Senin, 24 April 2017   |   Tsulasa', 27 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 7.750
Hari ini : 55.051
Kemarin : 52.079
Minggu kemarin : 401.091
Bulan kemarin : 5.093.107
Anda pengunjung ke 102.198.694
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Masjid Kampung Hulu Malaka

a:3:{s:3:

1. Sejarah Pembangunan

Masjid Kampung Hulu merupakan salah satu masjid tertua di Malaysia, didirikan pada tahun 1728 M. Namun, ada juga sumber lain yang mengatakan bahwa, masjid ini dibangun pada tahun 1720 M.

Pembangunan masjid dilakukan oleh masyarakat setempat, dikoordinasikan oleh seorang Kapitan Belanda yang bernama Shamsudin bin Arom, seorang muslim keturunan Cina. Dato Shamsudin memang sengaja ditugaskan oleh Belanda untuk membina masjid di Kampung Hulu ini.

Biaya pembangunan masjid ditanggung oleh Belanda (VOC) yang datang ke Malaka sejak tahun 1624 M.  Adanya dukungan Belanda terhadap pembangunan masjid berkaitan dengan terjadinya perubahan kebijakan di Belanda yang lebih menghargai pluralisme. Kebijakan Belanda ini sangat berbeda dengan penjajah sebelumnya, yaitu Portugis yang menghancurkan seluruh bangunan rumah ibadah di Malaka, kecuali gereja. Akibat kebijakan picik Portugis ini, banyak masjid yang dihancurkan, termasuk masjid pertama yang dibina di Malaka, yang konon terletak berseberangan dengan lokasi Stadhuys sekarang.

2. Lokasi

Masjid terletak di Kampung Hulu, di sudut persimpangan jalan antara jalan Mesjid dan jalan Kampung Hulu, Malaka Tengah, Malaka, Malaysia. Masjid ini berada tepat di jantung kota. Saat ini, di sekitar kawasan masjid telah dipenuhi oleh kedai-kedai para pedagang Cina.

3. Luas

(Dalam proses pengumpulan data)

4. Arsitektur

Arsitektur masjid bergaya joglo Jawa, dengan atapnya yang berbetuk piramidal tiga tingkat. Di antara atap teratas dengan atap di bawahnya, terdapat celah dengan jendela atas, berfungsi sebagai ventilasi, terutama untuk memasukkan cahaya ke ruang dalam masjid. Model ini tidak berbeda dengan masjid-masjid lainnya yang dibangun di nusantara pada masa itu.

Masjid ini mempunyai atap (bumbung) berlapis 3, dengan bentuk piramidal. Di antara  lapisan-lapisan atap ini terdapat ruang, sehingga udara dan cahaya dapat masuk ke dalam masjid. Puncak atap piramidal berdiri di atas empat kolom utama (soko guru) yang dihias dengan cunduk. Pada bagian ujung atap, terdapat ukiran bercorak sulur bayur, mahkota dan awan larat.

Menurut masyarakat setempat, atap tiga lapis ini memiliki makna simbolik. Atap lapisan paling atas melambangkan iman pada Allah; atap lapisan kedua melambangkan hubungan manusia dengan manusia; dan atap lapis ketiga melambangkan hubungan manusia dengan alam.

Sebelum masuk ke ruang utama untuk shalat, terdapat konstruksi yang menjorok ke depan (dalam arsitektur Jawa disebut kuncung). Atapnya berbentuk pelana, menempel pada atap utama. Secara keseluruhan, bahan konstruksi masjid ini dari batu bata dan batu, berbeda dengan masjid-masjid lain pada masa itu yang masih dibangun dengan konstruksi dari kayu. Pada bagian luar masjid, terdapat pagar rendah yang mengelilingi kawasan masjid.

Masjid mempunyai dinding keliling, di bagian depan terdapat gerbang. Gerbang masjid ini sangat unik, tidak terdapat di masjid lainnya.Gerbang tersebut terdiri dari dua lantai, berdenah bujur sangkar, disangga oleh empat kolom silindris model Yunani. Bagian atasnya berupa gardu dengan empat tiang dan beratap piramidal. Pada bagian bubungan terdapat hiasan dengan alur-alur tebal. Boleh jadi konstruksi ini mendapat pengaruh dari arsitektur Cina. Pada bagian atas gerbang ini, juga terdapat panggung yang digunakan untuk meletakkan bedug.

Minaret masjid berdenah segi delapan, terdiri dari enam bagian. Setiap bagian ditandai dengan alur-alur horisontal (molding). Pada setiap sisi bagian tersebut, terdapat jendela kecil, dengan plengkung mati pada bagian tengah atasnya. Bagian minaret paling atas berupa gardu dengan kolom pada setiap sudutnya, antara setiap kolom dihubungkan oleh plengkung. Secara keseluruhan, arsitektur minaret menunjukkan perpaduan antara arsitektur Cina, Malaka, India dan Eropa, namun, pengaruh arsitektur pagoda Cina jauh lebih dominan.

Berkaitan dengan ornamen ruangan bagian dalam masjid, pengaruh Cina tampak cukup kentara. Kemungkinan, hal ini selain dipengaruhi oleh keberadaan Dato Shamsudin yang berasal dari Cina, juga dipengaruhi trend saat itu yang sangat menggemari ornamen China. Keramik untuk lantai dan loteng masjid bahkan menggunakan bahan yang langsung diimpor dari Cina. Saat itu, yang berkuasa di Cina adalah dinasti Ching. Pada tepian kubah masjid, juga terdapat motif-motif ornamen yang menunjukkan adanya pengaruh corak ornamen Cina. Sementara pada bagian dinding dan atap, corak ornamen lebih banyak dipengaruhi dan diinspirasikan oleh dunia tumbuh-tumbuhan

5. Perencana

Belum diketahui secara pasti, siapa sebenarnya perencana masjid bersejarah ini. Dato Shamsudin bin Arom hanyalah koordinator dalam proses pembangunan masjid.

6. Renovasi

Masjid yang dibangun oleh masyarakat Malaka dan Dato Shamsudin bin Arom telah pernah direnovasi oleh Syeikh Omar bin Hussain al-Attas. Dari umur masjid yang sudah begitu tua, tampaknya telah dilakukan beberapa kali renovasi, namun, data mengenai proses renovasi tersebut belum didapat.

Kredit foto : k41.pbase.com

Dibaca : 12.917 kali.

Komentar untuk "masjid kampung hulu malaka"

20 Jul 2012. Rendra Setyadiharja, S. Sos
Salam takzim jari sepuluh kami susunkan, sebenarnya masih banyak tokoh yang berkecimpung dalam dunia melayu, dengan ini saya mencoba memberikan referensi baik yang masih hidup ataupun sudah meninggal 1. Alm. Tusiran Suseno ( pengiat pantun, dan pencentus ide Berbalas pantun terlama yang berhasil masuk MURI, selain itu juga penulis, novelis dan juga budayawan ) 2. H. Ali Achmad ( maestro pantun Kepulauan Riau ) 3. Alm. Mahczumi Daud ( seniman, pengarang )
20 Jul 2012. Rendra Setyadiharja, S. Sos
Salam takzim jari sepuluh kami susunkan, sebenarnya masih banyak tokoh yang berkecimpung dalam dunia melayu, dengan ini saya mencoba memberikan referensi baik yang masih hidup ataupun sudah meninggal 1. Alm. Tusiran Suseno ( pengiat pantun, dan pencentus ide Berbalas pantun terlama yang berhasil masuk MURI, selain itu juga penulis, novelis dan juga budayawan ) 2. H. Ali Achmad ( maestro pantun Kepulauan Riau ) 3. Alm. Mahczumi Daud ( seniman, pengarang )

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password