Sabtu, 25 Februari 2017   |   Ahad, 28 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 4.278
Hari ini : 19.973
Kemarin : 81.319
Minggu kemarin : 233.537
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.798.346
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Prasasti Kota Kapur

a:3:{s:3:

Prasasti Kota Kapur ditemukan oleh Administrator Belanda, Van der Meulen di Kota Kapur, Bangka, pada bulan Desember 1892 M. Prasasti ini berangka tahun 686 M, tiga tahun setelah Sriwijaya menundukkan Kerajaan Melayu Jambi. Ada dugaan, prasasti ini sebagai peringatan pada rakyat di daerah taklukan, agar tidak melawan Kedatuan Sriwijaya.

Saat prasasti itu dikeluarkan, Raja Sriwijaya sedang mengirimkan ekspedisi untuk menundukkan Pulau Jawa, karena tidak berbakti pada Sriwijaya. Prasasti ini tidak menyebutkan kerajaan mana yang akan diserang, yang tercantum hanya: bhumi Jawa. Tentara Sriwijaya berangkat ke tanah Jawa pada hari pertama bulan terang bulan Waisaka, tahun Saka 608. Keberangkatan tentara dalam jumlah besar ke Pulau Jawa menjadikan pertahanan keamanan dalam negeri lemah. Khawatir terjadi pemberontakan dalam negeri, maka Dapunta Hyang (Raja Sriwijaya) mengeluarkan ancaman ini.

Isi prasasti menekankan pada drohaka (pengkhianat; durhaka), dimulai dengan kisah pemberontakan Kandra Kayet. Dikisahkan, Kandra Kayet merupakan seorang tokoh yang memimpin pemberontakan terhadap Dapunta Hyang. Untuk menumpas pemberontakan Kayet, Dapunta Hyang mengirim tentara di bawah pimpinan Senapati Tandrun Luah. Dalam pertempuran, Senapati Tandrun Luah berhasil dibunuh oleh Kayet. Namun, akhirnya Kayet berhasil juga diringkus oleh Dapunta Hyang. Untuk itulah, kisah pemberontakan Kayet perlu dijadikan pelajaran oleh orang-orang yang berada di bawah kekuasaan Sriwijaya bahwa, bagaimanapun kuatnya mereka, tetap tidak akan menang melawan Raja Sriwijaya.

Berikut ini terjemahan isi prasasti versi Slamet Muljana:

Seorang pembesar yang gagah berani, Kandra Kayet, di medan pertempuran. Ia bergumul dengan Tandrun Luah dan berhasil membunuh Tandrun Luah. Tandrun Luah mati terbunuh di medan pertempuran. Tetapi, bagaimana nasib Kayet yang membunuh itu? Juga Kayet berhasi ditumpas. Ingatlah akan kemenangan itu!

Kamu sekalian dewata yang berkuasa dan sedang berkumpul menjaga Kerajaan Sriwijaya! Dan kau, Tandrun Luah, dan para dewata yang disebut pada pembukaan seluruh persumpahan ini! Jika pada saat manapun di seluruh wilayah kerajaan ini ada orang yang berkhianat, bersekutu dengan pengkhianat, menegur pengkhianat atau ditegur oleh pengkhianat, sepaham dengan pengkhianat, tidak mau tunduk dan tidak mau berbakti, tidak setia kepadaku dan kepada mereka yang kuserahi kekuasaan datu, orang yang berbuat demikian itu akan termakan sumpah. Kepada mereka, akan segera dikirim tentara atas perintah Sriwijaya. Mereka sesanak keluarganya akan ditumpas! Dan semuanya yang berbuat jahat, menipu orang, membuat sakit, membuat gila, mlakukan tenung, menggunakan bisa, racun, tuba, serambat, pekasih, pelet dan yang serupa itu, mudah-mudahan tidak berhasil. Dosa perbuatan yang jahat untuk merusak batu ini hendaklah segera terbunuh oleh sumpah, segera dipukul. Mereka yang membahayakan, yang mendurhaka, yang tidak setia kepadaku dan kepada yang kuserahi kekuasan datu, mereka yang berbuat demikian itu, mudah-mudahan dibunuh oleh sumpah ini.

Tetapi kebalikannya, mereka yang berbakti kepadaku dan kepada mereka yang kuserahi kekuasaan datu, hendaknya diberkati segala perbuatannya dan sanak keluarganya, berbahagia, sehat, sepi bencana dan berlimpah rezeki segenap penduduk dusunnya.

Kredit foto : www.bangka.go.id

Dibaca : 23.325 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password