Minggu, 26 Maret 2017   |   Isnain, 27 Jum. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 4.543
Hari ini : 39.626
Kemarin : 80.968
Minggu kemarin : 301.775
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 101.998.615
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Masjid Wapauwe Pulau Ambon

1. Sejarah Pembangunan

Menurut catatan Yulianto Sumalyo, Masjid Wapauwe merupakan masjid yang masih asli sekaligus tertua di Indonesia. Kini, masjid ini terletak di Desa Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Pulau Ambon, Provinsi Maluku, Indonesia. Masjid ini didirikan pada tahun 1414 M, awal mulanya terletak di Desa Wawane, dan pada saat itu bernama Masjid Jamilu, yang mengambil nama dari pembawa Islam pertama di daerah tersebut.

Penamaan Wapauwe memiliki sejarahnya sendiri. Oleh karena bentuk arsitekturnya yang fleksibel alias dapat dirakit kembali, maka pada tahun 1614 masjid ini dipindahkan ke Desa Tahella, yang berjarak 6 kilometer sebelah timur Desa Wawane. Pemindahan tersebut tanpa disertai perubahan bentuk aslinya. Pemindahan tersebut dilaksanakan atas perintah pemuka agama pada saat itu bernama Imam Rajali, yang didasarkan atas pertimbangan agar dekat dengan pusat penyebaran ajaran Islam di Desa Tahella. Pemindahan masjid itu juga disebabkan karena adanya kolonialisme Belanda yang mengganggu kehidupan masyarakat di Tanah Hitu yang dimulai pada tahun 1580, setelah datangnya Portugis pada tahun 1512. Nama masjid kemudian berubah menjadi Masjid Imam Rajali.

Belanda berhasil menguasai seluruh wilayah Tanah Hitu pada tahun 1646 yang ditandai dengan kebijakan untuk menurunkan seluruh penduduk daerah pegunungan ke daerah pesisir (daratan). Sebagai konsekuensi kebijakan politik dan ekonomis tersebut, maka pada tahun 1664 masjid dipindahkan ke Desa Ateu yang kini disebut Desa Kaitetu. Tahun ini juga ditetapkan sebagai tahun berdirinya negeri Kaitetu. Tempat yang terakhir ini berada di daratan yang banyak ditumbuhi dengan pepohonan mangga hutan atau mangga berabu (dalam bahasa Kaitetu disebut Wapa). Nama masjid kemudian diganti menjadi Wapauwe karena mempunyai arti sebagai masjid yang didirikan di bawah pohon Wapa, yaitu pohon yang sangat rindang.

Menurut penelitian Abdul Bagir Zein, isi dalam masjid ini dihiasi dengan mushaf al-Qur‘an yang merupakan mushaf tertua di Indonesia, yaitu mushaf Imam Muhammad Arikulapessy (imam pertama masjid Wapauwe) yang selesai ditulis tangan di atas kertas Eropa pada tahun 1550. Di samping itu, juga terdapat mushaf Nur Cahya (cucu Imam Muhammad Arikulapessy) yang selesai ditulis pada tahun 1590. Nur Cahya juga menulis karya-karya lain yang juga ditempatkan di dalam masjid, yaitu kitab Barzanji (yang berisi tentang riwayat dan pujian-pujian kepada Nabi Muhammad SAW), kumpulan khutbah Ramadhan tahun I661, kalender Islam tahun 1407, dan manuskrip Islam lainnya yang telah berumur ratusan tahun. Di dalam masjid juga terdapat batu dan timbangan kayu untuk menentukan jumlah zakat fitrah bagi penduduk asli pada saat itu.

Masjid Wapauwe berdiri di wilayah yang selama ini dikenal sebagai peninggalan-peninggalan sejarah yang bernilai penting. Sekitar 150 meter arah utara masjid terdapat gereja tua peninggalan Belanda dan Purtugis yang telah hancur akibat konflik besar di Ambon pada tahun 1999. Sebelah utara gereja yang berjarak 50 meter juga terdapat sebuah benteng tua New Amsterdam peninggalan Belanda yang awalnya merupakan loji Portugis. Benteng itu adalah saksi sejarah Perang Wawane (1634-1643) dan Perang Kapahana (1643-1646).   

Masjid ini, oleh Dinas Pariwisata Pemerintah Provinsi Maluku telah dijadikan sebagai salah satu obyek wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi. Namun, sayangnya hingga kini masjid ini masih tidak luput dari sepinya minat wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, karena rekaman sejarah konflik di Ambon yang telah membuat daerah ini berantakan dan porak-poranda.

2. Lokasi

Berdasarkan sejarah awal mula dan aslinya, masjid ini terletak di Desa Wawane yang terletak di lereng Gunung Wawane. Masjid ini sempat pindah ke Desa Tahella, yang kemudian pindah lagi ke Desa Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Pulau Ambon, Provinsi Maluku, Indonesia, yang hingga kini masih eksis. Jadi, secara fisik masjid tersebut berada pada tempat yang terakhir ini. Tempat masjid ini berjarak 46,2 kilometer dari Kotamadya Ambon.

3. Luas

Bangunan inti masjid ini awalnya berukuran 9 x 9 meter (menurut sumber lain adalah 10 x 10 meter). Namun, pada renovasi yang kedua (tahun 1895) ditambahkan serambi yang berukuran 6,35 x 4,75 meter. Meski demikian, bangunan aslinya masih tetap terjaga.

4. Arsitektur

Bangunan masjid ini terbilang sangat unik. Arsitektur tradisionalnya bersifat elementer sehingga bagian-bagiannya mudah dilepas dan dapat dirakit kembali. Di samping itu, konstruksi masjid ini dirancang tanpa menggunakan paku, tapi hanya menggunakan pasak kayu pada setiap sambungan kayu. Konstruksi yang unik ini memungkinkan bangunan fisik masjid dapat dipindah-pindah. Puncak menara juga terbuat dari kayu yang berbentuk silindris dengan alur-alur dan molding. Pada bagian tertentu seperti atap dan rangkaian tali ijuk, tersusun membentuk silang-silang yang tersusun rapi.

Denah masjid ini adalah berupa bujur sangkar dengan empat kolom sebagai saka guru, disertai adanya atap tajug bertingkat yang dipengaruhi oleh arsitektur Jawa. Saka guru menggunakan kayu cukup besar berukuran 22 x 22 cm­2. Bagian atas saka guru ditutup dengan atap piramidal yang kemiringannya cukup tajam, di bagian lebih rendah terdapat atap bidang miring yang tidak setajam yang di atas. Di antara atap bagian atas dan atap bagian bawah terdapat beberapa jendela yang berfungsi sebagai ventilasi udara. Atap masjid awalnya hanya menggunakan gemutu dan ijuk. Keempat sudut  atap bagian bawah (berbentuk empat persegi) menjorok ke luar yang ujungnya melebar dan membentuk sebagian dari elips seperti daun. Di setiap ujungnya terdapat ukiran bertuliskan kalimat Allah dan Muhammad.

Dinding masjid terbuat dari kerangka kayu dan pelepah rumbia. Pada awalnya, masjid ini hanya berdinding tanah. Dalam perkembangannya kemudian diberi dinding gaba-gaba (pelepah sagu) dan setengah tembok dengan campuran kapur. Setelah itu, terjadi penambahan renovasi yang tidak merubah bentuk aslinya. Mihrab masjid berukuran 2 x 2 meter, seperti umumnya masjid-masjid lain di Jawa dan Bali. Mimbar masjid terbuat dari kayu yang bentuknya seperti kursi yang ukurannya cukup tinggi sehingga ada tangganya, dan di bagian atasnya dihiasi dengan lengkung-lengkung terbuat dari kayu. Bedug terbuat dari gelondongan kayu utuh yang panjangnya berukuran 2 meter. Bedug ini diikat dengan rotan dan digantung pada balok di atasnya.

5. Perencana

Pendirian Masjid Wapauwe ini diprakarsai oleh Pernada Jamilu, seorang ulama pendatang dari Jailolo, Maloku kie Raha (Maluku Utara) yang mengembangkan syiar Islam pertama kali di sekitar pegunungan Wawane, yang meliputi Desa Assen, Wawane, Atetu, Tahella, dan Nukuhaly. Sebelum kedatangan Jamilu, wilayah ini sudah didatangi mubaligh dari Arab. Atas perannya, awal mula masjid ini bernama Masjid Jamilu, sebelum akhirnya berulang kali diganti dengan nama-nama lain.

6. Renovasi

Masjid ini direnovasi pertama kali oleh pendirinya, Jamilu pada tahun 1464, tanpa merubah bentuk aslinya. Meski pernah mengalami dua kali pemindahan, bangunan inti masjid ini tetap asli. Bangunan ini mengalami renovasi kedua kali pada tahun 1895 dengan penambahan serambi di depan atau bagian timur masjid. Masjid berkali-kali mengalami renovasi sekunder setelah masa kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1959, atap masjid mulai menggunakan semen PC yang sebelumnya masih berkerikil. Setelah itu terjadi dua kali renovasi besar-besaran, yaitu pada Desember 1990-Januari 1991 dengan pergantian 12 buah tiang sebagai kolom penunjang dan balok penopang atap. Pada tahun 1993 dilakukan pergantian balok penadah kasau dan bumbungan, dengan tidak mengganti empat buah tiang sebagai kolom utama. Pada tahun 1997, atap masjid yang semula menggunakan seng diganti dengan bahan (semula) dari nipah. Atap nipah diganti setiap lima tahun sekali. Meski pernah direnovasi berkali-kali, masjid ini tetap asli karena tidak merubah bentuk inti masjid sama sekali. Sehingga, dapat dikatakan bahwa masjid ini sebagai masjid tertua di tanah air yang masih terpelihara keasliannya hingga kini.

(HS/sej/2/8-07)

Sumber:

  • Abdul Bagir Zein, Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia, (Jakarta: Gema Insani Press, 1999).
  • Yulianto Sumalyo, Arsitektur Mesjid dan Monumen Sejarah Muslim, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2006), cet. 2.
  • Republika (www.republika.co.id), 22 Januari 2006.

Kredit foto: www.wisatamelayu.com (Fotografer: Tuti Nonka)

____________

Informasi lain tentang Masjid Wapauwe bisa dibaca di sini (WisataMelayu.com).

Dibaca : 14.049 kali.

Komentar untuk "masjid wapauwe pulau ambon"

14 Okt 2013. masrur siddik
Alhamdulillah saya sempat shalat sunat di Masjid ini 22 Februari 2013 yang sebelumnya meninjau 'bendungan alam' Wae Ela. Bendungan tsb terbentuk oleh longsor bukit setelah diguyur hjan lebat pada Juli 2012. Material pebukitan berupa produk gunungapi Tersier tersusun oleh tufa breksi yg lapuk. Kewaspadaan atas bencana banjir bandang atau galodo telah dilakukan pemompaan air serta 'rencana pembuatan spill way' ..... namun Juli 2013 bnedungan jebol juga. Dampaknya .... Negeri Lima tempat berdirinya Masjdid (1414) , Gereja (1646?) dan benteng Amsterdam didekatnya ...... porak poranda...... Allahuakbar
04 Feb 2014. Muhamad Irbar Kardi
Koreksi terhadap nama yang di pakai yaitu: Tahella,yang sebenarnya Tehala
06 May 2014. Itang Navira Hatuwe
Saya anak asli Negeri Kaitetu, rumah saya pas di depan mesjid Wapauwe. Untuk Tahella sebenarnya Tehala. Maaf, dan juga desa kami tak pernah porak porandah oleh kerusuhan Ambon, dalam rekaman sejarah sekalipun. *_*

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password