Jumat, 26 Mei 2017   |   Sabtu, 29 Sya'ban 1438 H
Pengunjung Online : 4.519
Hari ini : 17.493
Kemarin : 127.290
Minggu kemarin : 688.898
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.467.739
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Masjid Lubuk Bauk

a:3:{s:3:

1. Sejarah pembangunan

Di sebuah kecamatan di Batusangkar, Sumatera Barat, terdapat sebuah masjid indah yang diperkirakan telah berusia lebih dari satu abad. Tahun pasti berdirinya tidak diketahui, namun diperkirakan sekitar akhir abad ke-19, atau paling lambat awal abad ke-20. Tempat dibangunnya masjid ini bernama Lubuk Bauk, oleh sebab itu pula, masjid ini dinamakan Masjid Lubuk Bauk. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai Surau Nagari Lubuk Bauk. Masjid atau surau ini merupakan bagian dari situs budaya yang masih berdiri kokoh di Sumatera Barat. Warna coklat tua pada dinding masjid dan atap seng yang sudah berkarat semakin menambah kesan ketuaan masjid ini. Seluruh bagian masjid menunjukkan warna alami kayu konstruksi, kecuali pada dinding kayu di bawah atap runcing mahkota, terdapat dekorasi khas Minang yang didominasi warna hitam, merah tua dan kuning. 

2. Lokasi

Sebagaimana telah disebutkan di atas, masjid ini berada di Lubuk Bauk, Batusangkar, Sumatera Barat, Indonesia.

3. Luas

Dalam proses pengumpulan data

4. Arsitektur

Arsitektur masjid ini sangat unik, bahkan terkesan spektakuler. Nuansa asli Sumatera Barat sangat kental dan jelas, oleh sebab itu, ada yang menggolongkan arsitektur masjid ini beraliran vernacular. Corak, bentuk, konstruksi, bahan dan dekorasi menunjukkan tradisi setempat. Dalam tataran tertentu, arsitektur masjid ini merupakan simbol dari simbiosis yang harmonis, antara konsep masjid yang berasal dari luar Minang, dengan penggunaan arsitektur yang memanfaatkan seni bina masyarakat lokal.

Nuansa lokal sudah tampak jelas pada bagian luar masjid. Di halamannya, sebagaimana pada masjid lainnya di Sumatera Barat, terdapat sebuah kolam yang memiliki berbagai fungsi, di antaranya sebagai tempat berwudu, memelihara ikan, menyejukkan lingkungan dan berbagai kegiatan sosial. Dalam bahasa setempat, kolam yang memiliki fungsi seperti ini disebut luhak.

Denah masjid berbentuk bujur sangkar, terdiri dari tiga lantai: kolong, lantai satu dan dua. Jika kolong tidak dianggap sebagai bagian dari tingkatan lantai, maka masjid ini sebenarnya hanya memiliki dua lantai. Sebab keberadaan kolong merupakan konsekuensi logis dari konstruksi bangunan tradisional di Sumatera Barat –dan juga beberapa daerah lainnya di kawasan Melayu—yang menggunakan tiang (tongkat). Lantai satu masjid digunakan untuk sembahyang, sedangkan lantai dua untuk surau.

Bahan konstruksi masjid dari kayu, karena bahan ini memang banyak tersedia di daerah itu pada masa dulu, dan atapnya dari seng. Konstruksi atap masjid sangat tinggi dan berkemiringan sangat tajam, ciri khas arsitektur Minang. Atap tersebut bertingkat empat, semakin ke atas semakin kecil. Atap lapisan pertama (lantai satu) dan lapisan kedua (lantai dua) berbentuk piramidal, sedangkan lapisan ketiga berbentuk mahkota, menyilang keempat arah dengan kemiringan yang sangat tajam. Bentuk ujung setiap silangan atap meninggi dan semakin meruncing pada ujung-ujungnya. Lagi-lagi, menunjukkan ciri khas Minangnya. Antara lapisan atap pertama dan kedua terdapat balustrade, sehingga kedua lapisan atap tidak menyatu.

Sedangkan lapisan atap paling atas adalah elemen serupa gardu, berdenah segi delapan dengan jendela kaca pada setiap sisi-sisinya. Karena berbentuk segi delapan, maka atapnya dibentuk seperti piramid, pada pucuknya dihiasi cunduk yang tinggi dan indah, dihiasi lempengan-lempengan seng, bola dan kelopak daun mirip padmanba (lotus) pada bangunan Hindu. Unit yang berbentuk gardu ini berfungsi sekaligus sebagai menara. Saat ini, di salah satu sisinya diletakkan alat pengeras suara, sehingga suara azan maupun pengajian bisa terdengar dari kejauhan. Untuk naik ke ‘menara‘ ini, terdapat tangga spiral di dalam masjid.    

5. Perencana

Tidak diketahu siapa perencana atau arsitek masjid ini. Data dari sejarah lisan mungkin bisa mengungkap siapa perencananya, namun data sejarah lisan tersebut juga belum diungkap.

6. Renovasi

Belum didapat data yang lengkap mengenai proses renovasi yang pernah dilakukan di masjid ini. Hanya saja, tangga masjid yang terbuat dari semen dan pagar yang bertiang semen dan berjeruji besi tampaknya elemen baru yang ditambahkan, ataupun menggantikan elemen lama yang sudah lapuk. Dari situ, bisa disimpulkan bahwa sebenarnya masjid ini pernah direnovasi.

Sumber:

  1. Yulianto Sumalyo. 2006. Arsitektur Mesjid dan Monumen Sejarah Muslim. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  2. West-Sumatera.com
Kredit foto : www.west-sumatra.com
Dibaca : 8.297 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password