Jumat, 26 Mei 2017   |   Sabtu, 29 Sya'ban 1438 H
Pengunjung Online : 5.872
Hari ini : 30.921
Kemarin : 127.290
Minggu kemarin : 688.898
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.468.240
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sastra Melayu

Asal Mula Kampung Kuala Sawah (Negeri Sembilan)

a:3:{s:3:

Negeri Sembilan Darul Khusus adalah salah satu negara bagian di Malaysia yang terletak di Semenanjung Malaysia. Di negeri yang beribukota Seri Menanti ini terdapat sebuah kampung yang dikenal dengan Kuala Sawah. Menurut cerita, dahulu kampung ini merupakan sebuah danau yang dihuni oleh beraneka jenis ikan. Namun karena terjadi suatu peristiwa yang mengerikan, danau itu berubah menjadi sebuah kampung. Peristiwa apa sebenarnya yang terjadi sehingga danau itu berubah menjadi sebuah kampung yang diberi nama Kuala Sawah? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalan cerita Asal Mula Kampung Kuala Sawah berikut ini!

* * *

Alkisah, di Negeri Sembilan, Semenanjung Malaysia, ada sebuah danau yang di dalamnya hidup berbagai jenis ikan. Danau itu pertama kali ditemukan oleh seorang datuk yang bernama Tuk Ujang. Sejak itu, Tuk Ujang tinggal di tepi danau itu. Untuk memenuhi keperluan sehari-harinya, seperti mandi, minum, dan masak, ia mengambil air dari danau itu.

Pada suatu malam, Tuk Ujang bermimpi didatangi oleh seorang kakek. Dalam mimpinya, kakek itu berpesan kepadanya.

“Wahai, Tuk Ujang! Ketahuilah! Danau itu adalah milik penduduk Negeri Kayangan. Semua ikan yang ada di dalamnya adalah peliharaan putri raja di kayangan. Ikan-ikan tersebut tidak boleh dimakan oleh manusia. Siapapun yang memakannya, maka ia akan celaka.”

Setelah menyampaikan pesan, Kakek itu langsung pergi. Tuk Ujang pun terbangun dari tidurnya. Ia yakin dan percaya dengan mimpi itu. Oleh karenanya, ia tidak berani menangkap ikan di danau itu, apalagi memakannya. Setiap ada orang baru yang hendak bermukim di kawasan danau itu, Tuk Ujang selalu berpesan kepada mereka agar tidak menangkap ikan di danau. Semakin hari, daerah itu semakin ramai penduduknya. Namun, tidak seorang pun yang berani menangkap ikan di danau, karena takut mendapat celaka.

Pada suatu hari, datanglah seorang janda yang bernama Cik Sambi hendak menjadi penduduk di daerah itu. Mengetahui kedatangan Cik Sambi, Tuk Ujang sebagai sesepuh kampung segera menemuinya.

“Permisi! Saya Tuk Ujang,” kata Tuk Ujang memperkenalkan diri.

“Anda siapa?‘ tanya Tuk Ujang.

“Saya Cik Sambi, Tuk! Saya seorang janda yang tidak mempunyai sanak keluarga lagi. Bolehkan saya tinggal di daerah ini?” tanya Cik Sambi.

“Boleh, Cik! Tapi, Cik Sambi tidak boleh menangkap ikan di danau itu,” pesan Tuk Ujang sambil menunjuk ke arah danau itu.

“Kenapa, Tuk!” tanya Cik Sambi penasaran.

Tuk Ujang pun menceritakan semua perihal mimpinya kepada Cik Sambi. Ia juga memberitahukan kepadanya bahwa seluruh penduduk tidak ada yang berani untuk menangkap ikan di danau itu.

“Iya, Tuk!” jawab Cik Sambi sambil tersenyum sinis, seolah-olah tidak percaya dengan keterangan Tuk Ujang.

Setelah Tuk Ujang pergi, Cik Sambi berjalan ke tepi danau untuk melihat-lihat pemandangan. Sambil duduk, ia memandangi gerombolan ikan yang bermunculan di permukaan air.

“Memang benar, danau ini banyak sekali ikannya. Tapi, kenapa penduduk di sini tidak mau menangkapnya? Ah, bodoh sekali mereka yang mau percaya begitu saja perkataan Tuk Ujang,” pikir Cik Sambi.

Setelah beberapa hari tinggal di daerah itu, Cik Sambi semakin tidak sabar ingin menangkap ikan di danau itu. Pada suatu malam, bulan bersinar sangat terang, Cik Sambi pergi ke danau itu untuk menangkap ikan dengan membawa jala, beras, dan sebuah kantong tempat ikan. Dalam perjalanan menuju danau, ia mendengar suara sedang menegurnya. Setelah menoleh ke belakang, ia melihat seorang perempuan tua.

“Hai, Cik Sambi! Hendak ke mana kamu?” tanya Nenek itu.

“Saya hendak menangkap ikan, Nek!” jawab Cik Sambi.

“Jangan, Cik! Ikan di danau itu tidak boleh dimakan oleh manusia. Kembalilah! Nanti kamu celaka,” cegah Nenek itu.

“Saya tahu! Nenek tidak perlu menasehatiku. Nenek saja yang kembali!” jawab Cik Sambi menolak ajakan Nenek itu.

“Jangan, Cik! Berbahaya!” seru Nenek itu menasehati lagi Cik Sambi.

Walaupun nenek itu berkali-kali menasehati Cik Sambi agar tidak menangkap ikan di danau, namun Cik Sambi tetap tidak mau mengurungkan niatnya.

Setelah nenek itu pergi, Cik Sambi berjalan menuju ke danau. Sesampai di danau, Cik Sambi segera menabur beras dan menebarkan jalanya. Ia pun mendapat ikan yang banyak. Namun ia heran, karena hasil tangkapannya hanya ikan lele. Meski demikian, ia tetap merasa senang, karena mendapat ikan yang banyak. Lalu ikan-ikan tersebut ia masukkan ke dalam kantong dan membawanya pulang.

Sesampai di rumahnya, Cik Sambi segera membakar beberapa ekor ikan lele. Setelah matang, ia langsung menyantapnya tanpa nasi.

“Mmm, lezat sekali ikan lele ini! Sungguh bodoh orang-orang di kampung ini,” gumam Cik Sambi sambil menikmati kelezatan ikan lele bakar itu.

Setelah puas dan kenyang makan beberapa ekor ikan lele, Cik Sambi pun pergi tidur. Keesokan paginya, ia sangat terkejut. Tiba-tiba perutnya terasa sakit sekali, seperti terlilit sesuatu.

“Aduuuhhhh.... perutku sakit sekali...!!! Tolooong.... Tolooong.....!!!” Cik Sambi merintih kesakitan sambil berteriak minta tolong.

Mendengar rintihan dan teriakan Cik Sambi, seluruh warga pun berdatangan ke rumahnya.

“Ada apa denganmu, Cik Sambi!” tanya seorang warga.

“Perutku sakiiiit.... !” jawab Cik Sambi sambil menahan rasa sakit.

“Kenapa bisa begitu, Cik?” tanya Tuk Ujang penasaran.

“Semalam saya makan ikan lele dari danau itu,” jawab Cik Sambi.

“Hah! Bukankah aku sudah peringatkan agar tidak makan ikan yang ada danau itu? Kamu memang keras kepala, Cik Sambi!” ujar Tuk Ujang.  

Seluruh warga berusaha untuk menolongnya, namun tak seorang pun yang mampu mengobatinya. Tidak lama kemudian, datanglah si Nenek yang telah menasehatinya semalam. Ketika melihat wajah Nenek itu, Cik Sambi tiba-tiba berteriak.

“Jangan campakkan aku ke dalam danau!” Jangan campakkan aku ke dalam danau!”

Nenek itu pun berusaha untuk mengobatinya, namun Cik Sambi tetap menjerit kesakitan. Tidak berapa lama kemudian, tiba-tiba ia berubah menjadi ikan menyerupai ikan lele. Namun, bentuknya lebih besar dan warnanya tidak hitam. Seluruh warga sangat terkejut melihat peristiwa itu.

Nenek itu kemudian menyuruh beberapa warga untuk membawa ikan lele itu ke Sungai Lukut yang berada di pinggir kampung. Setelah dilepas di sungai, ikan lele itu berenang menuju ke laut. Oleh karena ia tidak cocok hidup di dalam air asin, ia pun berbalik haluan kembali ke danau. Namun, danau itu telah kering. Akhirnya, ia pun hidup di dalam Sungai Lukut.

Kemudian danau yang telah kering itu dijadikan oleh warga setempat sebagai sawah dan kampung. Kampung itu mereka beri nama Kuala Sawah. Sementara ikan lele jelmaan Cik Sambi itu mereka beri nama ikan Sembilang Kuala Sawah.

* * *

Demikian cerita Asal Mula Kampung Kuala Sawah dari Negeri Sembilan, Semenanjung Malaysia. Cerita di atas termasuk cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang terkandung di dalamnya adalah akibat yang ditimbulkan dari sifat keras kepala atau tidak mau mendengar nasehat orang lain. Sifat ini tercermin pada sikap Cik Sambi yang tidak mau mendengar nasehat Tuk Ujang dan seorang nenek untuk tidak memakan ikan dari danau itu. Akibatnya, ia pun berubah menjadi seekor ikan lele, karena terkena kutukan. Terkait dengan sifat ini, dalam  tunjuk ajar Melayu dikatakan:

apa tanda orang yang malang,
tidak mau mendengar pendapat orang

(SM/sas/68/04-08)

Sumber:

  • Isi cerita diadaptasi dari Puteh, Othman dan Aripin Said. 2004. Himpunan 366 Cerita Rakyat Malaysia. Kuala Lumpur: PRIN-AD SDN. BHD.
  • Anonim. “Negeri Sembilan,” (http://id.wikipedia.org/wiki/Negeri_Sembilan, diakses tanggal 23 April 2008).
  • Effendy, Tenas. 1994/1995. “Ejekan” Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Pekanbaru, Bappeda Tingkat I Riau.
Kredit foto : Buku 366 Cerita Rakyat Malaysia
Dibaca : 22.186 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password