Kamis, 30 Oktober 2014   |   Jum'ah, 6 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 1.666
Hari ini : 11.629
Kemarin : 22.978
Minggu kemarin : 154.939
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.290.454
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Masjid Bersejarah Nagari Koto Nan Ampek, Payakumbuh, Sumatra Barat

Masjid Bersejarah Nagari Koto Nan Ampek merupakan salah satu masjid bersejarah di Payakumbuh, Sumatra Barat. Masjid yang telah berusia lebih dari satu setengah abad ini menjadi salah satu situs bersejarah dan cagar budaya Melayu. Masjid Bersejarah Nagari Koto Nan Ampek menjadi simbol perpaduan Islam dengan adat-istiadat Melayu.

1. Sejarah Pembangunan

Masjid Bersejarah Nagari Koto Nan Ampek yang terletak di Kota Payakumbuh, Sumatra Barat, mempunyai sejarah panjang dan berhubungan dengan riwayat wilayah nagari itu sendiri. Masjid ini terletak di Nagari Kota Nan Empat sebagai salah satu wilayah yang berada di Kota Payakumbuh. Masjid ini diperkirakan berusia lebih dari satu setengah abad. Diperkirakan, Masjid Bersejarah Kota Nan Empat didirikan pada sekitar tahun 1840, yakni pada masa kolonial Hindia Belanda (Abdul Baqir Zein, 1999: 45).

Nama Masjid Bersejarah Koto Nan Ampek mengacu pada nama tempat pendirian masjid ini, yaitu Nagari Kota Nan Empat atau Nagari Koto Nan Ampek dalam bahasa Minangkabau. Masjid ini terletak di tengah-tengah nagari (desa), berdampingan dengan balai adat, yang kemudian menjadi perlambang adat bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah sebagai salah satu bentuk kearifan kebudayaan Melayu. Simbol yang ada di masjid ini memperlihatkan bahwa adat-istiadat masyarakat Melayu Minangkabau berdasarkan pada ajaran agama Islam.

Masyarakat Melayu Minangkabau bukan hanya taat memegang adat, namun juga teguh dalam mematuhi syariat Islam. Kehidupan masyarakat yang demikian tampaknya sesuai dengan pepatah Melayu Minangkabau, yaitu syara’ mangato, adat mamakai. Artinya, “sesuatu yang telah ditetapkan oleh syara’ syariat Islam, akan dilaksanakan sesuai dengan adat yang berlaku.”

2. Lokasi

Masjid Bersejarah Nagari Koto Nan Ampek secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kelurahan Balai Nan Duo, Kecamatan Payakumbuh Barat, Kota Payakumbuh, Provinsi Sumatra Barat, Indonesia.

3. Luas

Masjid Bersejarah Koto Nan Ampek berdiri di atas lahan seluas 1.550 m2 dengan bangunan masjid seluas sekitar 289 m2.

4. Arsitektur

Masjid Bersejarah Koto Nan Ampek dibangun dengan arsitektur khas Minangkabau. Masjid yang menjadi kebanggaan masyarakat Melayu Minangkabau ini mempunyai atap tiga tingkat dengan kubah lonjong yang menjulang tinggi dengan sisi-sisi runcing menjulang. Bentuk bangunan masjid memberikan kesan kuat betapa agama Islam sudah menyatu begitu kuat dengan kehidupan masyarakat Minangkabau. Kesan ini tidak berlebihan karena budaya Melayu sendiri mempunyai sejarah panjang dalam asimilasinya dengan Islam kendati budaya Melayu tidak selalu identik dengan Islam. Arsitektur masjid ini menegaskan bahwa masyarakat Melayu Minangkabau, selain merupakan masyarakat yang teguh dalam memegang syariat Islam, juga memegang teguh adat-istiadat mereka.

Bangunan Masjid Bersejarah Koto Nan Ampek berbentuk panggung dengan satu pintu untuk keluar masuk jamaah. Bangunan atap masjid berbentuk piramida dengan bahan dasar kayu. Sebagian besar bangunan masjid ini, mulai dari lantai, tiang, dan dindingnya, juga terbuat dari bahan dasar kayu. Bentuk bangunan dan bahan dasar masjid ini masih dipertahankan hingga kini. Hanya saja atap masjid yang semula terbuat dari bahan ijuk telah diganti dengan seng. Selain sebagai tempat ibadah masyarakat Payakumbuh dan sekitarnya, Masjid Bersejarah Koto Nan Ampek juga memiliki beberapa fasilitas antara lain: ruang kantor, perpustakaan, gerbang jalan masuk ke dalam masjid, ruang untuk musafir, madrasah, dan TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an).

5. Perencana

Masjid Bersejarah Koto Nan Ampek dibangun pada masa pemerintahan Sutan Khedoh, seorang wedana di wilayah Payakumbuh pada masa penjajahan Belanda yang berasal dari suku Koto. Ada tiga orang yang memimpin pembangunan masjid ini yang ketiganya berasal dari suku yang berbeda, yaitu: Datuk Kuning dari Suku Kampai, Datuk Pangkai Sinaro dari Suku Piliang, dan Datu Siri Dirajo dari Suku Melayu (Susanto Rahmat, 2009). Sedangkan lahan untuk pembangunan masjid merupakan wakaf dari empat kaum, yaitu kaum Datuk Rajo Mantiko Alam dan Datuk Bangso Dirajo Nan Hitam yang keduanya berasal dari persukuan Simabur, serta kaum Datuk Paduko Majo Lelo dan Datuk Sinaro Kayo yang berasal dari persukuan Bodi (Abdul Baqir Zein, 1999: 46).

6. Renovasi

Masjid Bersejarah Koto Nan Ampek, yang sudah ratusan tahun, pernah mengalami beberapa kali renovasi. Renovasi yang dilakukan adalah mengubah bentuk atap menjadi bentuk bagonjong dan berjendela. Selain itu, juga memperluas masjid yang semula 17x17 m2 menjadi 20x20 m2 agar dapat menampung lebih banyak jamaah.

(Mujibur Rohman/bdy/28/05-2011)

Sumber foto: http://chezumar.multiply.com

Referensi

Abdul Baqir Zein, 2009. Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia. Jakarta: Gema Insani Press.

Susanto Rahmat, 2009. “Masjid Gadang Kuto Nan Ampek”. [Online] Tersedia di: http://wisatasejarah.wordpress.com [Diunduh pada 28 April 2011].

Dibaca : 8.369 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password