Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
14 januari 2010 06:00
Istana Mempawah Adakan Napak Tilas
Yogyakarta, Melayuonline.com – Istana Amantubillah Mempawah, Pontianak, Kalimantan Barat, akan mengadakan rangkaian acara “Napak Tilas Berdirinya Kraton Mempawah 2010 (Robo-robo)” pada tanggal 7 – 10 Februari 2010. Rangkaian acara ini akan dilaksanakan di sekitar lingkungan Istana Amantubillah dan tempat-tempat yang terkait dengan istana tersebut. Acara tersebut, yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun, pada tahun 2010 ini akan diisi dengan sebelas acara.
Pada tanggal 7 Februari 2010, akan dilangsungkan Lomba Sampan Perorangan. Pada tanggal 8 Februari 2010, akan digelar 3 acara, yaitu Kirab Pusaka Kraton Amantubillah, Pembersihan Pusaka Kraton Amantubillah dan Haulan. Pada hari berikutnya, akan dilaksanakan 2 acara, yaitu Ziarah ke Bukit Rama dan Toana. Sedangkan pada hari terakhir akan diselenggarakan 5 acara, yaitu Makan Syafar, Prosesi Napak Tilas, Prosesi Penyambutan di Muara Kuala Mempawah dan Makan Saprah Podlok, Lomba Sampan Beregu, dan Perjamuan Makan Malam, Launching Lagu-lagu Raja Mempawah, Penganugerahan Gelar dan Lelang CD Original Lagu-lagu Ciptaan Raja Mempawah.
Kesultanan Mempawah adalah sebuah kerajaan Melayu yang telah ada sejak 6 abad yang lalu, yaitu sejak 1380. Sejarah kerajaan ini terbagi menjadi dua periode, yaitu periode Hindu dan Islam. Pada periode Hindu, kerajaan ini dikenal sebagai Kerajaan Mempawah Dayak, sedangkan pada periode Islam, kerajaan ini dikenal sebagai Kesultanan Mempawah Islam. Wilayah kekuasaannya meliputi daerah yang sekarang merupakan wilayah Kabupaten Pontianak.
Dalam sejarahnya, kerajaan ini lima kali memindah ibu kotanya, mulai dari Pegunungan Sidiniang, Pekana, Senggaok, Sebukit Rama, hingga Mempawah. Raja pertamanya adalah Patih Gumantar, yang bertahta pada periode Hindu, dan raja terakhirnya, yang telah bergelar Sultan karena adanya pengaruh Islam, adalah Gusti Muhammad Taufik atau Panembahan Muhammad Taufik Accamuddin (1902 – 1944).
Kesultanan Mempawah dianggap tidak ada lagi setelah terjadinya Peristiwa Mandor, yaitu pembantaian keluarga kerajaan-kerajaan Melayu di Kalimantan Barat oleh pemerintah pendudukan Jepang pada tahun 1944. Sultan Mempawah terakhir termasuk salah satu korban dalam pembantaian tersebut.
Sebenarnya, Pangeran Muhammad yang saat itu baru berusia 13 tahun telah dinobatkan oleh pihak Jepang. Namun, Pangeran Muhammad menolak penobatan tersebut. Pangeran Muhammad juga menolak menjadi sultan ketika pihak Belanda juga ingin menobatkannya sebagai sultan Mempawah. (An. Ismanto/brt/19/01-2010)