Senin, 20 Oktober 2014   |   Tsulasa', 25 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 762
Hari ini : 2.514
Kemarin : 22.025
Minggu kemarin : 174.811
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.245.135
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sastra Melayu

Pertunjukan Lamut Kabupaten Indragiri Hilir

Lamut merupakan seni tutur masyarakat Banjar, Kalimantan selatan. Namun, kesenian tersebut juga berkembang di Sumatera seiring dengan migrasi Suku Banjar ke Tembilahan, Indragiri Hilir di masa Sultan Isa, raja Indragiri sebelum yang terakhir.

1. Asal-usul

Asal-usul Suku Banjar di kabupaten Indragiri Hilir berasal dari Kalimantan Selatan. Kata “Banjar” diartikan sebagai membiarkan sesuatu terletak untuk suatu tujuan (Ahmad Darmawi, 2006: 19). Masyarakat Suku Banjar merupakan suku pendatang yang paling awal  melakukan migrasi ke wilayah Indragiri Hilir dan menjadi suku mayoritas melebihi suku penduduk asli.

Perpindahan Suku Banjar Kalimantan Selatan ke daerah yang baru tersebut tidak serta-merta menghilangkan tradisi dan budaya asal mereka, tapi justru mereka mengembangkan tradisi asal di wilayah baru tersebut. Salah satu tradisi yang mereka bawa dari daerah asal adalah kesenian tradisional lamut. Kehadiran Suku Banjar di wilayah Indragiri Hilir mendapat sambutan yang baik oleh suku Melayu yang asli tinggal di daerah tersebut karena keduanya merasa saudara. Tingginya asimiliasi di antara keduanya untuk dapat membedakan Suku Banjar di Indragiri Hilir disebut Melayu-Banjar. Kemudian, dalam hal seni dan budaya yang dibawa oleh Suku Banjar dari daerah asalnya seperti mamanda, madihin, lamut, kuda kipang, wayang banjar, dan Kesenian yang lain disebut sebagai seni budaya Melayu-Banjar (Ahmad Darmawi, 2006: 5).

Salah satu bentuk sastra lisan yang berkembang di Riau adalah lamut. Lamut merupakan sastra lisan klasik yang dibawa dan dikembangkan oleh para perantau dari Kalimantan Selatan di wilayah Indragiri Hilir, Riau. Perpindahan masyarakat Banjar Kalimantan Selatan tersebut diistilahkan dengan madam. Yaitu peristilahan di kalangan masyarakat Banjar tentang orang-orang yang meninggalkan kampung halamannya dan menetap di tanah rantau tanpa pernah kembali ke tanah asalnya.

Migrasi perantau Banjar ke wilayah Indragiri pertama kali terjadi antara tahun 1859-1863, di mana pada waktu itu Kerajaan Indragiri diperintah oleh Sultan Isa yang memberikan izin tinggal bagi masyarakat Banjar di daerah Kuala Indragiri atau sekitar Kota Tembilahan sekarang (Ahmad Darmawi, 2006: 32).

Jika ditilik dari bentuknya, lamut masuk dalam kategori sastra lisan naratif (Harun Mat Piah, 2002: 72). Bentuk lamut terdiri dari kata dan lagu, beredar secara lisan, dan menceritakan suatu kisah (Ahmad Darmawi, 2006: 34). Selain naratif, lamut juga masuk dalam kategori mitos yang cerita tersebut harus dipercaya. Ciri mitos dalam lamut adalah kisah tokoh-tokoh yang keramat atau dikeramatkan. Cerita-cerita tersebut biasanya diambil dari masa lalu, berhubungan dengan peristiwa-peristiwa tertentu, semisal penciptaan dunia, musim, hewan dan tetumbuhan, serta berbagai peristiwa sejenis (Harun Mat Piah, 2002: 97).

Lebih jauh Ahmad Darmawi (2006) menjelaskan beberapa tokoh yang terdapat dalam kisah lamut adalah para Dewa, manusia setengah Dewa, maupun makhluk gaib yang lain. Beberapa tokoh yang terdapat dalam lamut antara lain:

  • Lamut. Ia adalah tokoh utama sekaligus sebagai tokoh yang menjadi sentral cerita. Karakter tokoh ini dapat diserupakan dengan Semar dalam cerita pewayangan.
  • Kasan Mandi yang diserupakan dengan Arjuna;
  • Galuh Jungmasari/Galuh Junjumasari adalah Shinta;
  • Sultan Aliudin adalah makhluk raksasa sama dengan Rahwana;
  • Labai Buranta serupa dengan Gareng;
  • Anglung Anggasina/ Anglung Naga Singa adalah Petruk;
  • Palinggang Kurba diserupakan dengan Cepot, serta tokoh-tokoh yang lain.

Pertunjukan lamut meliputi dua macam, yaitu lamut batatamba dan lamut baramian. Lamut batatamba merupakan pementasan lamut yang berfungsi sebagai pengobatan, misalnya pada anak-anak yang sakit panas tak kunjung sembuh atau ada orang yang sulit melahirkan, dan lain sebagainya. Pertunjukan lamut batatamba harus disertai beberapa persyaratan, piduduk yang terdiri dari beberapa perangkat sesaji kemenyan, beras kuning, garam, kelapa utuh, gula merah, sepasang benang jarum. Kemudian dilakukan tepung tawar dengan mengundang roh-roh halus, pembacaan doa selamat, dan memandikan si sakit dengan menggunakan air yang telah didoakan tersebut (id.wikipedia.org).

Lamut baramian merupakan pertunjukan lamut yang digelar untuk mengisi acara perkawinan, syukuran, khitanan, dan untuk tujuan hiburan yang lain.

Lamut mempunyai beberapa fungsi, baik dalam hubungannya dengan kebudayaan dan tradisi maupun bagi masyarakat. Fungsi lamut dalam masyarakat antara lain, sebagai media dakwah Islam atau pun pesan pemerintah terhadap masyarakat, sebagai hiburan, sebagai ritual tolak bala atau ritual untuk kesembuhan, dan sebagai media pendidikan, sebagai alat proyeksi, sebagai alat pengesahan kebudayaan, dan sebagai alat pemaksa pemberlakuan norma masyarakat dan alat pengendalian masyarakat (Arsyad Indradi, 2006 dan James Danandjaja, 2008: 73).

Lamut sebenarnya bukan tradisi asli Melayu, namun berasal dari Cina. Pada awal perkembangannya seni tradisi ini pun masih menggunakan bahasa aslinya, yaitu bahasa Tionghoa (id.wikipedia.org). Baru pada perkembangan selanjutnya lamut menggunakan bahasa Banjar karena menyesuaikan dengan bahasa yang digunakan masyarakat setempat. Meskipun dalam perkembangannya kemudian cerita yang dilantunkan dalam lamut adalah cerita yang diadopsi dari cerita pewayangan. Masuknya Islam ke Kalimantan Selatan juga turut berpengaruh pada perkembangan Kesenian ini. Lamut yang pada mulanya tidak diiringi instrumen musik menjadi diiringi tarbang.

2. Pementasan Lamut

Pementasan lamut biasanya dilaksanakan pada malam hari. Pementasan tersebut lebih sebagai hiburan untuk masyarakat. Satu kali pementasan biasanya menghabiskan durasi antara 3 hingga 5 jam. Atau biasanya antara jam 22.00 hingga menjelang subuh (Arsyad Indradi, 2006).

Pada waktu mementaskan lamut, palamutan membawakan cerita sambil duduk bersila di atas meja kecil yang disebut cacampan berukuran 1.5 x 2 meter sambil memangku gendang sebagai alat musik pengiring lamut. Pada zaman dulu, di depan palamutan terdapat perapian untuk dupa kemenyan yang selalu berasap dan sebiji kelapa muda sebagai minuman palamutan. Sementara para penonton duduk melingkar di sekelilingnya. Pementasan lamut tidak menuntut palamutan mengenakan busana tertentu karena unsur busana tidak begitu penting dalam pementasan (Syamsiar Seman, 2006: 2).

Setelah palamutan siap, ia akan segera menggelar pementasan dengan mengikuti langkah-langkah berikut:

  • terlebih dahulu palamutan akan memainkan alat musik terbang (tarbang) sambil melantunkan nyanyian pembukaan yang terdiri dari syair-syair dan pantun;
  • narasi dan dialog disampaikan sendiri oleh palamutan, sehingga dalam hal ini palamutan harus dapat berganti-ganti karakter suara;
  • antara babak satu dan babak yang lain selalu diisi dengan dagelan;
  • seluruh rangkaian tersebut akan ditutup dengan bunyi-bunyian tarbang yang dinamis dan rancak.

Tarbang merupakan instrumen musik utama dalam pementasan lamut. Tarbang sebagai pengiring lamut bentuknya seperti rebana namun lebih besar. Alat musik ini terbuat dari kayu keras seperti kayu nangka, kayu sepat, kayu kursi, serta berbagai jenis kayu keras lainnya. Diameternya antara 45 hingga 60 cm yang ditutup dengan kulit kambing. Kulit tersebut dipasak pada kayu penampang bagian belakang tarbang agar kuat dan dipasak dengan batangan rotan di bagian dalamnya (Arsyad Indradi, 2006).

3. Sinopsis Lamut

Cerita dalam lamut yang biasa dipentaskan adalah cerita hubungan asmara antara pemuda Kasan Mandi dengan Galuh Puteri Jungmasari. Kasan Mandi adalah putera dari Maharaja Palinggam Cahaya sedangkan Galuh Puteri Jungmasari adalah puteri dari Indera Bayu, seorang raja dari Mesir Keraton. Hubungan tersebut dihalangi oleh Sultan Aliudin yang berasal dari Lautan Gandang Mirung. Ia mempunyai kesaktian yang luar biasa. Kemunculan orang ketiga dalam hubungan Kasan Mandi dan Galuh Puteri Jungmasari memberikan tantangan tersendiri bagi Kasan Mandi.

Persaingan antara Kasan Mandi dengan Sultan Aliudin menimbulkan pertarungan di antara keduanya. Dalam peperangan tersebut Kasan Mandi dibantu oleh Paman Lamut, sehingga Kasan Mandi dapat mengalahkan Sultan Aliudin. Pada akhirnya Kasan Mandi menikah dengan Galuh Puteri Jungmasari dan kemudian dikaruniai seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Bujang Maluala.

Dalam menyampaikan kisah tersebut, palamutan menyisipkan cerita-cerita humor melalui beberapa tokoh yang karakternya sama dengan punakawan dalam cerita wayang sebagaimana disebutkan di atas (Syamsiar Seman, 2006: 4).

Palamutan dituntut mempunyai keterampilan yang tinggi dalam menyampaikan kisah lamut. Palamutan dituntut untuk dapat menyeimbangkan antara penyampaian lisan dengan musik pengiring pada saat menyampaikan kisah lamut. Bahkan, ada kalanya palamutan harus mengikuti kisah tersebut dengan gerakan tubuh dan perubahan mimik wajahnya.

4. Syair dan Pantun dalam Pementasan Lamut

Pada waktu pementasan pertama kali palamutan akan memukul tarbang dengan beberapa irama, setelah itu ia akan menghaturkan salam kepada penonton dengan mendendangkan pantun pembuka. Arsyad Indradi (2006) menyebutkan beberapa pantun pembuka tersebut di antaranya:

Tabusa salah sarai sarapun
Bawa balayar kuliling nargi
Lamun tasalah banyak-banyak maminta ampun
Kisah Banjar dibawa kamari

Pinang anum barangkap-rangkap
Pinang tuhan barundun-rundun
Lawan nang anum maminta maaf
Lawan nang tuha maminta ampun

Setelah menyampaikan pantun pembuka, palamutan akan melanjutkan bersyair yang menceritakan berbagai peristiwa dalam lamut. Syairnya adalah berikut:

Bismillah itu mula pang ku bilang
Kartas pang dawat jualan dagang
Kartasnya putih salain lapang
Bukan badanku pandai mangarang
Hanya taingat di dalam badan

Ada pula syair yang mengungkapkan sebuah negeri yang kaya-raya dan sejahtera, misalnya:

Nargi Palinggam Cahaya mimang sugih
Handak malunta ada hundang
Bajanggut amas, sisiknya pirak, matanya intan
Lah jua baisi jukung bapangayuh bagiwas
Ulin manggis, bapananjak buluh parindu

Untuk mengungkapkan keindahan atau kecantikan seseorang digunakan prosa lirik, contohnya:

Bengkengnya Galuh Putri Jung Masari dalam mahligai. Sabagaimana kambang nang sadang harum-harumnya. Rupa bungas, rupa nang langkar, manisnya. Bakambang goyang, bagalang di batis. Anak rambutnya malantang wilis. Putih kuning kuku panjang nipis nang kaya gambar ditulis.

Penuturan fragmen cerita yang lain juga menggunakan prosa lirik seperti contoh berikut ini:

Kasan Mandi maluncat ka atas kuda, lamut ka atas kuda Kasan Mandi. Mamukul kuda, lamut jua, tarur. Kasan Mandi mambalap ka hujung kampung nargi Palinggam Cahaya mambontel di belakang melalui Pasiban Basar. Jauh tatinggal, maka ujar Kasan Mandi: “Paman Lamut lakasi paman, malam pacangan kadap, subuh tatarang uoih, kita mudahan sampai ka rimba rimbangun.”

5. Nilai-nilai

Lamut mengandung beberapa nilai untuk membangun karakter orang yang mendengar atau menontonnya. Beberapa nilai yang terkandung dalam lamut adalah:

a. Nilai tradisi

Lamut merupakan salah satu tradisi sastra yang berkembang sebelum muncul budaya tulis. Sastra lisan merupakan sastra rakyat kebanyakan yang cara penyampaiannya melalui media tutur. Pementasan lamut sebenarnya merupakan salah satu cara untuk melestarikan Kesenian tradisional yang berkembang di masyarakat. 

b. Nilai keindahan

Terdapat estetika atau nilai keindahan yang muncul dalam lamut. Keindahan tersebut muncul dalam jalan cerita yang disampaikan maupun media media untuk menyampaikan kisah lamut yang berupa syair-syair. Keindahan seni lamut bertambah-tambah dengan adanya alat musik pengiring pada waktu pementasannya. Lamut menjadi ajang bagi asimilasi berbagai unsur kebudayaan dan kemudian muncul dalam bentuk kesenian yang indah.

c. Nilai pendidikan

Lamut mengandung kisah tentang perjuangan dan kebijaksanaan yang dapat menjadi teladan bagi para pemirsanya. Unsur-unsur pendidikan yang terdapat dalam dan cara penyampaian amanat dalam lamut tidak tersampaikan secara langsung. Sehingga seseorang tidak merasa digurui dan tidak merasa direndahkan dengan nasihat-nasihat tersebut. Pendidikan melalui media lamut justru langsung masuk dalam kesadaran para penonton pertunjukan lamut. Hal tersebut sama dengan ketika seseorang menikmati jenis pertunjukan karya sastra yang lain. 

6. Penutup

Saat ini lamut merupakan salah satu sastra lisan tradisional yang terancam punah seiring dengan masuknya berbagai musik dan peralatan musik modern. Selain itu, kemunculan teknologi televisi dan berbagai acara hiburan yang disuguhkan turut menggeser peran lamut sebagai hiburan bagi masyarakat. Oleh karena itu, pelestarian lamut sangat diperlukan demi melestarikan khazanah kebudayaan Melayu.   

(Mujibur Rohman/bdy/07/09-2010)

Sumber foto: bubuhanbanjar-bakisah.blogspot.com

Referensi

Ahmad Darmawi, 2006. Sastra Lisan Lamut Indragiri Hilir. Pekanbaru: Lembaga Seni Budaya Melayu dan Sultan Teater Riau.

Arsyad Indradi, 2006. “Sajumput Tentang Sastra Banjar ‘Lamut‘” [Online] Tersedia di: http://sastradaerahbanjar.blogspot.com. [Diunduh pada 24 September 2010].

Harun Mat Piah, et al. 2002. Traditional Malay Literature. Terj. Harry Aveling. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

James Danandjaja, 2008. “Folklor dan Pembangunan Kalimantan Tengah: Merekonstruksi Nilai Budaya Orang Dayak Ngaju dan Ot Danum Melalui Cerita Rakyat Mereka” dalam Pudentia MPSS, ed. Metodologi Kajian Sastra Lisan. Jakarta: Asosiasi Tradisi Lisan.

Syamsiar Sema, 2006. Kesenian Tradisional Banjar Lamut, Madihin, dan Pantun. Banjarmasin: Bina Budaya Banjarmasin.

Anonim, t.t. “Lamut” [Online] tersedia di: http://id.wikipedia.org. [Diunduh pada 24 September 2010].

Dibaca : 5.759 kali.