guru adalah tiang-tiang yang melingkupi ruang cella. Ruang cella yang dilingkupi tiang-tiang guru tersebut terdapat di depan ruang mihrab, yang berarti secara kosmologi cella lebih penting dari mihrab.

5. Perencana

Menurut sumber tempatan, perencana masjid ini adalah Patih Anom, seorang tokoh yang sangat disegani dan dipercaya memiliki keajaiban luar bisasa. Konon, kabarnya ia mengumpulkan kayu di hutan seorang diri untuk digunakan sebagai tiang masjid.

6. Renovasi

Renovasi pertama terhadap masjid dilakukan oleh Kiyai Damang Astungkara di masa pemerintahan Tamjidillah I, cucu Sultan Suriansyah. Saat itu, Kiyai membuat daun pintu, yang sekarang disebut lawang agung.

Selanjutnya, untuk menambah kelengkapan masjid, kemudian Haji Muhammad al-Najri membuat sebuah mimbar. Mengenai renovasi selanjutnya, masih dalam proses pengumpulan data.

Kredit foto : Koleksi Mahyudin Al Mudra

____________

Informasi lain tentang Masjid Sultan Suriansyah bisa dibaca di sini (WisataMelayu.com).

Dibaca : 14.612 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password