Selasa, 28 Maret 2017   |   Arbia', 29 Jum. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 10.725
Hari ini : 107.380
Kemarin : 113.319
Minggu kemarin : 301.775
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 102.009.509
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Kerajaan Merina

a:3:{s:3:

1. Sejarah

a. Asal Usul Melayu di Madagaskar

Madagaskar merupakan sebuah pulau yang terletak di barat daya Samudera Hindia, dengan luas sekitar 599.000 km2. Secara geografis, pulau ini lebih dekat dengan benua Afrika, tapi secara kultural, menunjukkan adanya pengaruh kebudayaan Melayu nusantara. Budaya Afro-Asia ini telah memberi warna khas tersendiri pada masyarakat Madagaskar.

Nama Madagaskar berasal dari kerajaan Melayu pertama yang berdiri di pulau ini, yaitu Matakasi. Para pedagang Arab menyebutnya Madagasi, sementara orang-orang Persia menyebutnya Madagasibar, artinya, negara Madagasi. Seiring perkembangan, nama ini berubah menjadi madagasi kara, hingga akhirnya menjadi Madagaskar. 

Dewasa ini, 25% dari penduduk Madagaskar merupakan keturunan Melayu, yang disebut orang Merina. Mereka tinggal di daerah dataran tinggi pulau ini. Orang Melayu datang pertama kali pada zaman Sriwijaya, lebih kurang dari abad ke-7 hingga 9 M. Sumber lain mengatakan, orang Melayu datang ke pulau ini pada abad ke-2 dan 4 M. Gelombang kedua datang pada abad ke-10 M, sementara gelombang terakhir datang pada abad ke-17 M. Diyakini, kelompok Melayu pendatang inilah yang kemudian mendirikan Kerajaan Merina di Madagaskar.

Kedatangan orang-orang Melayu pada zaman dulu berkaitan dengan relasi perdagangan antara nusantara dengan Afrika Timur. Posisi Madagaskar berada tepat di poros jalur pelayaran trans samudera, yang menghubungkan negeri-negeri di Samudera Hindia dengan negeri Afrika, terutama bangsa Swahili. Dengan posisi ini, maka tak heran, orang-orang Melayu kemudian menjadikan Madagaskar sebagai pangkalan.

Ketika Sriwijaya sudah lemah pada abad ke-11 M, relasi perdagangan dengan Afrika Timur dengan sendirinya jadi terputus. Sejak saat itu, relasi kebudayaan antara Madagaskar dengan rumpun Melayu di Nusantara juga ikut terputus. Maka, berkembanglah suatu corak kebudayaan tersendiri, dengan campuran pengaruh dari Afrika. Namun, menurut sumber lain, relasi dengan dunia Melayu sebenarnya tetap berlangsung pasca keruntuhan Sriwijaya. Konon, wilayah kekuasaaan Majapahit sampai ke Madagaskar. Jika ini benar, berarti relasi dengan nusantara tetap berlangsung.

b. Kerajaan Merina

Pada awal abad ke-17 M, Ralambo berhasil mendirikan Kerajaan Merina di dataran tinggi Madagaskar dengan menyatukan beberapa kerajaan kecil yang ada. Untuk memperkuat kekuasaannya, Ralambo kemudian memperkenalkan beberapa institusi sosial politik. Institusi terpenting yang dibentuk oleh Ralambo adalah Council of Twelve Sampy. Beberapa bentuk upacara juga diperkenalkan untuk memperkuat legitimasi sosial politik raja.

Dalam perkembangannya, Kerajaan Merina yang didirikan Ralambo ini mengalami kemunduran dan kembali terpecah-pecah. Pada akhir abad ke-18 M, sekitar tahun 1780 M, seorang Raja Merina--dalam bahasa setempat disebut Mpanjaka—bernama Andrianampoinimerina (1790-1810 M) berhasil menyatukan kembali puak Merina yang telah terpecah-pecah di Madagaskar, sehingga Kerajaan Merina kembali berdiri kokoh.

Setelah Andrianampoinimerina meninggal dunia, ia diganti anaknya, Radama I. Pada masa Radama I ini, Madagaskar berhasil menguasai beberapa negeri lainnya, seperti Betsileo, Betsimisaraka, Vezo, Sihanaka dan beberapa negeri lainnya. Kerajaan Madagaskar saat itu berpusat di Antananarivo. Dalam perkembangannya, Kerajaan Madagaskar kemudian jatuh ke dalam jajahan Perancis pada tahun 1896 M.

2. Silsilah

Berikut ini silsilah raja-raja Merina yang pernah berkuasa:

  1. Ralambo
  2. Andrianampoinimerina (1790-1810)
  3. Radama I (1819-1828)
  4. Ranavalona  I (1828-1861)
  5. Radama II (1861-1863)
  6. Rasoaherina (1863-1868)
  7. Ranavalona II (1868-1883)
  8. Ranavalona III (1883-1896)

3. Periode Pemerintahan

Raja Madagaskar yang terkenal adalah Radama I (1810-1828 M). Di masa pemerintahannya, Madagaskar membuka hubungan dengan pihak Barat. Ketika ia meninggal dunia, Permaisuri Ranavalona I (1828-1861 M) naik menggantikannya. Seiring dengan itu, Permaisuri segera mengubah kebijakan kerajaan, dengan menutup diri dari pihak Barat. Ketika Permaisuri Ranavalona I meninggal dunia, Permaisuri Ranavalona II naik menggantikannya. Saat itu, Madagaskar kembali membuka hubungan dengan pihak Barat. Bahkan, Permaisuri ini kemudian masuk agama orang barat, yaitu Kristen pada tahun 1869 M. Sejak saat itu, Madagaskar selalu berpihak ke Barat, sehingga pengaruh barat menjadi kuat.  

Ketika Ranavalona III berkuasa, ia mengubah kebijakan kerajaan terhadap Barat, sehingga menimbulkan perselisihan dengan Perancis. Konsekwensinya, ia kemudian ditangkap Perancis dan dibuang ke Aljazair. 

4. Wilayah Kekuasaan

Wilayah Kerajaan Madagaskar meliputi dataran tinggi tengah pulau Madagaskar.

5. Struktur Pemerintahan

(Dalam proses pengumpulan data)

6. Kehidupan Sosial Budaya.

Ketika Ralambo berhasil menyatukan beberapa kelompok orang-orang Melayu yang terpecah di Madagaskar, ia kemudian mendirikan Kerajaan Merina. Untuk memperkuat kekuasaannya, ia segera membentuk suatu institusi sosial politik. Ia juga menciptakan status divinitas terhadap leluhurnya. Dengan itu, ia berharap mendapat legitimasi sosial budaya yang lebih kuat di mata rakyatnya.

Untuk mengembangkan pertanian, ia segera mendayagunakan daerah rawa-rawa untuk penanaman padi yang menjadi makanan pokok orang-orang Madagaskar.

Berkaitan dengan bahasa, diduga, bahasa tradisonal Madagaskar berasal dari Asia Tenggara, masuk ke pulau ini sekitar 2000 tahun yang lalu. Oleh sebab itu, hingga saat ini, masih bisa ditemukan persamaan kata-kata dalam bahasa Melayu dan Merina. Dari tingkat kemiripan, bahasa Merina sangat mirip dengan bahasa Dayak Maanyan di Kalimantan Tenggara, karena itu, diduga, bahasa tersebut berasal dari bahasa Maanyan.

Dewasa ini, ada satu upacara warisan nenek moyang yang masih dilakukan oleh orang Melayu Madagaskar, yaitu sambatra (berkat). Upacara ini berkenaan dengan acara berkhitan anak-anak yang berumur sekitar 7 tahun. Upacara dipimpin oleh lohavohitra (penghulu) ataupun ampanjaka (raja), sementara yang melakukan khitan adalah bomoh (dukun). Dukun yang melaksanakan khitan tersebut, dipanggil oleh masyarakat dengan sebutan rain-jaza (ayah anak).

Dalam penentuan hari berkhitan, para dukun terkadang melihat pada hitungan peruntungan astrologi, untuk mengetahui hari baik dan buruk. Sehari sebelum upacara berkhitan, biasanya sekelompok anak muda pergi mengambil air ke sungai, kemudian menyimpannya dalam wadah terbuat dari tempurung kelapa. Ketika mereka kembali ke desa, rombongan anak muda yang mengambil air tersebut menyanyikan lagu: ampilefaso..ampilefaso.. rano mahery.. rano manoro (artinya: lari..lari..ini air jaya..ini air bercahaya). Ketika sampai di pintu masuk desa, para wanita dan pria muda akan mencoba merebut air ini, sehingga menciptakan keramaian tersendiri. Keramaian dalam perebutan air ini melambangkan keinginan wanita untuk mendapatkan anak-anak dan para pria untuk membuahi. Memang itu sekedar keributan, air tetap utuh sampai ke rumah tempat dilakukannya upacara khitan, selajutnya digunakan untuk mencuci luka selepas berkhitan.

Dibaca : 14.693 kali.

Komentar untuk "kerajaan merina"

27 Feb 2010. rirish
2000 tahun yang lalu?? wah hebat sekali
17 Marc 2012. Vicky Dawinggha
Sebuah kebanggan tersendiri bagi saye, setelah mengetahui dan membacanye..

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password