Rabu, 26 April 2017   |   Khamis, 29 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 6.231
Hari ini : 36.393
Kemarin : 65.310
Minggu kemarin : 401.091
Bulan kemarin : 5.093.107
Anda pengunjung ke 102.216.033
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Kesultanan Perak

istana iskandariah
Istana Iskandariah

1. Sejarah

Perak merupakan salah satu negeri tertua di Tanah Melayu. Belum ditemukan data yang memberikan informasi secara pasti tentang kapan mulai berdirinya Negeri Perak, sebagai cikal bakal Kesultanan Perak pada masa awal sejarah. Sejumlah pakar sejarah sering mengkaitkan Negeri Perak dengan nama sejenis logam, perak. Ada juga pakar sejarah lainnya, seperti Halim Nasir yang berpendapat bahwa nama Perak diambil dari nama Sungai Perak di Chegar Galah, yang di dalamnya terdapat sejenis ikan berwarna putih seperti perak.

Sejarah awal berdirinya Perak dapat ditelusuri melalui dua sumber utama, yaitu Sejarah Melayu dan Salasilah Perak. Kedua sumber tersebut mencatat bahwa Kesultanan Perak berdiri pada tahun 1528 M. Proses berdirinya Kesultanan Perak tidak terlepas dari peran Kesultanan Melaka ketika itu. Pada tahun 1551 M, Melaka jatuh di tangan Portugis. Sultan Mahmud Shah (Sultan Melaka ke-7 yang memerintah antara tahun 1488-1551 M) melarikan diri dan menetap di Kampar, yang sekarang masuk dalam wilayah Provinsi Riau. Ia kemudian diangkat sebagai Sultan Kampar.


Tun Saban, Pembesar Negeri Perak yang memerintah kawasan Hulu Sungai Perak hingga Kuala Temong, bersama dengan Nakhoda Kassim pergi menghadap Sultan Mahmud Shah. Tun Saban meminta agar putra Sultan Mahmud Shah yang bernama Muzaffar Shah bersedia memimpin di Perak. Para pembesar Perak merasa perlu adanya kepemimpinan yang berasal dari keturunan Malaka karena kebesaran dan kewibawaan sultan-sultan Malaka serta struktur pemerintahan Kesultanan Malaka pada saat itu yang telah berpengaruh besar dalam keseluruhan wilayah Tanah Melayu.

Pada tahun 1528 M, Muzaffar Shah kemudian diangkat sebagai Sultan Perak I dengan gelar Paduka Seri Sultan Muzaffar Shah I. Ibukota Kesultanan Perak berpusat di Tanah Abang. Berdasarkan paparan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa Kesultanan Perak merupakan kelanjutan dari Kesultanan Malaka yang telah jatuh di tangan Portugis pada tahun 1551 M.

2. Silsilah

  1. Sultan Muzaffar Shah (1528-1540 M)
  2. Sultan Mansur Shah I (1549-1577 M)
  3. Sultan Ahmad Tajuddin (1577-1584 M)
  4. Sultan Tajul Ariffin Shah (1584-1594 M)
  5. Sultan Alauddin Shah (1594-1603 M)
  6. Sultan Mukaddam Shah (1603-1619 M)
  7. Sultan Mansur Shah II (1619-1627 M)
  8. Sultan Mahmud Shah (1627-1630 M)
  9. Sultan Salehuddin Shah (1630- 635 M)
  10. Sultan Muzzaffar Shah II (1636-1653 M)
  11. Sultan Mahmud Iskandar Shah (1653-1720 M)
  12. Sultan Alauddin  Mughayat Shah (1720-1728 M)
  13. Sultan Mudzaffar Shah III (1728-1744 M)
  14. Sultan Muhammad Shah (1744-1750 M)
  15. Sultan Iskandar Zulkarnain (1754-1764 M)
  16. Sultan Mahmud Shah (1764-1771 M)
  17. Sultan Alauddin Mansur Shah (1771-1786 M)
  18. Sultan Ahmaddin Shah (1786-1806 M)
  19. Sultan Abdul Malek  Shah (1806-1818 M)
  20. Sultan Abdullah Mu‘azzam Shah (1818-1830 M)
  21. Sultan Shahabuddin Ri‘ayat Shah (1830-1851 M)
  22. Sultan Abdullah Muhammad Shah (1851-1857 M)
  23. Sultan Ja‘afar Shafuddin  Shah (1857-1865 M)
  24. Sultan Ali Al-Mukammil Innayat Shah (1865-1871 M)
  25. Sultan Ismail Mu‘abiddin Ri‘ayat Shah (1871-1874 M)
  26. Sultan Abdullah Muhammad Shah (1874-1877 M)
  27. Sultan Yusuf Sharifuddin Mu‘azal Shah (1877-1887 M)
  28. Sultan Idris Murshidul Azam Shah (1887-1916 M)
  29. Sultan Abdul Jalil Nasiruddin Shah (1916-1918 M)
  30. Sultan Alang Iskandar Shah (1918-1938 M)
  31. Sultan Abdul Aziz Al-Mutasimbillah Shah (1938-1948 M)
  32. Sultan Yusuff Izzuddin Shah (1948-1963 M)
  33. Sultan Idris Iskandar Shah (1963-1984 M)
  34. Sultan Azlan Muhibbuddin Shah (1984-Sekarang)

3. Periode Pemerintahan

Kesultanan Perak telah berdiri selama hampir lima abad, yaitu terhitung sejak tahun 1528 M hingga kini. Kesultanan Perak bergabung dalam federasi Kerajaan Malaysia pada tanggal 1 Februari 1948 M. Pada tanggal 16 September 1963 M, kesultanan ini secara resmi menjadi sebuah negeri persekutuan Malaysia dengan nama Negeri Perak Darul Ridzuan. Sekarang yang memimpin di Perak Darul Ridzuan adalah Sultan Azlan Muhibbuddin Shah.


Dalam Hikayat Misa Melayu, Sultan Iskandar Zulkarnain (1754-1764 M) digambarkan sebagai sosok pahlawan yang memiliki sifat-sifat ideal. Sultan Iskandar Zulkarnain berperan besar dalam mempersatukan kembali Kesultanan Perak yang pernah terpecah menjadi dua bagian akibat perang. Pada masanya, Kesultanan Perak mengalami masa kegemilangan. Sebagian pakar sejarah menyebut masa itu sebagai masa keemasan. 

Inggris pernah berkuasa di Kesultanan Perak selama beberapa masa kepemimpinan sultan-sultan Perak. Besarnya pengaruh Inggris di negeri-negeri Melayu disebabkan karena Inggris telah lama mengkaji struktur politik, sosial, dan ekonomi masyarakat Melayu. Setelah mengetahui berbagai kelemahan negeri-negeri Melayu, Inggris akhirnya menguasai negeri-negeri tersebut, termasuk Kesultanan Perak. Kekuasaan Inggris di Perak semakin kuat ketika pada masa pemerintah Sultan Ali al-Mukammil Innayat Shah (1865-1871 M) terjadi perselisihan perebutan tahta kekuasaan.

Setelah Sultan meninggal dunia pada tahun 1871 M, tahta kekuasaan seharusnya dipegang oleh putranya, Raja Muda Abdullah yang ketika itu masih menetap di Batak Rabit, sebuah tempat di Hilir Perak, Kesultanan Perak, Malaysia, namun Raja Muda Abdullah menolak pulang ke Sayong untuk diangkat sebagai Sultan Perak. Penolakan tersebut mengakibatkan jenazah Sultan Ali al-Mukammil Innayat Shah baru dimakamkan setelah satu bulan kemudian. Hal itu disebabkan karena para pembesar kesultanan ketika itu tidak kunjung menerima berita kesediaan Raja Muda Abdullah. Karena kondisi yang demikian akut, akhirnya para pembesar kesultanan memutuskan untuk memakamkan  Sultan Ali al-Mukammil Innayat Shah dan mengangkat Raja Bendahara Ismail sebagai Sultan Perak dengan gelar Sultan Ismail Mu‘abiddin Ri‘ayat Shah (1871-1874 M).

Pengangkatan tersebut ternyata tidak disukai oleh Raja Muda Abdullah. Belum ditemukan data tentang apa dan mengapa yang menjadi ketidaksukaan Raja Muda Abdullah dengan pengangkatan itu. Akhirnya, terjadi perselisihan antara Raja Muda Abdullah dan Sultan Ismail. Perselisihan itu berujung pada diangkatnya Raja Abdullah sebagai Sultan Perak dengan gelar Sultan Abdullah Muhammad Shah (1874-1877 M). Di samping adanya perselisihan kepentingan kekuasaan, di Kesultanan Perak juga terjadi perselisihan dan peperangan antar pedagang gelap dari China, Ghee Hin, dan Hai San di sekitar Kelian Puah dan Kelian Baharu yang juga menyebar ke daerah-derah lain (sepanjang tahun 1861-1862 M dan 1871-1874 M).

Rupanya, kondisi tersebut dimanfaatkan oleh Inggris untuk mencampuri urusan dalam negeri Perak. Ketika berupaya melakukan politik campur tangan tersebut, Inggris memberikan alasan kepada penguasa di Perak bahwa kepentingan rakyat Perak jangan dikorbankan, dan kekayaan sumber daya alam yang ada sepenuhnya dapat dieksplorasi untuk kepentingan perekonomian kesultanan. Dengan strategi yang amat jitu ini, pihak Inggris dapat mempengaruhi Raja Muda Abdullah dan beberapa pembesar Perak untuk berunding di Pulau Pangkor. Pedagang-pedagang dari Ghee Hin dan Hai San juga turut serta dalam perundingan tersebut. Pada tanggal 20 Februari 1874 M, lahirlah Perjanjian Pangkor yang sangat berpengaruh dalam masa depan kehidupan masyarakat Melayu pada umumnya dan masyarakat Perak pada khususnya.

Dalam perjanjian tersebut ditentukan bahwa Sultan Perak hanya bertindak sebagai pemimpin agama Islam dan adat istiadat Melayu saja. Urusan pemerintahan dan ekonomi kesultanan dipegang oleh Residen Inggris, yaitu Gubernur Negeri Selat, yang diserahi tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan rancangan pembangunan Sistem Residen. Residen Inggris pertama yang memulai tugas itu adalah J.W.W.Birch. Dengan munculnya perjajian tersebut, ternyata perselisihan antara kelompok yang bertikai di Kesultanan Perak semakin mereda.

Akan tetapi, lambat-laun Sultan Abdullah dan para pembesar kesultanan mulai merasakan penyesalan yang amat dalam karena mereka pernah menandatangani Perjanjian Pangkor. Penyesalan itu dipicu oleh arogansi pihak Residen Inggris yang berhak sepenuhnya mengurusi masalah pemerintahan dan ekonomi dalam negeri Perak, sementara Sultan Abdullah diberi kewenangan terbatas, yaitu hanya mengurusi masalah keislaman dan adat-istiadat Melayu. Pada tanggal 2 November 1875 M, mereka akhirnya memutuskan untuk membunuh J.W.W Birch dan para pengikutnya di Pasir Salak. Sebagai dampaknya, pihak Inggris melancarkan serangan terhadap orang-orang Perak yang telah membunuh residennya. Di bawah pimpinan Kapten Speedy, tentara Inggris mengepung perairan Perak. Mereka kemudian membakar rumah-rumah warga, menyerang kota pertahanan Perak di Batak Rabit, dan membunuh masyarakat Perak yang ditemui di mana-mana. Dengan modal persenjataan yang terbatas, tentara dan masyarakat Perak tetap melakukan perlawanan demi mempertahankan harkat dan martabat negeri. Peperangan tersebut terus berlangsung hingga tahun 1876 M.

4. Wilayah Kekuasaan

Wilayah kekuasaan Kesultanan Perak meliputi sembilan daerah, yaitu: Batang Padang (2,730 km2), Kinta (1,958 km2), Kuala Kangsar (2,541 km2), Larut Matang/Selama (2,103 km2), Hilir Perak (1,727 km2), Keriang (938 km2),  Manjung (1,168 km2), Hulu Perak (6,558 km2), dan Perak Tengah (1,282 km2). Luas keseluruhan wilayah Kesultanan Perak adalah 21,005 km2 (2.1 juta hektar).


5. Struktur Pemerintahan

Struktur pemerintahan Kesultanan Perak secara umum sama dengan struktur pemerintahan yang berlaku di Kesultanan Malaka. Sultan merupakan penguasa tertinggi di Kesultanan Perak. Ia dibantu oleh sejumlah pembesar kesultanan. Ada 12 pembesar kesultanan dengan gelarnya masing-masing, sebagaimana berikut ini:

  1. Yang Amat Berhormat Orang Kaya Bendahara Seri Maharaja wakil al Sultan Wazir Kabir (pembesar ini pada masa Sultan Muzaffar Shah adalah Megat Terawis)
  2. Yang Amat Berhormat Orang Kaya Besar Maharaja Di Raja
  3. Yang Amat Berhormat Orang Kaya Temenggong Paduka Raja
  4. Yang Amat Berhormat Orang Kaya Menteri Paduka Tuan
  5. Yang Berhomat Orang Kaya-kaya Laksamana Raja Mahkota
  6. Yang Berhomat Orang Kaya-kaya Sri Adika Raja Shahbandar Muda
  7. Yang Berhomat Orang Kaya-kaya Panglima Kinta Sri Amar di-Raja
  8. Yang Berhomat Orang Kaya-kaya Panglima Bukit Gantang Sri Amar Bangsa di-Raja
  9. Yang Berhomat Orang Kaya-kaya Shahbandar Paduka Indra
  10. Yang Berhomat Orang Kaya-kaya Setia Bijaya di-Raja
  11. Yang Berhomat Orang Kaya-kaya Imam Paduka Tuan
  12. Yang Berhomat Orang Kaya-kaya Mahakurnia Indra di-Raja

Proses suksesi kepemimpinan di Kesultanan Perak boleh dibilang lebih kompleks dibandingkan dengan negeri-negeri lain di kawasan Malaysia. Sultan yang sedang berkuasa mengangkat pangeran-pangeran dari keturunannya untuk memperoleh gelar-gelar kebangsawanan. Susunan pangeran tersebut didasarkan pada perintah sultan yang sangat ketat. Namun demikian, sultan yang berkuasa berikutnya dapat menentukan kebijakan lain soal susunan tersebut. Berikut ini adalah susunan pangeran-pangeran sultan yang telah diterapkan sejak tanggal 25 Februari 1953 M:

  1. Duli Yang Teramat Mulia (Tuanku) Raja Muda, Wakil us-Sultan, Wazir ul-Azam Negara Perak Dar ur-Ridzwan
  2. Duli Yang Amat Mulia Raja di-Hiler
  3. Yang Amat Mulia Raja Kechil Besar
  4. Yang Mulia Raja Kechil Sulong
  5. Yang Mulia Raja Kechil Tengah
  6. Yang Mulia Raja Kechil Bongsu.

6. Kehidupan Sosial-Budaya

Jumlah penduduk di Kesultanan Perak adalah 1,930,382 yang terdiri atas: Batang Padang (152,137), Kinta (751,825), Kuala Kangsar (154,048), Larut Matang/Selama (273,321), Hilir Perak (191,098), Keriang (52,651),  Manjung (191,004), Hulu Perak (82,195), dan Perak Tengah (82,103).

Kesultanan Perak dikenal dengan hasil ekonominya berupa biji timah. Dengan hasil bumi ini, Perak menjadi kesultanan yang kian berkembang dan terus maju. Pada masa lalu, kekayaan sumber daya alam ini mendatangkan banyak minat kerajaan lain untuk menguasasi Perak. Pada tahun 1575 M, Kesultanan Aceh pernah menyerang Perak dan menjadikannya sebagai negeri jajahan. Pada tahun 1651 M, Belanda pernah mengepung Perak dan memaksa Sultan Muzzaffar Shah II agar mau menandatangani perjanjian dengan Hindia Belanda (VOC). Dalam perkembangan selanjutnya, tepatnya pada tahun 1953 M, perjanjian antara Perak dan Hindia Belanda ditandatangani antara Sultan Iskandar Zulkarnain dan Thomas Acheppers. Akibat dari perjanjian tersebut, Perak setuju menjual biji timah ke Belanda.


Kesultanan Perak memiliki tiga bentuk warisan seni dan kebudayaan Melayu, yaitu:

1. Seni Tampak atau Seni Rupa

Seni tampak atau seni rupa mencakup bangunan apa saja yang mempunyai struktur, seperti kota, istana, masjid, makam, dan sebagainya. Dalam lanskap istana kesultanan Melayu, kota memainkan peran yang sangat penting karena di dalam kota ini masjid dan istana didirikan. Sultan melakukan tugas-tugas pemerintahan di istana kesultanan.

Sultan Iskandar Zulkarnain (1754-1764 M) pernah memerintahkan para pembesar kesultanan agar mengurus istana kesultanan di Pulau Indera Sakti. Tiga pembesar kesultanan, Bendahara Megat Abu Kassim, Temenggong Tan Bantan, dan Orang Kaya Menteri Sharif Hussain, mundur dari jabatannya karena merasa tidak sanggup memikul tanggung jawab tersebut. Padahal, istana tersebut dianggap sebagai istana paling indah di zaman itu.

2. Seni Persembahan

Seni persembahan merupakan seni yang melibatkan gerakan atau aktivitas. Yang termasuk dalam seni ini adalah tarian, nyanyian, permainan rakyat, dan sebagainya. Seni ini biasanya dilakukan sebagai pengiring upacara adat istiadat, baik oleh kalangan istana kesultanan maupun masyarakat umum. Salah satu contoh seni ini adalah adat melenggang perut ketika perempuan mengandung genap tujuh bulan.

3. Seni Bahasa, yang terdiri dari seni peribahasa, pantun, syair, dan sebagainya.

 (HS/sej/39/01-08)

Sumber:

  • “Brief History”, dalam http://www.4dw.net/royalark/Malaysia/perak.htm, diakses tanggal 23 Januari 2008.
  • “Negeri Perak”, dalam http://ms.wikipedia.org/wiki/Negeri_Perak, diakses tanggal 17 Januari 2008.
  • “Sejarah Perak”, dalam http://ms.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Perak, diakses tanggal 17 Januari 2008.
  • “Genealogical Tree of The Royal Families of Perak State”, dalam http://www.geocities.com/aizaris/genealogy, diakses tanggal 18 Januari 2008.
  • Yatim, Othman, “Sejarah Kebudayaan Perak: Unsur-Unsur Kebudayaan dalam Misa Melayu”, dalam Prosiding Seminar Antarbangsa Kesultanan Melayu Nusantara: Sejarah dan Warisan, Kuantan, Pahang Darul Makmur, 8-11 Mei 2005.

Kredit foto :

  • www.perak.gov.my
  • Dr Farish Ahmad-Noor (Badrol Hisham Ahmad-Noor)
    Senior Fellow for the Contemporary Islam Programme;
    S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS),
    Nanyang Technological University (NTU),
    Block S4, Level B4, Nanyang Avenue,
    Singapore 639798
Dibaca : 48.204 kali.

Komentar untuk "kesultanan perak"

20 Feb 2010. yahya
Dalam buku sejarah diMalaysia menyatakan Kerajaan Melayu Melaka jatuh ketangan Portugis pada tahun 1511M.
04 Feb 2013. imam
asalammualaikum wr wb,,bisakah ditampilkan foto foto,,raja, makam, dan,lainnya...tp semua sudah memuaskan,thanks

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password