Selasa, 21 April 2026 |Arbia', 4 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 1.642
Hari ini
:
23.551
Kemarin
:
49.931
Minggu kemarin
:
249.242
Bulan kemarin
:
101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
22 januari 2010 06:30
BPKBM dan MelayuOnline.com Mengurai Melayu, Diaspora dan Pluralitas
Mahyudin Al Mudra, SH, MM memberikan kata sambutan
Yogyakarta, MelayuOnline.com – Rumpun Melayu bukanlah rumpun budaya dengan entitas tunggal melainkan rumpun yang majemuk dan penuh dengan keberagaman. Hal ini dikarenakan dalam sejarah perkembangannya, bangsa Melayu telah bersentuhan dengan berbagai eleman budaya lain serta melakukan proses adaptasi dengan budaya-budaya tersebut. Proses adaptasi tersebut akhirnya melahirkan suatu kebudayaan baru yang di dalamnya terkandung nilai-nilai budaya Melayu. Namun, dengan pluralisme yang ada, makna kemelayuan seringkali terfragmentasi oleh kepentingan sosio-politis sehingga menimbulkan kesalahpahaman dan diskriminasi. Untuk itu, diperlukan suatu tindakan untuk memperkuat wacana diaspora Melayu demi terwujudnya persatuan di antara puak-puak Melayu yang tersebar di berbagai tempat di beberapa belahan dunia ini.
Beranjak dari hal tersebut maka Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) mengadakan workshop internasional dengan tajuk “Revisiting Malay Diaspora for Malay World Networking” atau “Meninjau Ulang Diaspora Melayu untuk Membangun Jejaring Melayu Sedunia” pada tanggal 18-19 Januari 2009. Workshop yang bertempat di Balai Melayu Jl. Gambiran 85 A, Yogyakarta, ini juga dihelat dalam rangka memperingati milad portal www.MelayuOnline.com yang ke-3.
Hadir sebagai pembicara pada hari pertama, Senin (18/01) adalah Prof. Muhammad Haji Salleh (Pusat Penyelidikan Dasar dan Kajian Antarabangsa Universiti Sains Malaysia), Dr. Halimah Hasan (Fakulti Bahasa Moden dan Komunikasi Universiti Putra Malaysia), Ir. Gusti Kamboja, MH (Sultan/Pemangku Adat Kesultanan Matan dan Ketua DPRD ketapang), Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra (Guru Besar Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada dan Konsultan www.MelayuOnline.com), dan Prof. H. Suwardi MS (Guru Besar Luar Biasa Program Studi Sejarah Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Riau). Workshop sesi pertama dimoderatori oleh Dr. Aris Arif Mundayat (Direktur Pusat Studi Sosial Asia Tenggara Universita Gajah Mada dan Konsultan BKPBM), sedangkan Dr. HJ. Mohd Sharifudin Yusop bertindak sebagai moderator pada sesi kedua.
Dalam kata sambutannya, Mahyudin Al Mudra, SH, MM selaku pemangku BKPBM menjelaskan tentang tujuan diadakannya workshop ini, yakni untuk preservasi kebudayaan, melahirkan kerjasama yang nyata dalam bentuk pertukaran informasi, serta membangun jaringan antara universitas dan lembaga Melayu yang ada. “Semoga workshop ini dapat menjadi langkah awal untuk membangun jaringan dan memproduksi pengetahuan dari rumpun Melayu untuk dunia,” harapnya.
Prof. Muhammad Haji Salleh, Dr. Halimah Hasan, Ir. Gusti Kamboja, MH, Dr. Aris Arif Mundayat
Prof Muhhamad Haji Saleh yang mendapat kesempatan pertama mempresentasikan makalahnya tentang garis sejarah Diaspora Melayu. Beliau menjelaskan tentang lintasan diaspora Melayu, sebab-sebab migrasi, transformasi di tempat baru, hingga fase migrasi orang Minangkabau ke Semenanjung. Dari presentasi beliau dapat diketahui tentang sejarah diaspora Melayu yang terus bergerak dari zaman pra-kolonial, kolonial, hingga pascakolonial.
Menyambung presentasi Prof. Muhamad, Dr. Halimah Hasan membentangkan kertas kerjanya yang berjudul “Folklor Melayu Afrika Selatan”. Kedatangan bangsa Melayu yang dibawa pemerintah kolonial ke Afrika Selatan lebih dari 400 tahun yang lalu dan pengaruh kebijakan apartheid telah menyamarkan rupa bentuk seni budaya Melayu Cape. Namun, budaya tersebut tetap dianggap sebagai budaya Melayu karena masih memiliki persamaan dengan budaya induk Melayu di Nusantara. “Persamaan itu bisa dilihat dalam bidang seni budaya maupun adat keagamaan,” ujar Dr Halimah. Lebih lanjut beliau juga memberi contoh kemiripan yang terjadi dalam tata cara kelahiran, yakni tradisi pemberian nama bayi atau “doopmal”, yang dalam budaya masyarakat Melayu semenanjung dikenal dengan istilah “Naik Buai”, “Istirahat Pijak Tanah”, atau “Tedak Siten”.
Pembicara terakhir di sesi pertama hari pertama adalah Ir. Gusti Kamboja, MH yang mencoba mengurai jejak budaya masyarakat Kalimantan dengan menggunakan pendekatan genetika, antropologi biologis, konsep linguistik serta adat budaya. Selain itu, beliau juga mencoba melihat perspektif masa depan Melayu yang bisa saja mengalami hanyutan budaya jika kehilangan pendukungnya. Hal ini terlihat dari fenomena kepunahan bahasa daerah yang terus menerus terjadi.
Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, Prof. H. Suwardi MS, dan Dr. HJ. Mohd Sharifudin Yusop
Diskusi di sesi pertama berjalan cukup meriah. Hal itu terlihat dari antusiasme para peserta workshop dalam mengajukan berbagai pertanyaan. Selesai makan siang, acara dilanjutkan lagi dengan sesi kedua. Tak jauh beda dengan sesi pertama, sesi kedua ini juga berjalan cukup lancar. Pembicara pertama, Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, mengangkat isu tentang Pluralitas Kemelayuan Indonesia-Melayu. Menurut beliau, Indonesia dan Malaysia memandang Melayu dengan konsep dan konstruksi sosial yang berbeda serta simbol pemahaman yang berbeda. Hal itulah yang menyebabkan sering timbulnya kesalahpahaman antara dua negara serumpun ini. Lebih lanjut beliau menawarkan paradigma fenologi untuk melihat realita yang terjadi dalam masyarakat.
Tampil sebagai pembicara terakhir, Prof. H. Suwardi MS menyampaikan kertas kerjanya yang berjudul Potensi Melayu Menjadi Perkasa. Menurutnya Melayu memiliki potensi yang cukup besar untuk menjadi salah satu budaya yang perkasa. Namun, potensi itu sangat tergantung kepada manusia yang menjalankan kemelayuan itu. “Itulah pentingya proses pendidikan kepada generasi muda, supaya mereka mampu menyerap nilai-nilai Melayu yang benar dan membentengi dirinya dengan iman dan taqwa untuk menghadapi dampak global masa depan yang semakin canggih,” ujarnya. Workshop hari pertama ini selesai pada pukul 16.00 WIB, dan kemudian akan dilanjutkan dengan workshop hari kedua pada hari Selasa (19/01/2010).