Close
 
Rabu, 29 April 2026   |   Khamis, 12 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 442
Hari ini : 14.903
Kemarin : 25.766
Minggu kemarin : 169.256
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

19 november 2009 08:56

Dialog Budaya dan Gelar Seni `Yogya Semesta` Seri-27

Tema : Menggagas Paradigma Pendidikan Berbasis Budaya Bahari
Dialog Budaya dan Gelar Seni `Yogya Semesta` Seri-27

Yogyakarta, Melayuonline.com. Rabu, 18 November 2009, bertempat di studio Jogja TV, jalan Wonosari KM 9, Sendangtirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta, diadakan dialog budaya dan gelar seni “Yogya Semesta” seri ke-27. Dialog ini mengambil tema : Menggagas Paradigma Pendidikan Berbasis Budaya Bahari. Dialog yang dipandu sendiri oleh Bapak Hari Dendi ini bertujuan untuk membuka wacana dan mencari format baru tentang sistem pendidikan Indonesia yang berdasar pada budaya maritim. Pada acara tersebut, selain makalah, juga dibagikan sebuah buku berjudul Menuju Jati Diri Pendidikan yang MengIndonesia, yang ditulis oleh sekelompok masyarakat yang menamakan dirinya Komite Rekonstruksi Pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta (KRPDIY).

Dialog budaya ini menampilkan empat pembicara yaitu Prof. Dr. Suwarsih Madya. Phd, dari kepala Dinas Pendidikan, Olah Raga dan Pemuda DIY, Kol. (L) Sutarmono, Komandan Pangkalan TNI-AL Yogyakarta, Prof. Dr. Gunawan, Mpd. Konseptor buku : Menuju Jati Diri Pendidikan yang MengIndonesia, Dr. Cahyana Endra Purnama, MA, Direktur Akademi Maritim “Ganesha” Yogyakarta, Dr. Ir. Iwan Yusuf, BL, MSc, Ketua Program Studi Teknologi Pengolahan Ikan, Hurusan Perikanan Fakultas Pertanian UGM. Moderator oleh Bapak Hari Dendi, pengasuh/Host tetap “Yogya Semesta”, serta gelar Seni dari S.G.P.C. Musik Budaya, Yogyakarta Pimpinan Devi. Dialog ini juga diselingi dengan komunikasi interaktif dengan para pemirsa Jogja TV.

Para pembicara dalam ulasan makalah masing-masing mempunyai ide yang sama, yaitu bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan (archipelago) terbesar di dunia, akan tetapi sistem pendidikannya justru berorientasi pada pengembangan agraris dan kontinental. Sehingga yang terjadi laut Indonesia tidak diperhatikan, nelayan hidup dalam kemiskinan, dan pulau-pulau Indonesia diklaim oleh bangsa lain (kasus Sipadan dan Ligitan). Dan yang lebih ironis adalah masyarakat maritim yang menempuh pendidikan di Jawa tidak mengetahui apa yang harus diperbuat dengan daerah mereka.

Para pembicara sepakat untuk terus mengingatkan kepada pihak berwenang, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional, agar merubah kurikulum pendidikan saat ini yang dirasa masih saja berorientasi agraris. Dalam makalah umum yang dibagikan panitia dinyatakan bahwa kejayaan Majapahit dengan kegagahan armada kapalnya mengarungi samudra untuk mempersatukan Nusantara, yang termaktub dalam janji suci “sumpah Palapa” Gadjah Mada (dalam konteks zamannya, bukan ekspansionismenya), namun visi ini hilang akibat kebijakan negara yang selalu bertumpu pada pemanfaatan sumber daya daratan dan memarginalkan sumberdaya kelautan.

“Saat ini kapal Pinisi yang menjadi kebanggaan masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan, banyak dipesan oleh luar negeri, ini menandakan bahwa kebudayaan Bahari kita dapat diandalkan. Masak kita sendiri justru tidak memperhatikan kebudayaan bahari ini,” Kata Kol. (L). Sutarmono.

Pada akhir sesi dialog para pembicara sepakat, untuk saling bersinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat agar terwujud sistem pendidkan yang mengIndonesia. Ini menjadi pekerjaan bersama, agar Indonesia jaya di masa depan dengan kebudayaan baharinya. Diharapkan dialog ini terus ditindaklanjuti dengan tema-tema pendidikan bahari yang lebih strategis dan aplikatif, sehingga tidak hanya sekedar diwacanakan. 

Yusuf Efendi (brt/01/11-09).


Dibaca : 2.274 kali.

Tuliskan komentar Anda !