Sabtu, 25 Oktober 2014   |   Ahad, 1 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 575
Hari ini : 1.983
Kemarin : 21.567
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.269.080
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Batu Bersurat Terengganu


A. Asal-usul

Semua bukti penggunaan bahasa Melayu praklasik[1] tercatat pada batu, khususnya batu nisan. Hampir semua batu bersurat awal yang menunjukkan pengaruh ini tidak menggunakan bahasa Melayu tetapi menggunakan bahasa Arab sebagai medium utama. Batu Bersurat Trengganu adalah salah satu prasasti tertua yang telah menggunakan bahasa Melayu dan sistem penulisan aksara yang berbeda, yaitu aksara Jawi.

Prasasti ini mula-mula ditemukan di tebing sungai Teresat, Terengganu pada tahun 1887, kemudian dipindahkan ke sebuah surau bernama Surau Tok Rashid, lalu diletakkan sebagai pijakan untuk membasuh kaki di surau lain yang bernama Surau Kampung Buluh. Setelah itu, batu ini dipersembahkan kepada Sultan Zainal Abidin III pada tahun 1902 oleh seorang kenamaan Terengganu yang bernama Pengiran Anum Engku Abdul Kadir bin Engku Besar yang kebetulan melihat batu ini di Surau Kampung Buluh.

Tarikh yang tercatat pada batu Bersurat Terengganu adalah Jumat 4 Rajab 702 H atau bertepatan dengan tanggal 22 Februari 1303 M. Teks batu bersurat ini ditulis pada empat penampang. Penggunaan bahasa pada keempat penampang tersebut tidak memperlihatkan penggunaan dua jenis aksara, tetapi lebih menonjolkan percampuran kata asli Melayu dan kata pinjaman bahasa Sanskrit, bahasa Jawa, dan bahasa Arab.

Inskripsi yang lebih tua pernah ditemukan pada batu nisan Raja Aceh, Sultan Malik as-Saleh (bertiti mangsa 1297), tetapi aksara dan bahasa yang digunakan pada batu nisan itu adalah adalah aksara dan bahasa Arab. Artefak-artefak berinskripsi lain seperti batu-batu nisan Champa (431 H/1039 M dan 1025/1035 M), batu nisan Makhdarah di Brunei (440H/1048 M), dan batu nisan Fatimah (Asimah) di Leran, Gresik (495 H/1082 M) juga menggunakan bahasa dan aksara Arab.

Prasasti lain yang mirip dengan Batu Bersurat Terengganu adalah Batu Bersurat Sungai Udang, yang bertarikh Tahun Saka 1385 atau 1463/1464 M. Prasasti ini diukir dalam bahasa Melayu Kuno dan menggunakan aksara kawi dan aksara Jawi tua. Karena prasasti-prasasti yang lebih tua menggunakan sistem penulisan dan bahasa Arab, maka Batu Bersurat Terengganu dan Sungai Udang yang telah menggunakan aksara Jawi dianggap sebagai penanda bagi tahap akhir bahasa Melayu praklasik sebelum berkembang menjadi bahasa Melayu klasik.

B. Transliterasi


Sumber: http://mcp.anu.edu.au/N/SK/0.html

Transliterasi Penampang A (Depan)

  1. Rasul Allah dengan orang yang... (bagi) mereka...
  2. Esa pada Dewata Mulia Raya beri hamba meneguhkan agama Islam
  3. dengan benar bicara derma meraksa bagi sakalian hamba Dewata Mulia raya
  4. di benuaku ini (penentu) agama rasulullah sall‘allallahu ‘alaihi wasallama raja
  5. mandalika yang benar bicara setelah Dewata Mulia raya di dalam
  6. bebumi. Penentua itu fardzu pada sakalian Raja mandalika Islam
  7. menurut sa-titah Dewata Mulia Raya dengan benar
  8. bicara berbajiki benua penentua itu maka titah Seri Paduka
  9. Tuhan mendudukkan tamra ini di benua Terengganu di pertama ada.
  10. Jama‘at di bulan Rejab di tahun sarathan di sasanakala.
  11.  Baginda Rasul Allah telah lalu tujuh ratus dua.


Sumber: http://mcp.anu.edu.au/N/SK/0.html

Transliterasi Penampang B (Belakang)

  1. keluarga di benua jauh... kan...ul
  2. (datang) berikan. Keemp (-at derma barang) orang berpi-hutang
  3. jangan mengambil ke... (a)mbil bilangkan emas
  4. kelima derma barang orang... (mer)deka
  5. jangan mengambil (tugal buat) temasnya
  6. jika ia ambil bilangkan emas. Keenam derma barang
  7. orang berbuat balacara laki-laki perempuan sa-(titah)
  8. Dewata Mulia raya jiak merdekabujan palu
  9. sa-ratus rautan. Jika merdeka beristeri
  10. atawa perempuan bersuami ditanam binggan
  11. pinggang di bembalang dengan batu matikan
  12. jika inkar ba(lacara) bembalang jika anak mandalika


Sumber: http://mcp.anu.edu.au/N/SK/0.html

Transliterasi Penampang C (Kanan)

  1. bujan dandanya sapuluh tengah (tiga) jika ia...
  2. menteru bujan dandanya tujuh tahil sa-pa(ha...
  3. tengah tiga. Jika (tetua) bujan dandanya lima ta)hil...
  4. tujuh tahil sa-paha masuk bendara. Jika o(rang...
  5. merdeka. Ketujuh derma barang perempuan hendak...
  6. tida dapat bersuami jika ia berbuat balacara


Sumber: http://mcp.anu.edu.au/N/SK/0.html

Transliterasi Penampang D (Kiri)

  1. ... tida benar dandanya sa-tahil sa-paha. Kesembilan derma.
  2. ... Seri Paduka Tuhan siapa tida... dandanya
  3. ... kesapulih der)ma jika anakku atawa keluarku atawa anak
  4. ... tamra ini segala isi tamra ini barang siapa tida menurut tamra ini laknat Dewata Mulia Raya
  5. ... dijadikan Dewata Mulia Raya bagi yang langgar acara tamra ini.

C. Penafsiran

Batu Bersurat Terengganu adalah bukti paling awal untuk menelusuri tahap terakhir dalam evolusi bahasa Melayu praklasik karena prasasti ini telah menggunakan aksara Jawi untuk menuliskan ekspresi dalam bahasa Melayu. Selain itu, Batu Bersurat Terengganu juga membuktikan bahwa hukum agama Islam (fikih) dalam bidang pemerintahan telah dikenal dan dipraktekkan di Kepulauan Melayu pada abad ke-14 itu, karena prasasti di dalam tersebut diungkapkan seruan kepada penguasa untuk meyakini keimanan dalam Islam dan mengamalkan ajaran-ajaran nabi Muhammad SAW.

Sistem penulisan aksara Jawi diambil dari aksara Arab yang telah disesuaikan dan memperoleh tambahan sedemikian rupa sehingga properti-properti fonetiknya dapat mengungkapkan fonem-fonem dalam bahasa Melayu yang tidak terdapat dalam bahasa Arab. Sistem ini merangkum semua abjad dalam bahasa Arab yang berjumlah 29, ditambah dengan enam abjad tambahan (mulanya hanya lima abjad tambahan seperti yang terdapat dalam Batu Bersurat Terengganu, lalu ditambah oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia melalui Pedoman Ejaan Jawi yang Disempurnakan terbitan tahun 1986).

Tidak diketahui siapa yang memberikan nama “Jawi” untuk sistem penulisan aksara yang baru itu. Kamus R.J. Wilkinson (Musa, 2006: 8) menerangkan bahwa istilah “Jawi” dalam bahasa Melayu merujuk pada pokok jawi-jawi atau jejawi dan juga beras jawi yang berbeda dari beras pulut, dan berbeda juga dari makna lembu atau kerbau dalam bahasa Minangkabau. Jelas sekali makna seperti itu tidak ada kaitannya dengan tulisan.

Osmar Awang (Loc.cit: 9) menegaskan bahwa istilah “Jawi” kemungkinan berasal dari istilah al-Jawah yang pernah digunakan dalam catatan Arab yang tertulis sebelum pertengahan abad ke-14 M. Untuk menamakan pulau Sumatra, misalnya Yaqut, dalam Mu‘jan al-Buldan, Abu Al-Fida‘ dalam Taqwim al-Buldan dan Ibn Batutah dalam Rihlat Ibn Batutah. Fakta ini menunjukkan kemungkinan yang kuat bahwa tulisan Jawi itu dinamakan oleh orang Arab untuk merujuk tulisan yang digunakan oleh Orang Sumatra, yaitu penduduk al-Jawah, yang beragama Islam dan menggunakan bahasa Melayu.

Raffles (Ibid.) juga pernah menerangkan tentang istilah ini. Menurutnya, “Jawi” merujuk pada istilah dalam bahasa Melayu yang berati “kacukan” (campuran atau persilangan), seperti dalam ungkapan “anak Jawi” yang artinya campuran dari ayah Keling dan ibu Melayu (yang menimbulkan istilah Jawi Peranakan). Maka yang dimaksud dengan bahasa Jawi adalah bahasa Melayu yang ditulis dengan menggunakan huruf Arab.

Selanjutnya, istilah ini sering digunakan dengan merujuk pada Melayu, misalnya dalam ungkapan “jawikannya” yang berarti “terjemahkan ke dalam bahasa Melayu (tentunya dalam tulisan Jawi). Agaknya penggunaan istilah “Jawi” dengan makna “Melayu” adalah sebagai lawan bagi istilah Arab/Parsi, sehingga tulisan Jawi adalah lawan tulisan Arab/Parsi, bahasa Jawi lawan bahasa Arab/Parsi, dan bangsa Jawi lawan bangsa Arab/Parsi/Turki.

Sebelum abad ke-17, sistem penulisan Jawi digunakan secara seragam di seluruh Kepulauan Melayu, mulai dari Aceh hingga Sulawesi. Hal ini disebabkan oleh dua hal.

Pertama, kemahiran menulis pada masa itu hanya dikuasai oleh beberapa orang tukang tulis yang tentu sangat terlatih dengan sebaik-baiknya dalam kaidah penulisan sehingga dapat menjaga keseragaman. Lagipula teks-teks pada masa itu kebanyakan terdiri dari prasasti dan dokumen-dokumen resmi keagamaan dan kerajaan, yang tentu saja hanya bisa ditulis oleh orang yang terpelajar. Kedua, ada beberapa standar yang tetap dalam hal ejaan sehingga penulis harus menyesuaikan diri dengan standar tersebut. Standar itu adalah sistem ortografi dalam bahasa Arab, yang kemudian dimodifikasi menjadi ortografi Jawi.

Dengan sistematisasi penulisan menggunakan aksara Jawi, yang diawali oleh Batu Bersurat Terengganu ini, pola dakwah Islam di Kepulauan Melayu pada abad-abad berikutnya berubah, yang terutama dimulai pada abad ke-17. Semula, dakwah Islam dilakukan secara lisan, di mana juru dakwah berkhotbah kepada murid dan umat, yang akan berusaha menghapalkan ajaran-ajaran sang juru dakwah. Dengan tulisan Jawi, ajaran keagamaan dapat tersebar luas dan terjamin isinya karena dikemas sebagai kitab, hikayat, atau risalah yang lebih mudah dibawa ke tempat-tempat yang berjauhan. Selain itu, aksara Jawi juga telah melahirkan tradisi kaligrafi Islam yang artistik dan khas Melayu.

Daftar Bacaan:

  • Hashim Musa, 2006. Sejarah Perkembangan Tulisan Jawi Edisi Kedua. Selangor Darul Ehsan: Siri Lestari Bahasa
  • Mohd. Taib Osman (ed.), 1997. Islamic Civilization in the Malay World. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka
  • Noriah Mohamed, 1999. Sejarah Sosiolinguistik Bahasa Melayu Lama. Pulau Pinang: Penerbit Universiti Sains Malaysia bagi pihak Pusat Pengkajian Ilmu Kemanusiaan Pulau Pinang

(An. Ismanto/sej/03/05-09)

Sumber foto utama: http://cheadilah.blogspot.com/2009_01_01_archive.html



[1] Bahasa Melayu praklasik dalam periodisasi perkembangan bahasa Melayu bermula pada abad ke-11 dan berakhir sekitar abad ke-14 dengan ditemukannya Batu Bersurat Terengganu. Periode ini sering juga disebut sebagai zaman transisi, zaman peralihan dari pengaruh India ke pengaruh Arab. Dengan demikian, ciri bahasa Melayu praklasik adalah pencampuradukan berbagai bahasa dan menampakkan ciir-ciri arkais, yaitu masih mengandung kata-kata yang bersifat Sanskrit dan aksara yang digunakan masih pekat kadar ke-Arab-annya (lihat Mohamed, 1999, hal. 66).

Dibaca : 16.919 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password