Senin, 20 Februari 2017   |   Tsulasa', 23 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 2.703
Hari ini : 22.251
Kemarin : 31.517
Minggu kemarin : 215.672
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.762.077
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Masjid Sultan Singapura



Sejarah Pembangunan

Pada tahun 1819 Sultan Hussain membangun masjid, di Kampong Glam, wilayah yang ditinggali orang-orang Melayu dan Islam. Masjid tersebut dibangun tidak jauh dari istana, berbentuk masjid tradisional Nusantara dengan atap limas bersusun tiga. Dana pembangunan masjid berasal dari donasi jamaah muslim setempat serta dari sumbangan East India Company sebesar $3000. Pembangunan masjid dimulai pada tahun 1824 dan selesai pada tahun 1826.

Pengelolaan masjid dikepalai oleh Alauddin Shah, cucu Sultan Hussain, hingga tahun 1879. Ketika Alauddin Shah wafat, kepengurusan masjid dilanjutkan oleh lima pimpinan komunitas muslim di sana. Tahun 1914 hak guna lahan masjid diperpanjang oleh Pemerintah Inggris di Singapura untuk masa 999 tahun, dimulai dari tahun 1914. Saat itu juga dibentuk kepengurusan masjid yang baru, disebut Trustees dengan dua perwakilan dari masing-masing faksi komunitas muslim Singapura yang terdiri atas Melayu, Jawa, Bugis, Arab, Tamil dan India Utara, untuk merepresentasikan keberagaman komunitas muslim di Singapura. Anggota Trustee saat itu adalah Syed Abdulrahman bin Shaik Alkaff dan Shaik Abu Baker bin Taha Mattar (Arab); Inche Amboo’ Haji Kamaruddin dan Saim bin abdul Malek (Bugis); H. Wan Abdullah bin Omar dan A. Jalil bin H. Haroon (Melayu); H. Mohamed Amin bin Abdullah dan H. Mohamed Eusofe bin H. Mohamed Noor (Jawa); Mahmood bin Hadjee Dawood dan Mohamed bin Mahmood Sahab (India Utara); dan Mohamed kassim Marican dan Yavena Sultan Abdulcader (Tamil).

Hingga kini Masjid Sultan Singapura masih berdiri kokoh di tempat bangunan tersebut pertama kali didirikan, menjadi salah satu masjid tertua dan terbesar di Singapura dengan daya tampung 5000 jemaah. Masjid Sultan Singapura mendapatkan pengakuan dari Pemerintah Republik Singapura sebagai monumen nasional pada tanggal 14 Maret 1975. Statusnya kini dimiliki dan dikelola oleh Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS). 

Lokasi

Lokasi Masjid Sultan Singapura terletak di antara gedung-gedung tinggi di wilayah North Bridge Road, seperti Parkview Square, Golden Landmark Hotel, Raffles Hospital, Bugis Junction, dan Hotel Inter-Continental. Di antara bangunan-bangunan modern, masjid tua ini tetap mempertahankan auranya sebagai salah satu pusat Islam di negara pulau Singapura yang supersibuk. Nama jalan-jalan di sekitar masjid tersebut masih tetap diabadikan sebagaimana aslinya, seperti Kandahar Street, Baghdad Street, Arab Street, dan Bussorah Street. Adapun alamat Masjid Sultan Singapura adalah :No. 3 Muscat Street, Kampung Glam, Singapore 198833, Telepon : +65 62934405


Arsitektur

Ketika dibangun pertama kali pada tahun 1826, Masjid Sultan Singapura memiliki arsitektur Jawa, karena dibangun oleh masyarakat muslim Jawa yang merupakan kelompok pedagang awal di Singapura. Arsitektur Jawa ini diwujudkan dalam bentuk atap limas bersusun tiga.  .

Perencana

Pada tahun 1924, masjid diperluas dan dibangun ulang. Arsitek Denis Santry dari Swan and Maclaren mengadopsi gaya Sarasenik atau gaya Gotik Mughal lengkap dengan menara


Renovasi 

Pada tahun 1900an Singapura sudah menjadi pusat perdagangan Islam. Masjid Sultan sudah tidak mampu lagi menampung jemaah yang terus berkembang pesat. Pada tahun 1924, memperingati seratus tahun berdirinya masjid tersebut, pengurus masjid atau trustee setuju untuk mendirikan masjid baru yang lebih besar, menggantikan masjid lama di lokasi yang sama dengan tambahan lahan dari keluarga kerajaan. Masjid baru ini dirancang oleh arsitek Denis Santry. Seluruh pembiayaan ditanggung oleh keluarga Sultan dan kontribusi dari komunitas muslim Singapura, termasuk sumbangan botol kaca hijau dari kaum miskin, yang kemudian dijadikan ornament bawah kubah masjid. Perbaikan selanjutnya dilakukan pada tahun 1960 untuk memperbaiki ruang utama masjid. Kemudian pada tahun 1993 Masjid Sultan Singapura dilengkapi dengan auditorium dan aula serbaguna.

Aktivitas Masjid

Masjid Sultan Singapura memiliki beragam kegiatan, baik kegiatan rutin maupun kegiatan pada momen-momen tertentu.  Di Masjid Sultan Singapura juga diselenggarakan pengajian khusus bagi pekerja Indonesia, yaitu pada setiap hari Ahad pekan ke dua dan pekan ke empat setiap bulan. Kegiatan harian di Masjid Sultan Singapura tidak hanya penyelenggaraan sholat lima waktu, tetapi juga kajian harian serta menerima kunjungan dari pihak manapun, termasuk kunjungan wisata. Pengurus masjid menyediakan pemandu wisata gratis untuk memberikan pemahaman kepada pengunjung tentang sejarah masjid serta tentang Islam. Seorang muslimah Jepang yang menikah dengan muslim Singapura menyediakan diri untuk menjadi pemandu bagi turis Jepang di masjid ini. Pada tahun 2010 Masjid Sultan Singapura mendapatkan anugerah dari MUIS (Majelis Ugama Islam Singapura) atas upayanya menarik wisatawan mancanegara. 

(Mahyudin Al Mudra/ms/01/03-2011)

Sumber Foto: Koleksi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu

Dibaca : 8.524 kali.

Komentar untuk "masjid sultan singapura"

06 Feb 2010. abdull aziz husein
semoga kegemilangannya tetap bersinar sepanjang zaman
04 Jan 2015. Fajar
Saya berkesempatan mengunjungi masjid ini pada Desember 2014 lalu dan kisah perjalanannya dapat dibaca di link berikut : http://fajarnindyo.blog.com/2015/01/masjid-sultan-singapore/
25 Marc 2016. lukman
Saya sangat terkesan dengan akun online ini
25 Marc 2016. lukman
Saya ingin bertanya badan pemerintahan brunai darussalam yg menangani urusan bantuan sosial atau infak dan alamat di brunai

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password