Sabtu, 25 Februari 2017   |   Ahad, 28 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 4.843
Hari ini : 29.186
Kemarin : 81.319
Minggu kemarin : 233.537
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.798.602
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Masjid al-Osmani


Masjid al-Osmani, Kesultanan Deli, Labuhan Deli.

1. Sejarah pembangunan

Masjid al-Osmani merupakan salah satu masjid megah peninggalan Kerajaan Deli, Medan, Indonesia. Masjid besar lainnya adalah Masjid Raya al-Mashun yang berlokasi di Medan Maimoon, Medan. Menurut sejarahnya, Masjid al-Osmani merupakan monumen Kerajaan Deli yang dibangun oleh Sultan Osmani yang berkuasa dari tahun 1854 hingga 1858 M. Oleh sebab itulah, masjid ini kemudian disebut Masjid al-Osmani, sesuai dengan nama pendirinya. Sebagai sebuah monumen, masjid ini dibangun di pusat kerajaan, yaitu Labuhan, sehingga masyarakat juga menyebutnya sebagai Masjid Labuhan.  Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari saat ini, sebutan Masjid Labuhan jauh lebih populer dibanding Masjid al-Osmani. Selain bangunan masjid, saat itu di Labuhan juga terdapat istana kerajaan. Namun, saat ini istana tersebut sudah tidak ada lagi bekasnya. Ketika Sultan Osman meninggal dunia, ia dimakamkan di halaman masjid yang ia dirikan.

Pada awalnya, konstruksi masjid berasal dari kayu. Pada tahun 1870 (ada juga yang mengatakan tahun 1884), Sultan Mahmud Rasyid merenovasi masjid ini dan mengganti konstruksinya dengan semen, sehingga kelihatan lebih megah dan tentu saja, lebih tahan lama. Di masa jaya Kerajaan Deli, seluruh pembiayaan masjid ditanggung oleh kas kerajaan. Di masjid inilah, sultan dan keluarganya sering melaksanakan shalat Jumat dan shalat hari raya. Pada Idul Adha, biasanya Sultan Deli menyumbang beberapa ekor sapi dan kambing untuk dijadikan kurban, dan dagingnya dibagi-bagikan kepada fakir miskin yang ada di kawasan tersebut. Selain sebagai tempat shalat, Masjid al-Osmani juga digunakan sebagai pusat pelaksanaan peringatan hari-hari besar Islam, seperti Maulid Nabi, Isra Miraj dan Nuzulul Quran. Peringatan hari-hari besar Islam ini selalu diadakan dengan meriah. Khusus peringatan Maulid Nabi, acaranya selalu diadakan pada malam hari. Ketika itu, masjid dihiasi dengan lampu-lampu kandil buatan Andalusia (Spanyol) sehingga tampak sangat indah.

2. Lokasi

Masjid terletak di Labuhan Deli, sebuah kota kecil antara Medan dan Belawan, kira-kira 20 km utara kota Medan. Posisinya berada di pinggir jalan raya Medan-Belawan. Labuhan Deli merupakan ibukota Kerajaan Deli yang pertama, sebelum pindah ke daerah yang sekarang disebut Medan Maimoon.

3. Luas

Pada awal berdirinya, Masjid al-Osmani hanya berukuran 16x16 meter. Ketika direnovasi oleh Sultan Mahmud Rasyid, ukuran masjid diperluas menjadi 26x26 meter, dengan daya tampug seribu orang jemaah. Setelah mengalami beberapa kali renovasi, saat ini luas masjid dan halamannya mencapai satu hektar, dengan luas bangunan induk 30x40 meter.

4. Arsitektur

Masjid bukanlah bangunan asli di kawasan rumpun Melayu, karena itu, bukanlah hal yang aneh jika arsitektur bangunan masjid tersebut banyak dipengaruhi oleh unsur asing. Secara umum, ada dua ciri arsitektur masjid yang berdiri di kawasan Melayu, yaitu yang mendapat pengaruh asing dan yang menggunakan arsitektur lokal (vernacular). Masjid al-Osmani atau Masjid Labuhan ini termasuk kategori masjid yang arsitekturnya mendapat pengaruh asing. Bahkan ada yang mengatakan bahwa, arsitektur masjid ini sama sekali tidak menggunakan ciri arsitektur lokal. Pengaruh India, Persia, Andalusia dan Arab —terutama Mesir—memang sangat jelas kelihatan. Satu-satunya ciri lokal yang tampak pada masjid ini hanyalah halaman terbuka yang luas mengitari masjid.

Denah bangunan utama berbentuk segi empat, dengan atap kubah tunggal bersegi delapan yang indah dan megah, terbuat dari tembaga. Kubah tersebut bertumpu pada dinding tumpu yang bersegi delapan pada bagian atasnya, sesuai dengan bentuk kubah, dan bersegi empat pada bagian bawahnya. Bagian atas dinding tumpuan kubah agak melebar sedikit keluar, dihiasi corak mirip Arabesque yang didominasi garis lengkung.

Bagian lain pada bangunan utama adalah koridor (gang terbuka) yang mengelilingi bangunan masjid, bercorak khas Moorish. Kolom atau tiang yang mengelilingi koridor ini berbentuk bulat langsing, menyangga plengkung tapal kuda, mirip dengan corak koridor masjid di Andalusia. Kepala kolom diberi hiasan yang abstrak.

Bagian lainnya adalah bangunan tempat berwudu. Dinding kolam (bak) air wudu berbentuk segi delapan dan cukup tinggi, sehingga mampu menampung air lebih banyak. Pada sisi-sisi dinding kolam air tersebut terdapat pancuran tempat keluarnya air untuk berwudu. Atap bangunan wudu ini berbentuk piramidal tumpuk dua, dengan segi yang berjumlah delapan. Antara atap tumpuk pertama dan kedua dipisahkan oleh konstruksi dari papan kayu berlubang-lubang rapat berbentuk runcing. Corak ini tampaknya merupakan elemen asli Melayu, karena banyak ditemukan pada berbagai bangunan tradisional Melayu, seperti rumah dan istana. Atap disangga oleh 8 kolom langsing berbentuk silindris, mirip dengan kolom yang terdapat di koridor yang mengelilingi bangunan utama.

5. Perencana

Belum diketahui secara pasti siapa perencana masjid ini. Jika perencana tersebut orang asli Melayu, maka kemungkinan besar ia telah pernah melihat aneka ragam arsitektur masjid yang ada di Mesir, Andalusia, Persia dan India. Aneka ragam corak arsitektur tersebut kemudian ia gabungkan dalam bangunan Masjid al-Osmani ini. Kemungkinan lain, perencananya berasal dari luar negeri yang memang telah berpengalaman dan mengetahui dengan baik berbagai corak arsitektur masjid di bekas-bekas pusat peradaban Islam, seperti Mesir, Persia, India dan Andalusia.

6. Renovasi

Masjid al-Osmani telah beberapa kali direnovasi. Renovasi pertama dilakukan oleh Sultan Mahmud pada tahun 1870 M dengan mengganti konstruksi masjid dari kayu ke batu bata, sehingga masjid lebih kokoh dan megah. Pada tahun 1927, masjid ini kembali direnovasi oleh De Deli Maatscappij, sebuah perusahaan kongsi antara Kerajaan Deli dan Belanda. Renovasi berikutnya dilakukan pada tahun 1966 oleh Walikota Medan pada waktu itu. Wujud masjid saat ini merupakan hasil dari dari beberapa kali renovasi tersebut.

Sumber:

  1. Yulianto Sumalyo. 2006. Arsitektur Mesjid dan Monumen Sejarah Muslim. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  2. Abdul Baqir Zein. 1999. Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia. Jakarta: Gema Insani Press.
Kredit foto: Koleksi www.wisatamelayu.com (Fotografer: Aam Tistomo)

________________

Informasi lain tentang Masjid al-Osmani dapat dibaca di sini (WisataMelayu.com).

Dibaca : 16.675 kali.

Komentar untuk "masjid al osmani"

18 Jan 2010. Charles
god maju terus melayu deli ku.......
18 Jan 2010. Charles
masjid itu penuh dgn kenanganku.....tempatku bersujud dan menimba ilmu...
17 Jul 2012. ayu aranda
bagaimana pendidikan yang ada di mesir?
27 Dec 2014. Rahadian, ST
Menggali sejarah memang tidak mudah, saya kesulitan mencari nama-nama pasirah yg pernah memimpin marga kerkap.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password