Sabtu, 25 Maret 2017   |   Ahad, 26 Jum. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 2.760
Hari ini : 4.050
Kemarin : 72.414
Minggu kemarin : 301.775
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 101.986.510
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Candi Laras

a:3:{s:3:

Pada sekitar abad ke-19 M, S Muller, seorang bangsa Eropa pernah mengunjungi situs-situs purbakala di daerah yang disebut dengan tiga anak Sungai Barito yang bertemu di Muara Margasari, yaitu Sungai Nagara, Sungai Tapin, dan Sungai Bahan. Salah satu hasil laporannya menunjukkan bahwa di tepi Sungai Nagara terdapat peninggalan orang Kling beragama Hindu yang berasal dari Coromandel. Ada tiga lokasi yang menjadi obyek penelitiannya, yaitu Batu Babi, Tanah Tinggi, dan Candi.

Kunjungan Muller didasarkan pada naskah Hikayat Banjar. Dalam naskah ini disebutkan bahwa Ampu Jatmika meninggalkan negaranya (Kling) untuk mencari wilayah baru yang makmur. Sesampainya di Borneo, ia menyusuri Sungai Mahariban ke arah hulu hingga menuju tempat yang disebut dengan Candi Laras. Ia mendirikan pemukiman baru di daerah ini sekaligus mengangkat dirinya sebagai raja.

Berdasarkan penelitian Muller tersebut, Candi Laras ditemukan di Kecamatan Candi Laras Selatan, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Candi tersebut didirikan oleh Ampu Jatmika. Lokasi candi berada pada Tanah Tinggi yang terletak pada posisi koordinat 2 52-2,6” LS dan 114 56-0,7” BT. Di dalam candi terdapat potongan-potongan arca Batara Guru yang sedang memegang cupu, lembu Nandini, dan Lingga. Situs kedua yang ditemukan Muller adalah Pematang Bata, yaitu berada pada posisi 2 52-3,6” LS dan 114-6” BT dan ditemukan di wilayah yang disebut dengan nama Candi. Kedua situs tersebut terletak di pertemuan Sungai Nagara dan Sungai Tapin. Di sekitar kedua situs tersebut terdapat banyak anak sungai yang bermuara ke Sungai Nagara dan Sungai Tapin. Kedua situs ini berada pada lahan yang lebih tinggi dibandingkan lahan lainnya sehingga tidak bisa terendam air meskipun pada saat air pasang.

Candi ini diperkirakan merupakan candi kenegaraan karena letaknya yang strategis. Daerah di sekitar candi merupakan wilayah Kerajaan Negara Daha yang menganut agama Syiwa-Buddha. Di dekat candi ini (aliran Sungai Amas) juga terdapat arca Buddha Dipangkara dan tulisan beraksara Palawa yang ada kaitannya dengan agama Buddha yang berbunyi “siddha” atau “jaya siddha yatra”, artinya adalah “perjalanan ziarah yang diberkati”.

Konstruksi bangunan candi tidak hanya berupa batu atau bata saja seperti candi pada umumnya di tanah Jawa. Pada Candi Laras juga terdapat tonggak-tonggak kayu yang menggunakan kayu besi. Usia kayu tersebut berkisar antara 800-1.000 tahun yang lalu, atau telah ada sejak sekitar awal abad ke-11 sampai abad ke-13 M. Terdapat sedikitnya tujuh tiang kayu yang sebagian menyembul ke permukaan tanah. Tiang terbesar memiliki garis tengah 55 cm, sedangkan tiang terkecil berdiameter 20 cm. Konstruksi fondasi candi adalah dari kayu ulin yang panjangnya 14 meter membujur sejajar tanah dan diapit oleh dua tonggak kayu ulin yang berukuran lebih kecil. Konstruksi ini biasanya disebut dengan istilah “kalang-sunduk” (kalang = penahan, sunduk = kunci) yang artinya adalah fondasi untuk rumah panggung yang didirikan di atas rawa atau di atas sungai. Fondasi semacam ini sebenarnya adalah bentuk rumah tinggal yang telah menjadi ciri khas Kalimantan Selatan.

Candi Laras sempat hancur seiring perkembangan situasi politik keagamaan pada saat itu. Namun, kedua situs candi tersebut masih tersimpan aman di Museum Lambung Mangkurat, Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan. Museum ini merupakan peninggalan dari Kesultanan Banjar. Hingga kini, nama Candi Laras dijadikan nama kecamatan di Kabupaten Tapin, yaitu Kecamatan Candi Laras Utara dan Candi Laras Selatan. Candi Laras juga merupakan salah satu obyek wisata yang menarik di wilayah Kalimantan Selatan.

(HS/sej/11/9-07)

Sumber:

  • Nurhadi Rangkuti, “Candi di Rawa Kalimantan”, Kompas, 21 September 2005.
  • www.wikipedia.org.
Kredit foto : id.wikipedia.org
Dibaca : 9.036 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password