Sabtu, 25 Maret 2017   |   Ahad, 26 Jum. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 5.547
Hari ini : 57.861
Kemarin : 60.495
Minggu kemarin : 301.775
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 101.985.630
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Prasasti Talang Tuo

a:3:{s:3:

Prasasti Talang Tuo ditemukan di desa Gandus pada 17 November 1920, terletak sekitar 6 km dari Kedukan Bukit, Sumatera Selatan, Indonesia. Prasasti Talang Tuo berangka tahun 606 Caka (684 M), menggunakan huruf Pallawa berbahasa Melayu kuno bertarikh 684 Masehi.

Prasasti ini terdiri atas 14 baris tulisan mengenai pemerintahan kerajaan Sriwijaya, mengungkapkan bahwa pada tahun 684 M. kerajaan Sriwijaya telah memperluas daerah kekuasaannya hingga ke tenggara. Setelah itu, Raja Sriwijaya tidak lagi memfokuskan diri pada peperangan untuk perluasan wilayah kerajaan, tapi lebih konsentrasi pada upaya memakmurkan negerinya. Sebagai contoh, raja membangun sebuah taman yang diberi nama Sriksetra, dan juga sebuah vihara. Berikut ini adalah terjemahan isi prasasti versi Slamet Muljana :

“Bahagia! Tahun Saka 606 pada hari kedua bulan terang caitra, itulah waktunya taman Sriksetra ini diperbuat, milik Dapunta Hyang Sri Jayanaga. Ini pesan Dapunta Hyang: Semua yang ditanam di sini; nyiur, pinang, enau, rumbia dan lain-lain yang (berupa) pohon, dimakan buahnya, serta aur, buluh betung dan yang semacam itu. Demikian pula taman-taman lainnya dengan sebat telaga; semuanya yang kuperbuat, semua perbuatan baik, dimaksud untuk kebahagiaan semua makhluk yang bergerak dan tidak bergerak. Hendaklah daya-upaya beliau yang sangat baik itu mendapat kesukaan di kemudian hari dengan jalan lain. Semoga beliau mendapat makanan dan air untuk minumnya. Semuanya yang dibuatnya; ladang, kebun luas, menghidupi binatang-binatang, ramai para abdi suburlah. Jauhkanlah beliau dari segala bencana, siksaan dan penyakit tidak dapat tidur. Bagaimanapun, barang usahanya hendaklah berhasil baik, binatang-binatang lengkap semua, beliau dari sakit dibuat awet muda. Dan lagi, hendaklah semua yang disebut abdi setia baktilah mereka pada beliau. Yang menjadi sahabat beliau, janganlah mereka itu mendurhaka pada beliau; yang menjadi bini beliau hendaklah tetap setia sebagai istri pada beliau. Dimanapun beliau berada, janganlah dilakukan curi, curang, bunuh dan zina di situ. Dan lagi, hendaklah beliau bertemu dengan khalyanamitra, membangun bodichita dengan maitra, menjadi pertapa pada dang hyang Ratnatraya, melainkan senantiasa teguh bersila dengan senang membangun tenaga, keuletan, pengetahuan tentang perbedaan semua sipakala dan pemusatan fikiran. Mudah-mudahan beliau memperoleh pengetahuan, ingatan dan kecerdasan dan ketetapan mahasatwa badan manikam vajracarira yang sakti tanpa umpama, kemenangan dan ingatan pada kelahiran yang telah lampau, indra lengkap, rupa penuh, kebahagiaan, kegembiraan, ketenangan, kata manis, suara Brahma, jadi laki-laki karena kekuatannya sendiri, hendaklah beliau memperoleh cintamanididhara, memperolah janmawacita, karmmawacita, akhirnya beliau mendapat anuttarabisamyaksambhodi.” 

Sumber :

Ensiklopedi Sejarah dan Kebudayaan Melayu, 1999. Dewan Bahasa dan Pustaka : Kuala Lumpur.
Dibaca : 21.212 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password