Rabu, 23 Agustus 2017   |   Khamis, 30 Dzulqaidah 1438 H
Pengunjung Online : 4.549
Hari ini : 33.179
Kemarin : 74.347
Minggu kemarin : 334.268
Bulan kemarin : 10.532.438
Anda pengunjung ke 103.045.389
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Kerajaan Tidung (Kerajaan Tarakan)


Mahkota Raja Tidung

Kerajaan Tidung merupakan Kerajaan yang pernah hidup di Pamusian, wilayah Tarakan Timur, Kalimantan Timur antara tahun 1557-1571 M. Sebelum menetap di daerah Pamusian, selama kurun waktu antara 1076 – 1557 M pusat pemerintahan Kerajaan Tidung berpindah-pindah, sehingga ketika masa perpindahan tersebut, Kerajaan Tidung dikenal sebagai Kerajaan Tidung Kuno.

1. Sejarah

Kerajaan Tidung terletak di wilayah sebelah utara Kalimantan Timur (http://www.poskotakaltim.com/). Kerajaan ini memerintah suku Tidung yang banyak bermukim di wilayah Kalimantan Timur dan Malaysia (Sabah) (http://id.wikipedia.org/). Terdapat  dua fase untuk menggambarkan sejarah dari Kerajaan Tidung, yaitu fase Kerajaan Tidung Kuno dan Kerajaan Tidung (Kerajaan Tarakan). Kerajaan Tidung Kuno merupakan cikal bakal dari berdirinya Kerajaan Tidung. Pusat pemerintahan Kerajaan Tidung Kuno berpindah-pindah antara tahun 1076 – 1557 M (http://thetidung.blogspot.com/). Akan tetapi sejak pusat pemerintahan Kerajaan Tidung Kuno menetap di Tarakan pada tahun 1557 M, mulai saat itulah Kerajaan Tidung Kuno dikenal dengan nama Kerajaan Tidung atau Kerajaan Tarakan. 

a. Kerajaan Tidung Kuno

Nama "Tidung" berasal dari kata "Tideng" yang berarti "Gunung". Kata ini merujuk pada permukiman Suku Tidung yang pada awalnya tinggal di daerah pegunungan, namun kemudian mulai berpindah dan akhirnya sampai bermukim di daerah pesisir utara Pulau Kalimantan, sehingga dikenal dengan sebutan "orang Tengkayu" atau orang Pesisir (http://thetidung.blogspot.com/). Pernyataan ini merujuk pada pemerintahan kerajaan-suku yang pernah dimiliki oleh suku Tidung. Pemerintahan kerajaan-suku tersebut dikenal dengan nama Kerajaan Tidung Kuno (The Ancient Kingdom of Tidung).

Pemerintahan kerajaan-suku yang ditunjukan oleh Kerajaan Tidung Kuno merupakan pemerintahan yang bersifat nomaden. Sifat nomaden bisa dilihat dari perpindahan pusat pemerintahan yang dilakukan antara tahun 1076 – 1557 M (http://thetidung.blogspot.com/). Suku Tidung yang juga dikenal sebagai kaum Tengara, karena melahirkan Dinasti Tengara pada masa pemerintahan Kerajaan Tidung ini, mempunyai pemerintahan awal di pesisir Timur Tarakan, tepatnya di kawasan Binalatung antara tahun 1076 – 1156 M (Deni Prasetyo, 2009:37). Sesuai dengan fakta sejarah, selaku raja pertama Kerajaan Tidung Kuno adalah Benayuk yang memerintah selama 35 musim (1 musim=12 purnama atau kurang lebih sama dengan satu tahun Hijriah) (http://takapana.blogspot.com/).

Pada tahun 1156 M, pemerintahan Kerajaan Tidung Kuno berpindah dari Binalatung ke pesisir Barat Tarakan, tepatnya di Tanjung Baru. Kerajaan Tidung Kuno memerintah di Tanjung Batu antara tahaun 1156 – 1216 M (Prasetyo, 2009:37). Perpindahan pusat pemerintahan berikutnya adalah ke kawasan sungai Bidang. Pemerintahan di sini berlangsung antara tahun 1216 – 1394 M. Selanjutnya berpindah lagi ke kawasan Pimping bagian barat dan kawasan Tanah Kuning, sebuah daerah yang letaknya cukup jauh dari Tarakan. Di sini Kerajaan Tidung Kuno memerintah antara tahun 1394 - 1557 M. Terakhir, Kerajaan Tidung Kuno berpindah lagi dan menempati kawasan di Pamusian, wilayah Tarakan Timur. Di sini Kerajaan Tudung Kuno mulai bersulih nama menjadi Kerajaan Tidung seiring dengan bertahtanya Dinasti Tengara sejak tahun 1557 M (Prasetyo, 2009:37).

Ketika terakhir kali berpindah (antara tahun 1394 - 1557 M) raja terakhir Kerajaan Tidung Kuno adalah Ikenawai. Selepas Ikenawai turun tahta, pengganti kedudukan raja di Kerajaan Tidung Kuno sekaligus raja pertama Kerajaan Tidung (Kerajaan Tarakan) adalah Amiril Rasyd Gelar Datoe Radja Laoet (1557-1571) (http://thetidung.blogspot.com/). Dari sinilah dimulai pemerintahan baru Kerajaan Tidung di bawah penguasa dari Dinasti Tengara.

b. Kerajaan Tidung (Kerajaan Tarakan)

Kerajaan Tidung atau Kerajaan Tarakan (selanjutnya disebut dengan Kerajaan Tidung) merupakan kerajaan penerus dari Kerajaan Tidung Kuno yang berdiri antara tahun 1076 – 1557 M (http://thetidung.blogspot.com/). Tahta terakhir Kerajaan Tidung Kuno dipegang oleh Ikenawai. Ketika berpindah ke Pamusian pada tahun 1557 M, Kerajaan Tidung dapat disatukan dengan Kerajaan Sulu di bawah perintah Datoe Radja Laoet (http://takapana.blogspot.com/). Penyatuan dilakukan dengan jalan perkawinan antara Ikenawai dengan Datoe Radja Laoet. Sejak saat itu kepemimpinan Kerajaan Tidung Kuno diambil alih oleh Dinasti Tengara yang menempatkan Raja Amiril Rasyd Gelar Datoe Radja Laoet (1557-1571) sebagai penguasa pertama Kerajaan Tidung (Kerajaan Tarakan) (http://thetidung.blogspot.com/).

Pernikahan antara Raja Amiril Rasyd Gelar Datoe Radja Laoet dengan Ikenawai Gelar Ratu Ulam Sari dikaruniai dua orang anak putera dan seorang puteri (meninggal sebelum dewasa). Kedua putera tersebut bernama Dipati Anum dan Wira Kelana (http://takapana.blogspot.com/). Ketika Raja Amiril Rasyd Gelar Datoe Radja Laoet wafat, Dipati Anum diangkat menjadi raja bergelar Amiril Pengiran Dipati I, sedangkan Wira Kelana diangkat menjadi raja muda.

Raja Amiril Pengiran Dipati I memerintah Kerajaan Tidung antara tahun 1571-1613 (http://thetidung.blogspot.com/). Pada masa pemerintahan Raja Amiril Pengiran Dipati I, Kerajaan Sulu memisahkan diri dengan mengangkat seorang raja bernama Datoe Mering, adik dari Raja Amiril Rasyd Gelar Datoe Radja Laoet. Selama memerintah, Raja Amiril Pengiran Dipati I menikah dengan Mayang Sari, puteri Pengiran Sukmana dari daerah Sebawang (kini termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Sesayap). Lewat pernikahan ini, Raja Amiril Pengiran Dipati I dikaruniai seorang putera bernama Pengiran Singa Laoet, dan 3 orang puteri yang masing-masing diberi nama Mayang Sari, Sukma Sari, dan Kumala Sari (http://takapana.blogspot.com/).

Masa kepemimpinan Raja Amiril Pengiran Dipati I berakhir ketika beliau wafat dan digantikan oleh puteranya, Pengiran Singa Laoet Gelar Amiril Pengiran Singa Laoet. Beliau memerintah Kerajaan Tidung antara tahun 1613-1650 (http://thetidung.blogspot.com/). Setelah Amiril Pengiran Singa Laoet wafat, beliau digantikan oleh puteranya yang kemudian bergelar Amiril Pengiran Maharajalila I. Pemerintahan Amiril Pengiran Maharajalila I bertahan selama 45 tahun (1650-1695) (http://takapana.blogspot.com/).

Pemimpin Kerajaan Tidung berikutnya Pengiran Mustafa yang merupakan putera dari Amiril Pengiran Maharajalila I. Beliau naik tahta pada tahun 1695 dan bergelar Amiril Pengiran Maharajalila II (http://thetidung.blogspot.com/). Selama berkuasa, Amiril Pengiran Maharajalila mempunyai 2 istri. Istri pertama bernama Siti Nurlaila, puteri dari Pengiran Prabu Sakti bin Pengiran Besar Pendekar Laoet dari daerah Sesayap. Lewat pernikahan pertama ini lahir beberapa anak, yaitu Pengiran Dipati, Pengiran Maharajadinda Bertanduk, Pengiran Lukmanul Hakim, Pengiran Jafarudin dan Siti Nurbaya. Istri kedua Amiril Pengiran Maharajalila II bernama Puteri Radja Kayan yang berasal dari daerah Pimping. Lewat pernikahan ini mereka dikaruniai seorang putera yang bernama Pengiran Surya (http://takapana.blogspot.com/).

Masa pemerintahan Amiril Pengiran Maharajalila II berakhir pada tahun 1731 (http://takapana.blogspot.com/). Beliau mangkat karena dibunuh oleh pamannya yang bernama Wira Amir karena bermaksud untuk menguasai tahta Kerajaan Tidung. Wira Amir berdalih bahwa kematian Amiril Pengiran Maharajalila II disebakan oleh suatu kecelakaan. Dalih dari Wira Amir tidak dapat diterima oleh para anggota kerajaan lainnya. Gelombang penentangan terhadap Wira Amir muncul dan memaksa Wira Amir untuk pergi dari Kerajaan Tidung. Wira Amir melarikan diri ke daerah Baratan dan meminta perlindungan kepada Kerajaan Berau. Sebagai penerus tahta Kerajaan Tidung berikutnya, para anggota kerajaan menunjuk Pengiran Dipati, anak sulung hasil pernikahan Amiril Pengiran II dengan istri pertama, Siti Nurlaila. Pengiran Dipati naik tahta dan bergelar Amiril Pengiran Dipati II (http://takapana.blogspot.com/).

Masa pemerintahan Amiril Pengiran Dipati II berlangsung antara tahun 1731-1765 (http://thetidung.blogspot.com/). Ketika memerintah, Amiril Pengiran Dipati II berusaha membuat perhitungan dengan Wira Amir atas kematian sang ayah, Amiril Pengiran Maharajalila II dengan cara menyerbu ke Baratan. Ketika rencana penyerbuan ke Baratan dikemukakan oleh Amiril Pengiran Dipati II, para kerabat kerajaan sebagian besar menolak rencana tersebut. Akan tetapi, tampaknya keputusan Amiril Pengiran Dipati II sudah bulat untuk melancarkan balasan kepada Wira Amir di Baratan. Maka dikirimlah pasukan ke Baratan untuk menyerbu Wira Amir. Dalam suatu pertempuran, Amiril Pengiran Dipati II terluka sehingga upaya penyerbuan ke Baratan gagal. Merasa malu karena sejak awal rencana penyerbuan tidak didukung kerabat kerajaan lainnya, Amiril Pengiran Dipati II memutuskan untuk tidak kembali ke Kerajaan Tidung dan pergi ke Sungai Simasulem, suatu daerah di dekat Serudung (perbatasan antara Sabah dengan Indonesia). Di tempat ini Amiril Pengiran Dipati II wafat dan dimakamkan (http://takapana.blogspot.com/).

Sepeninggal Amiril Pengiran Dipati II yang memutuskan untuk tidak kembali ke Kerajaan Tidung, para kerabat kerajaan kemudian bermufakat untuk mengangkat raja. Atas dasar pertimbangan dari pihak keluarga, maka diangkatlah Pengiran Maharajadinda Bertanduk, anak kedua dari pernikahan antara Amiril Pengiran Maharajalila II dengan Siti Nurlaila. Pengiran Maharajadinda Bertanduk tak lain adalah adik kandung dari Amiril Pengiran Dipati II. Pengiran Maharajadinda Bertanduk ditabalkan menjadi raja dan bergelar Amiril Pengiran Maharajadinda (1765-1782) (http://thetidung.blogspot.com/).

Pengganti raja di Kerajaan Tidung berikutnya adalah Amiril Pengiran Maharajalila III (1782-1817) (http://thetidung.blogspot.com/). Beliau menikah dengan Aji Intan gelar Pengiran Kesuma dan dikaruniai beberapa anak, yaitu Aji Intan (Selma), Datoe Mancang (Semudang), Datoe Syahbuddin, dan Datoe Maharajalila (yang kemudian menjadi Sultan Bulungan bergelar Sultan Muhammad Kaharuddin II). Masa pemerintahan Amiril Pengiran Maharajalila III berakhir ketika beliau wafat dan digantikan oleh adiknya yang bernama Pengiran Amir Tadjoeddin (http://takapana.blogspot.com/).

Ketika Pengiran Amir Tadjoeddin naik tahta dan bergelar Amiril Pengiran Amir Tadjoeddin (1817-1844), terjadi pemutusan hubungan dengan Kesultanan Bulungan yang notabene merupakan kerajaan sekutu di Kalimantan Timur (http://thetidung.blogspot.com/ dan http://www.poskotakaltim.com/). Pemutusan tersebut diawali ketika Kesultanan Bulungan takluk kepada Belanda ketika diperintah oleh Amiril Kaharuddin Sultan Muhammad atau Sultan Muhammad Kaharuddin II (1817-1862). Akibat dari penaklukan tersebut, Belanda mengikat Kesultanan Bulungan dengan perjanjian yang ditandatangani pada tanggal 27 September 1834 dan 12 Nopember 1850 di Banjarmasin. Salah satu dari isi perjanjian tersebut menyatakan bahwa Kesultanan Bulungan patuh (tunduk) kepada Belanda dan pihak Belanda akan mengamankan Kerajaan Bulungan dalam wilayah sekitar Sungai Kayan dan Sungai Bahau. Sebagai langkah pengawasan, Belanda membangun Wilayah Kerja Pengawasan di Tanjung Selor (ibukota Kabupaten Bulungan sekarang) (http://www.poskotakaltim.com/).

Sikap Kesultanan Bulungan yang harus tunduk kepada Belanda membuat beberapa kerajaan sekutu, seperti Suku Dayak Kenyah dan Tidung menjadi kecewa. Perbedaan sikap dan cara pandang dengan pihak Kesultanan Bulungan menjadikan Suku Dayak Kenyah dan Tidung tidak lagi mengakui Kesultanan Bulungan (http://www.poskotakaltim.com/).

Sikap Kerajaan Tidung akhirnya agak melunak ketika kerajaan ini diperintah oleh Amiril Pengiran Djamaloel Kiram (1844-1867), putera dari Pengiran Amir Tadjoeddin. Untuk mengukuhkan kembali hubungan Bulungan-Tidung, puteri dari Amiril Pengiran Djamaloel Kiram yang bernama Ratu Intan Doera menikah dengan Datoe Jaring gelar Datoe Maoelana, putera Sultan Bulungan, Muhammad Kaharuddin II dari Salimbatu. Ketika Amiril Pengiran Djamaloel Kiram wafat, tahta Kerajaan Tidung tidak diserahkan ke puteranya melainkan kepada menantunya, yaitu Datoe Maoelana dan bergelar Datoe Maoelana Amir Bahar (http://takapana.blogspot.com/).

Pernikahan Datoe Maoelana Amir Bahar dengan Ratu Intan Doera dikaruniai enam orang anak yaitu Datoe Adil, Datoe Djamaloel, Datoe Ranik, Datoe Ali, Ratu Intan, dan Dayang Ranik. Selain menikah dengan Ratu Intan Doera, Datoe Maoelana Amir Bahar juga menikah dengan istri kedua dan dikaruniai lima orang anak, yaitu Datoe Merulan, Datoe Amai, Dayang Sumbun, Si Pantang, dan Si Tinggal (http://takapana.blogspot.com/).

Ketika Datoe Maoelana Amir Bahar wafat, tahta Kerajaan Tidung diserahkan kepada Datoe Adil, putera sulung hasil pernikahan antara Datoe Maoelana Amir Bahar dengan Ratu Intan Doera. Datoe Adil memerintah di Kerajaan Tidung antara tahun 1896-1916 (http://thetidung.blogspot.com/). Jika dirunut dari garis keturunan, Datoe Adil sebenarnya juga berhak atas tahta di Kesultanan Bulungan. Garis keturunan Sultan Bulungan didapatkan dari sang ayah, Datoe Maoelana Amir Bahar yang merupakan putera dari Sultan Bulungan, Muhammad Kaharuddin II dari Salimbatu (http://takapana.blogspot.com/).

Ketika Datoe Adil memerintah, Pemerintah Hindia Belanda menemukan sumber minyak bumi di Tarakan. Pemerintah Hindia Belanda kemudian mengekspoitasi tambang minyak ini melalui Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). Sehubungan dengan wilayah pertambangan yang termasuk ke dalam wilayah Kerajaan Tidung, maka Kerajaan Tidung mendapatkan royalti yang sangat besar atas eksploitasi tambang minyak bumi. Melimpahnya hasil tambang ternyata menimbulkan keresahan (kecemburuan) di kalangan kerabat Kesultanan Bulungan yang merasa masih satu keturunan dengan Datoe Adil, namun tidak mendapatkan keuntungan dari penambangan minyak. Atas dasar inilah, maka ditempuh beberapa cara untuk menyingkirkan Datoe Adil beserta para penerusnya dari Kerajaan Tidung. 

Celah untuk menyingkirkan Datoe Adil dan penerus tahta Kerajaan Tidung akhirnya didapatkan oleh para kerabat di Kesultanan Bulungan. Mereka menyatakan kepada Pemerintah Hindia Belanda bahwa sejak dulu keluarga Kerajaan Tidung senantiasa berseberangan sikap (menentang) dengan kebijakan dari Pemerintah Hindia Belanda. Pernyataan tersebut merujuk kepada sikap Pengiran Amir Tadjoeddin (1817-1844) yang memutuskan hubungan dengan Kesultanan Bulungan sehubungan dengan penaklukan Kesultanan Bulungan oleh Belanda (http://www.poskotakaltim.com/).

Pernyataan tersebut diperkuat dengan dalih bahwa Kerajaan Tidung tidak pernah menyetorkan pajak kepada Pemerintah Hindia Belanda. Belanda menganggap pernyataan dari Kesultanan Bulungan sebagai sebuah alasan yang cukup masuk akal untuk menangkap Datoe Adil karena dua alasan, yaitu sikap menentang kebijakan Pemerintah Hindia Belanda dan tidak membayar pajak. Akhirnya Belanda menangkap Datoe Adil, Datoe Djamaloel, dan Aji Maoelana kemudian mengasingkan ketiganya. Datoe Adil dan Aji Maoelana diasingkan ke Manado, sedangkan Datoe Djamaloel ke Makassar pada tahun 1916 (http://takapana.blogspot.com/). Mulai saat pengasingan diberlakukan kepada Datoe Adil dan kedua pewaris tahta Kerajaan Tidung tersebut, maka berakhir pula riwayat Dinasti Tengara beserta Kerajaan Tidung (Kerajaan Tarakan).

2. Silsilah

Silsilah para raja yang memerintah Kerajaan Tidung dibagi menjadi dua, yaitu Kerajaan Tidung Kuno dan Kerajaan Tidung (Tarakan). Berikut ini adalah silsilah para raja yang memerintah Kerajaan Tidung Kuno antara tahun 1076 – 1557:

  1. Benayuk 
  2. Yamus (Si Amus)
  3. Ibugang (Aki Bugang)
  4. Itara
  5. Ikurung
  6. Karangan
  7. Bengawan
  8. Itambu
  9. Aji Beruwing Sakti
  10. Aji Surya Sakti
  11. Aji Pengiran Kungun 
  12. Pengiran Tempuad
  13. Aji Iram Sakti
  14. Aji Baran Sakti
  15. Datoe Mencang
  16. Abang Lemanak
  17. Ikenawai (http://thetidung.blogspot.com/) 

Di bawah ini adalah silsilah para raja yang memerintah Kerajaan Tidung (Kerajaan Tarakan) antara tahun 1557 – 1916:

  1. Amiril Rasyd Gelar Datoe Radja Laoet (1557-1571)
  2. Amiril Pengiran Dipati I (1571-1613)
  3. Amiril Pengiran Singa Laoet (1613-1650)
  4. Amiril Pengiran Maharajalila I (1650-1695)
  5. Amiril Pengiran Maharajalila II (1695-1731)
  6. Amiril Pengiran Dipati II (1731-1765)
  7. Amiril Pengiran Maharajadinda (1765-1782)
  8. Amiril Pengiran Maharajalila III (1782-1817)
  9. Amiril Tadjoeddin (1817-1844)
  10. Amiril Pengiran Djamaloel Kiram (1844-1867)
  11. Datoe Maoelana Amir Bahar (1867-1896)
  12. Datoe Adil (1896-1916) (http://thetidung.blogspot.com/)

3. Sistem Pemerintahan

Sistem pemerintahan di Kerajaan Tidung dibagi menjadi dua, pertama ketika masih bernama Kerajaan Tidung Kuno dan kedua ketika telah bersulih nama menjadi Kerajaan Tidung. Ketika masih dinamakan sebagai Kerajaan Tidung Kuno, kerajaan ini telah membuat suatu sistem pemerintahan dengan menempatkan seorang raja sebagai pemimpin tertinggi. Sehubungan dengan beberapa kali perpindahan yang dilakukan oleh Kerajaan Tidung Kuno, maka pusat pemerintahan dibuat dengan konsep wilayah yang kecil atau lazim disebut kampung. Dari kampung inilah, raja di Kerajaan Tidung Kuno mengontrol wilayah kekuasaan yang tersebar di sekitar Tarakan, Provinsi Kalimantan Timur (http://id.wikipedia.org/).

Ketika telah bersulih nama menjadi Kerajaan Tidung dan menetap di Pamusian, sistem pemerintahan dengan mengangkat raja sebagai pemimpin tertinggi tetap berlanjut, sebagaimana telah diberlakukan dalam sistem pemerintahan kerajaan pendahulunya, yaitu Kerajaan Tidung Kuno. Selain menerapkan sistem ini, Kerajaan Tidung juga telah menjalin kerjasama (kekerabatan) dengan beberapa kerajaan/ kesultanan di wilayah Kalimantan, misalnya Kerajaan Sulu, Bulungan, dan Berau.

Kerjasama (kekerabatan) dengan Kerajaan Sulu dijalin ketika raja terakhir Kerajaan Tidung Kuno, yaitu Ikenawai menikah dengan Datoe Radja Laoet, pemimpin Kerajaan Sulu. Sedangkan kerjasama (kekerabatan) dengan Kesultanan Bulungan didapatkan karena Ratu Intan Doera, anak dari Amiril Pengiran Djamaloel Kiram (raja ke-10), menikah dengan Datoe Jaring gelar Datoe Maoelana, putera Sultan Bulungan, Muhammad Kaharuddin II dari Salimbatu. Anak dari pernikahan keduanya yang bernama Datoe Adil akhirnya naik tahta sebagai raja Kerajaan Tidung terakhir.

Secara tidak langsung, Kerajaan Tidung juga mempunyai hubungan dengan Kerajaan Berau. Hubungan tersebut dimulai ketika Wira Amir, paman dari Amiril Pengiran Maharajalila II (raja ke-5), melarikan diri dari Kerajaan Tidung dan meminta bantuan kepada Kerajaan Berau. Wira Amir akhirnya diberi tanah di Baratan dan mendirikan kerajaan di sana.

Di luar hubungan antara beberapa kerajaan tersebut, Kerajaan Tidung pada dasarnya juga menjadi daerah taklukan beberapa kerajaan di nusantara. Menurut Dr. J. Eisenberger, pada pertengahan abad ke-XIV (sekitar tahun 1365), Mahapatih Gadjah Mada dari Kerajaan Majapahit telah menguasai beberapa kerajaan di Kalimantan, seperti Kerajaan Kotawaringin, Banjar, Kutai dan Berau (http://bumibatiwakkal.blogspot.com/). Sebelum dikuasai oleh Kerajaan Majapait, Kerajaan Berau telah menaklukan Kerajaan Tidung. Penaklukan terhadap Kerajaan Berau sekaligus juga penguasaan terhadap daerah taklukan Kerajaan Berau, termasuk di dalamnya Kerajan Tidung. Dari sini bisa dilihat bahwa Kerajaan Tidung yang semula berada di bawah penguasaan Kerajaan Berau kini beralih menjadi di bawah penguasaan Kerajaan Majapahit.

Penguasaan Kerajaan Berau oleh Majapahit tak berlangsung lama. Pada catur wulan pertama abad ke-XV, beberapa wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit di Kalimantan mulai melepaskan diri. Persoalan ini tak lepas dari mulai melemahnya posisi Kerajaan Majapahit di Jawa sehingga pengawasan (kontrol) terhadap daerah taklukan, terutama di kawasan mancanegara, menjadi lemah. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Kerajaan Berau untuk melepaskan diri dari pengaruh Kerajaan Majapahit. Terhitung sejak masa pemerintahan Aji Surya Nata Kesuma (1400 – 1432), Kerajaan Berau sepenuhnya terlepas dari Kerajaan Majapahit (http://bumibatiwakkal.blogspot.com/).

Sejak melepaskan diri dari Kerajaan Majapahit dan Kerajaan berau berdiri sendiri, status Kerajaan Tidung kini kembali berada di bawah penaklukan Kerajaan Berau. 400 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1800-an, terjadi perselisihan soal perebutan tahta di Kerajaan Berau ketika diperintah oleh sultan ke-14, Sultan Muhammad Zaenal Abidin (1779-1800) (http://bumibatiwakkal.blogspot.com/). Perebutan tahta terjadi antara Gazi Mahyudin (adik Sultan Muhammad Zaenal Abidin) dengan Raja Alam (keturunan dari Aji Pangeran Tua, sultan ke-10 Kerajaan Berau). Perselisihan yang berlarut-larut berakibat pada lemahnya kontrol kekuasaan terhadap daerah taklukan. Hal ini mengakibatkan dua kerajaan yang sebelumnya berada di bawah penguasaan Kerajaan Berau, yaitu Kerajaan Bulungan dan Tidung, melepaskan diri dan berdiri secara independen. Sejak tahun tersebut, status Kerajaan Tidung tidak lagi berada di bawah penguasaan Kerajaan Berau.

Versi lain dari terlepasnya Kerajaan Tidung dari Kerajaan Berau dikisahkan oleh Tjilik Riwut. Di dalam buku Kalimantan membangun : Alam dan kebudayaan, Tjilik Riwut menyatakan bahwa, di Tanjung Palas (Pesisir Tidung), timur laut Batu Tinagat, zaman dahulu tinggal seorang raja bernama Manterie Gumbang yang menguasai Tidung, Solok, Bulungan, dan Kutai. Manterie Gumbamg digambarkan sebagai sosok yang kejam sehingga banyak rakyat yang ingin membunuhnya. Rakyat kemudian membuat sebuah peti dan difungsikan sebagai jebakan. Singkat cerita, raja yang kejam tersebut termakan oleh jebakan dan masuk ke dalam peti. Peti kemudian dipaku dan dihanyutkan ke laut hingga raja tersebut meninggal dunia. Sepeninggal sang raja terjadilah perebutan kekuasaan untuk menguasai Berau, Solok, Bulungan, Tidung, dan Kutai. Akibat dari perselisihan tersebut terbentuklah beberapa kesultanan sendiri-sendiri (Tjilik Riwoet, 1993:121-122).

4. Wilayah Kekuasaan


Wilayah Kekeuasaan Kerajaan Tidung

Ketika diperintah oleh Raja Begawan (raja ke-7) pada masa Kerajaan Tidung Kuno, wilayah kekuasaan kerajaan ini telah lebih besar dari wilayah Kabupaten Bulungan sekarang. Jika digambarkan wilayah tersebut meliputi Tanjung Mangkaliat di selatan kemudian ke utara sampai di Kudat (Sabah, Malaysia) (http://takapana.blogspot.com/ dan http://indonesia-life.info/kolom/). Pada perkembangan kemudian, wilayah kekuasaan Kerajaan Tidung semakin meluas sehingga meliputi beberapa daerah, yaitu: Beluran, Betayau, Bunyu, Kalabakan, Labuk, Lumbis, Malinau, Mandul, Mentarang, Nunukan, Pulau Sebatik, Salim Batu, Sebuku, Sekatak, Sembakung, Serudung, Sesayap, Simendalen, Soembol, dan Tarakan.  Di daerah Beluran, kekuasaan Kerajaan Tidung juga menguasai beberapa suku Dayak yang telah mendiami daerah tersebut, yaitu Ulun Aboy Tidung, Ulun Adang, Ulun Belusu, Ulun Daye, Ulun Kelabat, Ulun Krayan, Ulun Libun, Ulun Mentarang, Ulun Punan, Ulun Putuk, Ulun Saban, Ulun Tenggalan, dan Ulun Tubu (http://www.bunyu-online.com/). Bahkan sebelum dipersatukan ke dalam satu kerajaan atau masih dikenal sebagai Kerajaan Tidung Kuno, wilayah kekuasaan kerajaan ini masing-masing mempunyai kerajaan yang berdiri sendiri seperti, Raja Berusu (Belusu), Raja Tenggalan / Ngabok, Raja Punan, dan Raja Ulun Daye / Aboi Tidoeng (http://www.bunyu-online.com/). 

(Tunggul Tauladan/ker/01/10-2010)

Referensi

“Daftar nama raja-raja yang memerintah Kerajaan Tarakan” tersedia di http://thetidung.blogspot.com, diakses pada tanggal 7 Oktober 2010.

“Historis asal-usul Berau: Tinjauan historis tentang Kerajaan Berau (Kuran), tersedia di http://bumibatiwakkal.blogspot.com, diakses pada tanggal 9 Oktober 2010.

“Kerajaan Tidung ada di Bulungan” tersedia di http://www.poskotakaltim.com, diakses pada tanggal 1 Juli 2010.

“Kerajaan Tidung Kuno” tersedia di http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Tidung_kuno diakses pada tanggal  1 Juli 2010

“Kerajaan Tidung: Bagian 1” tersedia di http://takapana.blogspot.com, diakses pada tanggal 1 Juli 2010.

“Kerajaan Tidung: Bagian 2” tersedia di http://takapana.blogspot.com, diakses pada tanggal 1 Juli 2010.

“Kerajaan Tidung:Bagian satu” tersedia di http://takapana.blogspot.com, diakses pada tanggal 1 Juli 2010

“Kerajaan Tidung” tersedia di http://indonesia-life.info/kolom, diakses pada tanggal 7 Oktober 2010

“Kutipan sejarah beberapa kerajaan di Kalimantan Timur” tersedia di http://www.bunyu-online.com, diakses pada tanggal 1 Juli 2010.

“Silsilah raja Tidung Kuno” diunduh dari http://thetidung.blogspot.com/ pada tanggal 1 Juni 2010.

“Silsilah raja Tidung Kuno” tersedia di http://thetidung.blogspot.com, diakses pada tanggal 7 Oktober 2010.

“Suku Tidung” tersedia di http://id.wikipedia.org diakses pada tanggal 8 Oktober 2010.

Deni Prasetyo, 2009. Mengenal kerajaan-kerajaan nusantara. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.

Tjilik Riwoet, 1993. Kalimantan membangun : Alam dan kebudayaan. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Sumber foto

Dibaca : 25.226 kali.

Komentar untuk "kerajaan tidung"

21 Apr 2016. minjar kasnika
sebenarnya saya sanggat setuju tentang pembahasan masalah kerajaan tidung ini. namun setelah saya baca bahwa tentang kerajaan tidung dan susunan silsilanya ada kejangalan . kalau menurut riwayat dari moyang moyang saya bahwa kerajaan tidung muncul ketika awal mulanya memeluk agama islam di sembakung, kemudian tidak lagi disebut orang dayak karna orang tidung tersebut sudah islam dan turunlah orang (mereka) tersebut dari gunung (nama gunung dirahasia) dan tinggal didaratan rendah/hilir sehingga orang orang dayak yang tinggal di hulu yang merupakan masih mempunyai satu moyang yang sama sebelum orang-orang tidung masuk islam. setelah islam berkembang pesat di hilir/dataran rendah munculnya kerajaan - kerajaan tidung yang dimana ada di sembakung, sumbol-sebuku, tanjung palas , malinau. sebelum adanya kesultan bulungan. maaf sekian dulu ya saya menceritakan sedikit saja dan singkat saja perlu diketahui juga awal mula nama tidung berarti orang gunung yang tinggal didataran rendah setelah berpisah / meninggalkan suku dayak yang ada dihulu setelah tidung masuk islam.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password