Rabu, 1 Maret 2017   |   Khamis, 2 Jum. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 5.682
Hari ini : 35.482
Kemarin : 57.193
Minggu kemarin : 499.799
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 101.829.600
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sastra Melayu

Nahkoda yang Tamak (Selangor)

a:3:{s:3:

Selangor atau yang lazim dikenal Selangor Darul Ihsan adalah salah satu negeri yang berada di wilayah Malaysia Barat, tepatnya antara Semenanjung Malaysia dan Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur. Di wilayah Selangor terdapat sebuah daerah yang dikenal dengan Kampung Asam Jawa. Konon, di kampung ini ada seorang pemuda miskin bernama Yatim. Pada suatu waktu, ia pergi meminang gadis pujaannya, Aminah. Namun, karena ia seorang pemuda miskin, pinangannya ditolak oleh Ayah Aminah. Apa yang akan dilakukan Yatim untuk dapat mempersunting Aminah? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Nahkoda Yang Tamak berikut ini!     

* * *

Alkisah, di Kampung Asam Jawa, Selangor, Malaysia, hiduplah seorang pemuda miskin bernama Yatim. Ia tinggal sendirian di sebuah gubuk di pinggir kampung. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, ia mencari kayu bakar di hutan dan dijual ke pasar. Hasil penjualannya ia gunakan untuk membeli beras dan lauk-pauk.

Pada suatu hari, Yatim tidak pergi ke hutan mencari kayu, karena Kepala Kampung memerintahkan kepada seluruh warganya untuk bergotong-royong membersihkan kampung. Seketika, Kampung Asam Jawa  menjadi tampak ramai. Kaum laki-laki sibuk membersihkan rumput yang tumbuh liar di pinggir jalan, sedangkan kaum perempuan sibuk memasak berbagai masakan untuk dimakan bersama setelah kegiatan gotong-royong selesai.

Pada saat perjamuan makan siang, putri Kepala Kampung itu yang bernama Aminah, juga ikut sibuk melayani kaum laki-laki yang baru selesai bekerja. Secara tidak sengaja, Aminah bertemu pandang dengan Yatim. Berawal dari saling pandang itu mereka kemudian menjalin hubungan kasih. Setelah beberapa bulan berhubungan, Yatim berniat untuk meminang Aminah.

“Mungkinkah Ayah Aminah mau menerima pinanganku? Aku ini anak yatim yang miskin, sedangkan Aminah adalah anak Kepala Kampung yang kaya,” kata Yatim nampak bingung.

Setelah beberapa lama berpikir, ia pun tetap bertekad ingin meminang Aminah. Pada suatu malam, ia berangkat sendiri ke rumah Aminah.

“Hei, Yatim! Ada apa kamu malam-malam begini ke sini?” tanya Ayah Aminah.

“Maaf, Tuan! Maksud kedatangan saya malam-malam ke sini adalah untuk meminang putri, Tuan!” jawab Yatim sambil menundukkan kepala karena segan.

“Apa? Meminang Aminah!” Ayah Aminah tersentak kaget.

“Hei, Yatim! Seharusnya kamu itu berkaca. Kamu itu pemuda yatim piatu dan miskin, sedangkan putriku adalah anak Kepala Kampung dan kaya!” seru Ayah Aminah menghardik Yatim.

Sambil menahan rasa kecewa, ia mencoba meyakinkan Ayah Aminah dengan berkata:

“Tapi, Tuan! Saya dan Aminah sudah saling menyayangi,” jawab Yatim.

Alasan Yatim itu bukannya meluluhkan hati Ayah Aminah, tetapi justru membuatnya semakin marah, karena Yatim telah menjalin kasih dengan Aminah secara diam-diam.

“Hei, Yatim! Berani sekali kamu berhubungan dengan putriku tanpa sepengetahuanku! Pergi dari sini. Aku sudah muak melihatmu!” usir Ayah Aminah.

Laksana disambar petir pemuda itu diusir oleh orang tua kekasihnya. Hatinya hancur berkeping-keping karena pinangannya ditolak. Dengan perasaan sedih dan kecewa, Yatim pulang ke gubuknya. Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba terlintas dalam pikirannya hendak pergi merantau. Setelah kaya, ia akan segera kembali meminang Aminah.

Keesokan harinya, setelah mempersiapkan segala keperluan untuk di perjalanan, Yatim berangkat ke Kuala Selangor, ibu kota Kerajaan Selangor. Kota ini adalah kota dagang yang sangat ramai. Sesampai di kota itu, ia bekerja pada seorang saudagar kaya yang bernama Muluk. Pada awalnya, ia hanya sebagai pembantu rumah tangga. Setelah beberapa bulan bekerja, ia kemudian dipekerjakan sebagai penjaga gudang. Yatim sangat rajin dan tekun bekerja, sehingga ia sangat disayangi oleh keluarga saudagar Muluk. Yatim pun semakin betah bekerja di tempat itu. Apalagi juragannya mempunyai seorang putri cantik jelita yang telah menjadi kekasihnya. Ia sudah tidak ingat lagi dengan kekasihnya yang lama, Aminah, yang tinggal di kampung.

Setahun kemudian, Yatim menikah dengan putri saudagar Muluk. Setelah itu, ia diangkat menjadi nahkoda pada sebuah kapal milik mertuanya. Sejak itu, ia pun terkenal sebagai Nahkoda Yatim. Setiap seminggu sekali Yatim berlayar ke berbagai negeri di Malaysia untuk mengangkut barang dagangan mertuanya.

Pada suatu hari, kapal Nahkoda Yatim ditumpangi oleh Syekh Maulana. Di atas kapal itu, Syekh Maulana bercerita kepadanya bahwa ia pernah terdampar di sebuah pulau yang menyimpan banyak harta karun.

“Benarkah yang engkau katakan itu?” tanya Nahkoda Yatim penasaran.

“Benar, Yatim! Ini buktinya!” jawab Syekh Maulana sambil menunjukkan sebutir permata yang diperolehnya dari pulau itu.

“Amboiii...! Indah sekali permata ini!” seru Nahkoda Yatim takjub melihat keindahan permata itu.

“Syekh, dapatkah engkau menunjukkan letak pulau itu?” tanya Nahkoda Yatim.

Mendengar pertanyaan itu, Syekh Maulana hanya tersenyum.

“Jika Syekh menunjukkan letak pulau itu, harta karun itu kita bagi dua,” sambung Nahkoda Yatim.

“Baiklah, saya setuju dengan permintaanmu,” jawab Syekh Maulana.

Setelah mengetahui letak pulau itu, Nahkoda Yatim memerintahkan anak buahnya kembali ke Kuala Selangor untuk mengambil sebuah kapal lagi, karena khawatir kapal yang dinahkodainya itu tidak dapat mengangkut seluruh harta karun di pulau itu.  

Setelah itu, berangkatlah mereka dari Kuala Selangor menuju ke pulau itu dengan membawa dua buah kapal. Sesampai di sana, Nahkoda Yatim segera memerintahkan anak buahnya agar mengangkat seluruh harta karun yang tersimpan di dalam gua di pulau itu untuk dibawa naik ke kedua kapalnya. Setelah seluruh harta karun itu diangkat, kini giliran Syekh Maulana menagih janji kepada Nahkoda Yatim.

“Hei, Nahkoda Yatim! Mana bagian saya?” tanya Syekh Maulana.

Mendengar pertanyaan itu, Nahkoda Yatim terdiam sejenak. Sifat tamak tiba-tiba menyelimuti pikirannya. Ia berpikir untuk mencari cara agar dapat memiliki seluruh harta karun itu.

“Begini, Syekh! Aku bersedia menyerahkan sebuah kapalku yang berisi hartu karun itu, tetapi kamu harus memindahkan separuh dari harta karunmu itu ke kapalku,” kata Yatim.

Syekh Maulana pun memberikannya. Namun, rupanya Nahkota Yatim belum puas jika tidak memiliki seluruh harta karun itu.

“Syekh, jika kamu tidak menyerahkan seluruh harta karun itu, maka kapal itu akan saya ambil kembali dan kami akan meninggalkanmu sendiri di pulau ini,” ancam Nahkota Yatim kepada Syekh Maulana.

“Baiklah, Nahkoda Yatim! Ambillah semua harta karun itu!” jawab Syekh Maulana.

Setelah seluruh harta karun tersebut dipindahkan ke kapal Nahkoda Yatim, Syekh Maulana pun mohon pamit. Namun, sebelum ia naik ke kapal yang sudah kosong itu, kotak tembaga yang dipegangnya pun diminta oleh Nahkoda Yatim. Syekh Maulana pun memberikannya.

“Kotak ini berisi obat gosok ajaib. Jika suatu saat kamu membutuhkannya, kamu boleh menggunakannya,” kata Syekh Maulana lalu bergegas naik ke kapalnya dan meninggalkan pulau itu.

Setelah Nahkoda Yatim menerima kotak itu, ia pun segera meninggalkan pulau itu, tetapi dengan arah yang berbeda.

Di atas kapalnya yang penuh dengan harta karun, Nahkoda Yatim segera membuka kotak tembaga itu. Maka terlihatlah sebuah botol kecil yang berisi minyak gosok. Pada botol itu terdapat tulisan yang bunyi seperti berikut:

Jika minyak ini digosokkan pada mata kanan,
akan terlihat seluruh harta karun yang ada di dalam laut, gua, dan tanah.
Jika digosokkan pada mata kiri, dapat membuat kedua mata menjadi buta.

Setelah membaca tulisan itu, Nahkoda Yatim segera menggosokkan minyak itu pada mata kanannya. Kedua matanya terasa sangat perih. Namun, beberapa saat kemudian, ia dapat melihat seluruh harta karun yang tersembunyi di dalam laut, gua, dan tanah. Ia sangat gembira dan semakin tamak.

“Ha...! Ha... ! Ha... ! Aku akan mendapatkan semua harta karun itu,” ucap Nahkoda Yatim sambil tertawa terbahak-bahak.

“Ada apa, Tuan? Kenapa Tuan kelihatan gembira sekali?” tanya salah seorang anak buahnya.

“Hai, anak buah! Sebentar lagi aku menjadi orang terkaya di dunia,” jawab Nahkoda Yatim sambil melompat-lompat kegirangan di atas kapalnya.

Pada saat itu, tiba-tiba mata kirinya kemasukan benda kecil. Ia pun segera menggosok-gosoknya. Namun, tanpa disadari, ternyata di tangannya masih menempel minyak gosok sisa yang digunakan untuk menggosok mata kanannya. Matanya pun menjadi perih. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba penglihatannya menjadi gelap-gulita. Ia terus menggosok-gosok kedua matanya, sehingga kedua matanya menjadi buta.

“Tolooonggg...! Tolooonggg...!  Mataku buta,” jerit Nahkoda Yatim.

Pada saat yang bersamaan, tiba-tiba angin bertiup kencang. Air laut bergelombang besar dan bergulung-gulung menghantam kapal Nahkoda Yatim hingga pecah.

“Toloonnggg...! Maafkan aku, Syekh! Aku tidak akan berbuat tamak lagi!” terdengar suara Nahkoda Yatim meminta maaf menyesali perbuatannya.

Namun, Syekh Maulana sudah tidak dapat mendengarkan lagi teriakannya. Akhirnya, kapal Nahkoda Yatim beserta seluruh isinya tenggelam di tengah laut.

* * *

Demikian cerita Nahkoda Yang Tamak dari Negeri Selangor, Malaysia. Cerita di atas termasuk cerita rakyat teladan yang mengandung nilai-nilai moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu di antaranya adalah akibat yang ditimbulkan dari sifat tamak atau loba. Sifat ini tercermin pada sikap Nahkoda Yatim yang tidak pernah merasa puas dengan harta karun yang dimilikinya dan berusaha untuk menguasai harta orang lain. Oleh karena sifat tamaknya itu, Tuhan menghukumnya dengan menenggelamkannya di tengah laut. Dalam ungkapan orang Melayu dikatakan:

apa tanda orang yang tamak,
karena harta marwah tercampak

kalau orang tamak dan kikir,
halal haram tiada berpikir

(SM/sas/66/04-08)

Sumber :

  • Isi cerita diadaptasi dari Puteh, Othman dan Aripin Said. 2004. Himpunan 366 Cerita Rakyat Malaysia. Kuala Lumpur: PRIN-AD SDN. BHD.
  • Anonim. “Selangor”, (http://ms.wikipedia.org/wiki/Selangor, tanggal 16 April 2008).
  • Anonim. “Selangor” http://id.wikipedia.org/wiki/Selangor, tanggal 16 April 2008).
  • Effendy, Tenas. 1994/1995. “Ejekan” Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Pekanbaru, Bappeda Tingkat I Riau.
  • Safarwan, Zainal Abidin. 1995. Kamus Besar Bahasa Melayu Utusan. Kuala Lumpur: Utusan Publications & Distributors Sdn Bhd. 
Kredit foto : Buku 366 Cerita Rakyat Malaysia
Dibaca : 27.526 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password