Rabu, 23 Agustus 2017   |   Khamis, 30 Dzulqaidah 1438 H
Pengunjung Online : 4.514
Hari ini : 33.215
Kemarin : 74.347
Minggu kemarin : 334.268
Bulan kemarin : 10.532.438
Anda pengunjung ke 103.045.389
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Istana Al Mukarrammah Sintang


1. Sejarah Pembangunan

Kerajaan Sintang didirikan oleh Demong Irawan pada abad ke-13 (+ 1262 M). Pendirian kerajaan baru ini ditandai dengan penanaman Batu Kundur oleh Demong Irawan, yaitu batu berbentuk phallus yang hingga kini masih dikeramatkan oleh masyarakat sekitar. Batu Kundur tersebut saat ini berada tepat di depan kompleks Istana Al Mukarrammah Sintang.

Bangunan istana atau pusat pemerintahan Kerajaan Sintang yang dibangun oleh Demong Irawan berada di wilayah pertemuan Sungai Melawi dan Sungai Kapuas. Daerah inilah yang menurut kosakata Dayak disebut senetang, yang berarti daerah di mana terdapat pertemuan beberapa aliran sungai. Lambat laun penyebutan Senetang kemudian berganti menjadi Sintang. 


Demong Irawan yang juga dikenal dengan julukan Jubair Irawan I merupakan keturunan kesembilan Aji Melayu, seorang penyebar agama Hindu dari tanah Jawa yang menyebarkan agama Hindu di kawasan Sintang dan sekitarnya. Hingga pemerintahan Abang Tembilang atau Pengeran Agung (sekitar abad ke-17), raja dan kerabat Kerajaan Sintang masih memeluk agama Hindu. Baru pada pemerintahan Pangeran Tunggal, agama Islam mulai dipeluk oleh raja dan kerabat istana. Kemudian pada masa pemerintahan Sultan Nata Muhammad Syamsuddin Sa‘adul Khairiwaddin, yaitu raja pertama yang menggunakan gelar sultan, perubahan-perubahan mendasar telah dilakukan dalam Kerajaan Sintang, antara lain menetapkan Kerajaan Sintang sebagai kerajaan Islam, pimpinan kerajaan bergelar sultan, menyusun undang-undang kerajaan, mendirikan masjid, serta membangun istana kerajaan.

Sejak masa Sultan Nata ini pembangunan kompleks istana mulai dibangun, meskipun masih dengan bentuk dan arsitektur sederhana, yaitu mengadopsi Rumah Panjang, rumah khas masyarakat Dayak. Baru pada masa pemerintahan Raden Abdul Bachri Danu Perdana, dibangunlah gedung istana yang baru dengan nama Istana Al Mukarrammah. Istana ini dibangun pada tahun 1937. Sampai saat ini, kompleks Istana Sintang masih terawat dengan baik.


2. Lokasi

Istana Al Mukarrammah Sintang berada di Kampung Kapuas Kiri Hilir, Kecamatan Sintang, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Indonesia.

3. Luas

Luas bangunan istana ini sekitar 652 m2.

4. Arsitektur

Sebelum dibangun seperti saat ini, Istana Sintang sebelumnya berbentuk rumah panjang khas masyarakat Dayak. Pembangunan Istana Sintang pada masa Raden Abdul Bachri Danu Perdana (tahun 1937) kemudian mengambil bentuk yang sama sekali baru, yaitu perpaduan antara arsitektur Rumah Tinggal Belanda dan Bangunan Tropis.

Meski demikian, konstruksi utama bangunan istana masih menggunakan struktur rangka kayu dengan pondasi tiang tongkat bersepatu beton. Dinding istana terbuat dari semen, sementara lantai terbuat dari bahan kayu belian dengan ketebalan + 3 cm. Konstruksi atap istana menggunakan kayu dengan atap sirap dari kayu belian. Atap bangunan juga diperkuat dengan plafon yang terbuat dari semen asbes.


Kompleks istana ini terbagi ke dalam tiga bangunan yang simetris, dengan bangunan utama berada di bagian tengah agak ke depan, sementara dua bangunan lainnya mengapit di kedua sisi bangunan utama. Fungsi ruang pada bangunan utama terdiri dari serambi depan, ruang tamu, ruang pribadi sultan, serta serambi belakang. Bangunan pengiring di sisi barat bangunan utama berfungsi sebagai ruang istirahat dan ruang keluarga sultan, sementara yang di sisi timur difungsikan sebagai  ruang tidur tamu sultan.


5. Perencana

Bangunan istana dirancang oleh seorang arsitek dari Belanda (nama tidak tercatat). Gambar perencanaan bangunan yang dibuat oleh Pemerintah Belanda masih tersimpan sebagai koleksi salah satu kerabat Istana Sintang.

6. Renovasi

Dalam proses pengumpulan data.

7. Koleksi Istana

Selain bangunan istana yang masih bertahan hingga sekarang, Istana Sintang juga memiliki koleksi benda-benda peninggalan kerajaan, antara lain:


  • Batu Kundur, yaitu batu peninggalan Demong Irawan sebagai lambang berdirinya Kerajaan Sintang yang terletak di depan istana.
  • Barang hantaran Patih Logender (perwira dari Majapahit) ketika meminang Putri Dara Juanti (puteri Demong Irawan), antara lain seperangkat gamelan, patung garuda dari kayu, serta gundukan tanah dari Majapahit.
  • Koleksi beberapa meriam dalam berbagai ukuran, seperti meriam Raja Suka, meriam Raja Beruk, dan meriam peninggalan Portugis.
  • Berbagai peralatan dari logam, yaitu talam, kempu, dan bokor.
  • Senjata yang meliputi berbagai macam tameng dan tombak.
  • Naskah Al-Quran tulisan tangan pada masa Sultan Nata.
  • Berbagai macam stempel dan surat-surat kerajaan.
  • Foto-foto dan lukisan Raja-raja Sintang.
  • Salinan Undang-undang Adat Kerajaan Sintang yang dibuat pada masa pemerintahan Sultan Nata (disalin ulang pada tahun 1939).

(Lukman Solihin/Sej/01/01-09)

Informasi lain tentang Istana Al Mukarrammah Sintang dapat dibaca di sini.

Sumber:

  • Wibowo, Taufik (tanpa tahun), “Kesultanan Sintang”, dalam Istana-istana di Kalimantan Barat, naskah tidak diterbitkan.
  • Syahzaman dan Hasanuddin (2003), Sintang dalam Lintasan Sejarah, Pontianak: Romeo Grafika.
  • Pengurus Masjid Jamik Sultan Nata (1990), Sejarah Berdirinya Masjid Jamik Sultan Nata Sintang, naskah tidak diterbitkan.

Kredit foto: Koleksi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (fotografer: Aam Ito Tistomo)

_____________

Informasi lain tentang Kesultanan Sintang bisa dibaca di sini dan informasi lain tentang Istana Al Mukarrammah Sintang bisa dibaca di sini (WisataMelayu.com)

Dibaca : 19.390 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password