Kamis, 27 November 2014   |   Jum'ah, 4 Shafar 1436 H
Pengunjung Online : 832
Hari ini : 2.972
Kemarin : 20.967
Minggu kemarin : 160.999
Bulan kemarin : 718.966
Anda pengunjung ke 97.386.850
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Candi Muaro Jambi


Candi Muaro Jambi merupakan kawasan candi Melayu bercorak Hindu-Buddha terluas di Indonesia yang berada di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Diperkirakan, kompleks percandian Muaro Jambi ini merupakan peninggalan kebudayaan dari peradaban Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Malayu, serta merupakan tempat pertemuan lintas bangsa dan lintas budaya.

1. Asal-usul

Situs Purbakala Kompleks Percandian Muaro Jambi adalah suatu kompleks percandian yang bercorak Buddha dan Hindu yang terdapat di Provinsi Jambi. Menurut penelitian para ahli purbakala, situs ini merupakan kompleks percandian Hindu-Buddha terbesar di Indonesia dan menjadi kawasan candi peninggalan budaya yang paling terawat di Sumatra. Para arkeologi dan sejarawan memperkirakan bahwa Situs Purbakala Kompleks Percandian Muaro Jambi ini merupakan peninggalan dari peradaban Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Malayu (George Coedes, 1930).

Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai salah satu imperium kerajaan Buddha terkuat di Nusantara yang eksis sejak abad ke-7 M. Kerajaan maritim yang berpusat di Palembang, Sumatra Selatan, ini memiliki banyak daerah taklukan yang membentang dari Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa, hingga pesisir Borneo. Sedangkan Kerajaan Malayu adalah suatu peradaban Melayu lama di Sumatra yang dalam perjalanan riwayatnya sering mengalami pasang surut dan berkali-kali mengalami perpindahan pusat pemerintahan. Pada abad ke-7 M, ibukota Kerajaan Malayu diketahui terletak di Minanga (Sumatra Selatan), pada abad ke-13 pusat pemerintahan Kerajaan Malayu dipindahkan ke Dharmasraya (Jambi), dan selanjutnya, pada abad ke-15 diketahui berada di Suruaso atau yang kemudian dikenal sebagai daerah Pagaruyung di Sumatra Barat (Uli Kozok, 2006).

Ditemukannya kompleks percandian Muaro Jambi pertamakali dilaporkan oleh SC Crooke, seorang letnan Inggris. Crooke menemukan peninggalan peradaban masa kuno itu ketika sedang melakukan tugas ketentaraannya, yakni memetakan aliran sungai untuk kepentingan militer. Pada waktu itu, Crooke mendapat laporan dari penduduk setempat tentang adanya peninggalan kuno di Desa Muaro Jambi. Selanjutnya, pada kurun tahun 1935-1936, seorang sarjana Belanda bernama FM Schnitger yang sedang melakukan ekspedisi di wilayah Sumatra sempat mengunjungi dan melakukan penggalian di situs Candi Muaro Jambi. Sejak saat itulah, kompleks percandian Muaro Jambi mulai lebih dikenal. Namun, penemuan situs purbakala ini tidak ditindaklanjuti dengan serius oleh pemerintah kolonial yang berkuasa saat itu. Lama setelah Indonesia Merdeka dan ketika Orde Baru berkuasa, barulah dilakukan pemugaran di kompleks Candi Muaro Jambi oleh Pemerintah Republik Indonesia. Proyek pemugaran yang dimulai pada tahun 1975 ini dipimpin oleh R. Soekmono, seorang arkeolog Indonesia yang juga pernah memimpin pemugaran Candi Borobudur di Jawa Tengah.

Di lokasi Situs Purbakala Kompleks Percandian Muaro Jambi terdapat 9 buah bangunan candi yang telah selesai dipugar. Kesembilan bangunan candi bercorak Buddha itu adalah Candi Kotomahligai, Candi Kedaton, Candi Gedong Satu, Candi Gedong Dua, Candi Telago Rajo, Candi Tinggi (dipugar pada tahun 1978 dan selesai pada tahun 1987), Candi Gumpung (mulai dipugar pada tahun 1982 dan selesai pada tahun 1988), Candi Astano (mulai dipugar pada tahun 1985 dan selesai pada tahun 1989), dan Candi Kembar Batu. Candi Tinggi mulai dipugar pada tahun 1978 dan selesai pada tahun 1987, Candi Gumpung mulai dipugar pada tahun 1982 dan selesai pada tahun 1988, Candi Astano mulai dipugar pada tahun 1985 dan selesai pada tahun 1989, sedangkan pemugaran Candi Kembar Batu dimulai pada tahun 1991 dan selesai pada tahun 1995. Sebenarnya masih banyak candi-candi di kompleks percandian Muaro Jambi ini. Sampai awal abad ke-21 M, di kompleks percandian Muaro Jambi telah diketahui terdapat 110 bangunan candi yang terdiri dari kurang lebih 39 kelompok candi. Beberapa meter dari tempat lokasi candi-candi itu, tepatnya di Candi Telago Rajo, terdapat danau buatan yang dulu digunakan sebagai tempat pemandian raja (CandiMuaroJambi.com).

Belum diketahui secara jelas kapan kompleks percandian ini didirikan. Akan tetapi, para ahli sejarah dan arkeolog memperkirakan Candi Muaro Jambi merupakan peninggalan budaya dari abad ke-9 hingga abad ke-12 M. Namun, ada juga beberapa bangunan candi yang usianya jauh lebih tua, salah satunya adalah Candi Gumpung yang diperkirakan sudah berdiri sejak abad ke-4 M. Para sejarawan menyimpulkan bahwa di wilayah berdirinya kompleks Candi Muaro Jambi dulunya terdapat peradaban yang besar, bahkan menjadi tempat bertemunya berbagai bangsa lintas budaya. Hal tersebut ditengarai dari ditemukannya banyak artefak atau benda-benda bersejarah dari berbagai bangsa di dunia, di antaranya adalah berasal dari Persia (sekarang menjadi wilayah negara Iran), Tiongkok (Republik Rakyat Cina), dan India.

Candi Muaro Jambi merupakan kompleks percandian bercorak Buddha, kendati terdapat juga beberapa bangunan yang terpengaruh oleh ajaran agama Hindu. Agama Buddha Mahayana Tantrayana diperkirakan menjadi agama mayoritas yang dianut oleh sebagian besar masyarakat di wilayah tersebut pada zamannya. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya banyak lempengan dengan tulisan “wajra” pada beberapa candi berjenis mandala. Kompleks percandian Muaro Jambi terletak di tepi Sungai Batanghari, lebih tepatnya di dalam tanggul alam yang ada di sungai tersebut. Kompleks percandian Muaro Jambi berisi candi-candi yang sebagian besar masih berupa gundukan tanah (menapo) yang belum diokupasi. Gundukan tanah buatan manusia yang menyerupai gunung kecil itu oleh masyarakat setempat disebut dengan nama Bukit Sengalo atau Candi Bukit Perak.

Selain bangunan candi, di kawasan Situs Purbakala Kompleks Percandian Muaro Jambi ini dikelilingi oleh sedikitnya 6 kanal atau parit-parit kuno buatan manusia. Oleh penduduk di sana, kanal-kanal itu disebut dengan nama Parit Sekapung, Parit Johor, dan Sungai Melayu. Namun kini, sebagian besar dari parit-parit yang ada di sana sudah mengalami pendangkalan meskipun beberapa tahun sebelumnya penduduk masih memanfaatkan alur-alur kanal kuno itu sebagai sarana transportasi dengan menggunakan perahu tradisional. Kenyataan ini bisa menjadi patokan bahwa bukan tidak mungkin pada masa lalu, kanal-kanal itu dibuat sebagai sarana transportasi dan distribusi pangan, selain sebagai sistem drainase atau pengairan untuk kawasan rawa-rawa. Ada pula yang berpendapat bahwa parit-parit itu berfungsi strategis sebagai sistem pertahanan kompleks percandian yang menjadi salah satu pusat peradaban pada masa itu.

Di kawasan percandian Muaro Jambi juga ditemukan kolam yang digunakan sebagai tempat penampungan air. Ada juga gundukan tanah (menapo) yang di dalamnya terdapat struktur batu bata kuno. Hingga kini, puluhan menapo itu masih “dimiliki” oleh masyarakat setempat. Di kompleks percandian Muaro Jambi juga ditemukan berbagai jenis peninggalan budaya lainnya, baik berupa arca, berbagai jenis peralatan, dan lain sebagainya. Di area Situs Purbakala Kompleks Percandian Muaro Jambi terdapat bangunan museum yang digunakan untuk menyimpan berbagai jenis benda cagar budaya yang ditemukan di kompleks candi. Beberapa benda yang disimpan di museum itu misalnya Arca Prajnyaparamita yang merupakan arca perlambang dewi kesuburan. Arca berbentuk sosok perempuan, namun sejak pertama kali ditemukan hingga sekarang tidak berkepala, ini ditemukan di kompleks Candi Gumpung.Berikutnya adalah Arca Dwarapala, yakni arca yang dimaknai sebagai arca penjaga bangunan suci. Arca Dwarapala yang diperkirakan berasal dari abad ke-13 M ini ditemukan pada bulan April 2002 di Candi Gedong Dua. Ada juga Arca Jagopati, digambarkan sebagai arca prajurit, yang ditemukan di kompleks Candi Gedong Satu (CandiMuaroJambi.com).

Selain beberapa arca yang telah disebutkan di atas, di kawasan Situs Purbakala Kompleks Percandian Muaro Jambi juga masih ditemukan banyak sekali berbagai macam benda cagar budaya, seperti Arca Gajahsimha, padmasana (tempat duduk arca), umpak batu, lumpang atau lesung batu, gong perunggu dengan tulisan Cina, mantra Buddhis yang ditulis pada kertas emas, berbagai jenis keramik dari negeri-negeri lain, tembikar, berkeping-keping mata uang dari Tiongkok, manik-manik, batu bata kuno, patung gajah (berjumlah 3 buah patung yang terbuat dari batu), fragmen pecahan arca batu, batu mulia, serta fragmen dari bahan besi dan perunggu, serta benda-benda peninggalan masa silam lainnya. Masih ada juga belanga besar yang terbuat dari logam perunggu. Belanga perunggu yang ditemukan di Candi Kedaton pada tahun 1994 ini memiliki berat 160 kg dan tinggi 0,67 meter dengan lingkar bibir berdiameter 1,06 meter. Belanga ini dipercaya sebagai salah satu alat ritual keagamaan bagi umat Budha aliran Tantrayana.

2. Lokasi

Secara geografis, kompleks percandian Muaro Jambi Desa Muaro Jambi, Kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Indonesia, atau sekitar 40 kilometer Kota Jambi. Komplek percandian yang terletak di dekat daerah aliran Sungai Batanghari ini bisa ditempuh melalui jalur darat atau menumpang kapal cepat melalui jalur sungai (MediaIndonesia.com). Perjalanan lewat jalur darat dapat ditempuh melalui beberapa rute. Akses pertama adalah berangkat dari Kota Jambi, kemudian ke Jembatan Duri dan menuju Olak Kemang baru kemudian langsung ke kompleks Percandian Muaro Jambi. Rute kedua, juga berangkat dari Kota Jambi, melalui Jembatan Aur Duri menuju Simpang Jambi Kecil dan langsung ke ke lokasi candi.

Sedangkan dari jalur sungai, perjalanan dimulai dari Kota Jambi ke arah timur menuju Pelabuhan Talang Duku, kemudian dilanjutkan melalui jalur air dengan menyeberangi Sungai Batanghari untuk menuju ke Desa Muaro Jambi. Pilihan lain adalah dengan menyewa perahu kéték atau sebeng (sejenis speed boat) yang dapat dijumpai di tepi Sungai Batanghari yang berada di bagian tengah kota. Dengan kendaraan air kemudian menyusuri menyusuri Sungai Batanghari sambil menikmati pemandangan sepanjang aliran sungai menuju situs candi. Perjalanan lewat sungai akan memakan waktu lebih kurang 20 menit.

3. Luas

Situs Purbakala Kompleks Percandian Muaro Jambi merupakan situs peninggalan purbakala terluas di Nusantara yang membentang panjang dari barat ke timur di sepanjang tepi Sungai Batanghari. Jajaran candi-candi yang terdapat di situs percandian Muaro Jambi terbentang dari Desa Muaro Jambi dan Desa Danau Lamo di bagian barat, hingga ke desa Kemingking Dalam, Kecamatan Muaro Sebo, di bagian Timur. Secara rinci, kompleks percandian ini memiliki luas 12 km2 dengan ukuran panjang lebih dari 7,5 km, total luasnya adalah 260 hektare yang membentang searah dengan jalur Sungai Batanghari. Luas halaman kompleks candi sekitar 500 m2 yang terdiri dari bangunan induk dan gapura sebagai pintu gerbangnya.

4. Arsitektur

Bentuk dan corak candi-candi yang terdapat di Situs Purbakala Kompleks Percandian Muaro Jambi sangat berbeda dengan candi-candi yang kebanyakan ditemukan di Jawa. Bahan untuk membuat candi di Muaro Jambi pun bukan berasal dari batu kali atau batu alam, melainkan dari batu bata merah di mana di setiap batu bata itu, terdapat pahatan relief. Ditinjau dari segi corak arsitekturnya, candi-candi yang ada di Kompleks Percandian Muaro Jambi ini didominasi oleh corak khas candi-candi peninggalan ajaran Buddha, khususnya Buddha Tantrayana. Meskipun demikian, ada juga beberapa bangunan yang terpengaruh oleh ajaran agama Hindu. Salah satu arca yang ditemukan di kompleks Candi Gumpung, yakni Arca Prajnyaparamita alias arca perlambang dewi kesuburan, memperlihatkan ciri-ciri yang banyak persamaannya dengan Arca Prajnaparamita dari zaman Kerajaan Singosari.

Kelompok Candi Gumpung berjarak kira-kira 500 meter di sebelah kanan Sungai Batanghari. Candi Gumpung adalah candi terbesar kedua setelah Candi Kedaton. Penamaan candi ini didasarkan dari istilah lokal masyarakat sekitar, yakni menapo gumpung yang dalam bahasa Melayu berarti “papak, patah, terpotong di atasnya”, sesuai dengan bentuk candi ini yang seolah-olah terpenggal di bagian puncaknya. Candi Gumpung tersusun dari bangunan bata dari berbagai bentuk dan ukuran. Di kompleks candi ini banyak ditemukan benda-benda purbakala. Kompleks Candi Gumpung dilindungi oleh pagar yang mengelilinginya dengan bentuk bujur sangkar. Pagar keliling ini memiliki ukuran panjang keseluruhan 604,40 meter. Luas keseluruhan areal Candi Gumpung adalah 229,50 m2. Candi Gumpung memiliki Candi Perwara (candi penampil) sebanyak 5 buah,namun belum diketahui dengan jelas wujud yang sebenarnya dari kelima candi itu. Di kompleks Candi Gumpung ditemukan juga 4 buah gapura sebagai pintu gerbang atau pintu masuknya, serta 2 buah tempat yang diperkirakan bekas kolam pemandian (CandiMuaroJambi.com).

Sementara itu, letak candi-candi yang terkelompok di Candi Tinggi berada kurang lebih 200 meter arah timur laut dari Candi Gumpung. Candi Tinggi berukuran 75x92 meter, dan sejak tahun 1979-1988 di sekeliling candi ini dilindungi dengan pagar. Pintu gerbang utama Candi Tinggi berada di sebelah timur. Di dalam halaman kompleks kelompok Candi Tinggi terdapat sebuah candi induk dan 6 buah Candi Perwara. Di bagian depan candi induk tersebut, terdapat sisi lantai dari batu bata yang mempunyai denah dengan bentuk bujur sangkar berukuran 16x16 meter. Setelah diberi pagar, candi induk di Candi Tinggi memiliki dua teras dan bentuknya cenderung menyempit ke atas (CandiMuaroJambi.com).

Sedangkan 6 buah candi yang ada di halaman depan kompleks Candi Tinggi hanya terdiri dari bagian pondasi dan sedikit bagian kakinya saja. Beberapa benda cagar budaya lainnya yang ditemukan di kelompok Candi Tinggi adalah sebuah potongan benda dari besi dan perunggu, kaca kuno, pecahan-pecahan arca batu, pecahan-pecahan keramik yang umumnya alat-ala rumah tangga yang berasal dari Cina dari abad 9 M sampai dengan abad ke-14 M, dan ratusan batu bata kuno. Di masing-masing batu bata kuno yang rata-rata berukuran 18x32 cm dengan tebal 6 cm itu, tertera tulisan, gambar, tanda, dan stempel yang ditulis dengan huruf Pallawa (CandiMuaroJambi.com).

Selanjutnya adalah Candi Kembar Batu yang berjarak kurang lebih 250 meter di sisi tenggara Candi Tinggi. Pembatas fisik kedua kelompok candi ini adalah pagar keliling yang berbentuk empat persegi panjang. Ukuran pagar ini tidak sama pada setiap sisinya, namun secara rata-rata dikatakan berukuran 64x54 m2. Di kompleks Candi Kembar Batu yang mulai dipugar pada tahun 1991 dan selesai pada tahun 1995 ini terdapat struktur tiang bangunan yang terbuat dari kayu selain ditemukan pula lantai yang terbuat dari batu bata. Masih di kompleks Candi Kembar Batu, di sini pernah ditemukan gong yang berasal dari negeri Tiongkok. Gong Cina ini dibuat dari bahan logam perunggu dan terdapat aksara Cina kuno di bagian tubuhnya. Oleh para arkeolog, gong bersejarah ini disebut-sebut sebagai gong perang, yaitu gong yang digunakan sebagai penanda dimulainya dan berakhirnya peperangan. Di kompleks Candi Kembar Batu terdapat candi induk berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 11,5x11,5 meter dan mempunyai tangga di bagian sebelah timurnya. Candi induk ini berada di depan Candi Perwara yang berfungsi sebagai candi penampil (CandiMuaroJambi.com).

Sedangkan Candi Gedong terdiri dari dua bagian, yakni Candi Gedong Satu dan Candi Gedong Dua. Kedua candi ini berlokasi saling berdekatan, kurang lebih berjarak 150 meter. Candi yang terletak sekitar 1.450 meter di sebelah timur Candi Kedaton ini juga memiliki struktur tangga di sisi sebelah timur. Bentuk Candi Gedong Satu terlihat unik, di mana di bangunan yang berbentuk bujur sangkar ini banyak ditemukan benda-benda purbakala, seperti keping-keping mata uang kepeng dari Tiongkok sebanyak 161 buah, berbagai macam peralatan yang digunakan untuk upacara keagamaan, beberapa jenis batu bata kuno dengan ciri-ciri khas yang unik (di antaranya adalah bata berprofil, bata bertekuk, dan bata bergores), keramik dari Cina, serta gerabah lokal atau tembikar (CandiMuaroJambi.com).

Keping-keping mata uang Cina yang ditemukan di kompleks Candi Gedong Satu sebagian besar sudah aus dan tulisan yang terterar di kepingannya sulit untuk dibaca. Namun, masih dapat dilacak dari tipikal huruf yang tertera di keping-keping mata uang itu, antara lain diketahui berasal dariDinasti Tang (618-907 M), Dinasti Tang Selatan (937-976 M), dan Dinasti Sung (960-1280 M). Selain itu, di lokasi Candi Gedong Satu juga ditemukan sebuah arca yang bernama Arca Jagopati atau Arca Prajurit (CandiMuaroJambi.com). Sedangkan di Candi Gedong Dua ditemukan Arca Dwarapala yang digambarkan sebagai arca penjaga bangunan suci yang ada di situ. Arca yang diperkirakan berasal dari abad ke-13 M ini ditemukan pada bulan April 2002.

5. Penutup

Keberadaan Situs Purbakala Kompleks Percandian Muaro Jambi membuktikan bahwa peradaban dan kehidupan masyarakat yang hidup di zaman Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Malayu pada saat itu sudah sangat maju. Kawasan kompleks percandian Muaro Jambi yang sangat luas menggambarkan bahwa dahulu, peradaban di daerah itu sudah sangat ramai dan tentunya memiliki tata aturan kehidupan yang boleh jadi sudah tertata dengan baik. Adanya penemuan berbagai jenis benda peninggalan budaya yang berasal dari negeri-negeri di luar Nusantara, seperti Persia, Tiongkok, dan India, juga menjadi pembuktian bahwa pada masa itu, masyarakat yang hidup di kompleks Candi Muaro Jambi sudah menjalin hubungan yang sangat erat dengan bangsa-bangsa lain. Bahkan, kawasan Candi Muaro diperkirakan pernah menjadi tempat bertemunya orang-orang dari segala bangsa.

(Iswara N Raditya/Sej/01/06-2011)

Referensi:

Coedes, George, 1930. “Les inscriptions Malaises de Çrivijaya”, dalam Bulletin de l'Ecole Français d'Extrême-Orient, Edisi ke-30, hal. 29-80.

Munoz, Paul Michel, 2006. Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Singapore: Didier Millet Pte Ltd.

“Situs Muarojambi Masih Menyimpan Puluhan Candi”, data diakses pada tanggal 7 Juli 2011, dari http://www.mediaindonesia.com/read/2009/05/05/73147/90/14/Situs-Muarojambi-Masih-Menyimpan-Puluhan-Candi

“Tentang Candi Muaro Jambi, data diakses pada tanggal 7 Juli 2011, dari http://home.candimuarojambi.com/index.php?option=com_content&view=article&id=40&Itemid=152

Uli Kozok, 2006. Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah: Naskah Melayu yang Tertua. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Sumber Foto: http://id.wikipedia.org

Dibaca : 5.464 kali.