Close
 
Rabu, 22 Oktober 2014   |   Khamis, 27 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 2.250
Hari ini : 17.261
Kemarin : 21.528
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.257.492
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

11 februari 2010 05:30

Pusaka Kerajaan Mempawah Dimandikan

Liputan Tradisi Robo-Robo di Mempawah, Kalimantan Barat
Pusaka Kerajaan Mempawah Dimandikan

Mempawah, MelayuOnlineProsesi memandikan sejumlah senjata pusaka Kerajaan Mempawah, Kalimantan Barat, pada hari Senin (8/2) siang, berlangsung khidmat. Tradisi yang menjadi salah satu prosesi dari acara Upacara Robo-Robo ini dilangsungkan di Kraton Amantubillah, Mempawah, Kalimantan Barat. Pagi harinya, diadakan kirab senjata pusaka untuk mengenalkan kekayaan budaya Kerajaan Mempawah tersebut kepada masyarakat luas.

Beberapa jenis benda pusaka Kerajaan Mempawah yang dimandikan antara lain sepasang tombak, sepasang pedang, sebilah keris, dan 3 buah meriam. Menurut keterangan Menteri Luar Kerajaan sekaligus Hulubalang Kerajaan Mempawah, Karaeng Oe Saiful Ansari, kepada www.MelayuOnline.com, masing-masing senjata pusaka tersebut memiliki nama khusus. Sepasang tombak bernama tombak Lancar, sepasang pedang bernama pedang Mugul dan pedang Sterling, serta sebilah keris yang dikenal dengan nama keris Tanjung Lada.

Adapun ketiga meriam pusaka Kerajaan Mempawah, masih menurut Karaeng Oe Saiful Ansari, masing-masing dikenal dengan nama Sigonda, Raden Mas, dan Maryam. Meriam Sigonda sebagai simbol laki-laki yang konon berasal dari Kerajaan Majapahit di Jawa. Sementara meriam Raden Mas adalah simbol perempuan yang dipercaya berasal dari Bugis, tempat asal Opu Daeng Manambun, salah seorang pemimpin Kerajaan Mempawah yang paling legendaris. Sedangkan Maryam menjadi meriam yang disimbolkan sebagai anak dari Sigonda dan Raden Mas.


Memanjatkan Doa Sebelum Memandikan Pusaka

Kerajaan Mempawah memang ditengarai pernah menjalin hubungan diplomatik dengan Kerajaan Majapahit di Jawa. Berdasarkan catatan sejarah yang berhasil ditemukan, pada masa pemerintahan Patih Gumantar yang berkuasa pada sekitar tahun 1380 Masehi, Mahapatih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit pernah berkunjung ke Mempawah dan kemudian menghadiahkan sejumlah benda pusaka kepada Patih Gumantar. Bahkan, Patih Gumantar dan Gajah Mada dipercaya pernah bersama-sama pergi ke Muangthai (Thailand) untuk mengantisipasi ancaman serangan dari Kekaisaran Mongol di bawah pimpinan Kubilai Khan.

Karaeng Oe Saiful Ansari sendiri meyakini adanya jalinan diplomasi antara Kerajaan Mempawah dan Kerajaan Majapahit tersebut. Menurut Karaeng Oe Saiful Ansari, di Mempawah tidak dikenal istilah “patih” yang biasanya digunakan dalam tradisi kerajaan-kerajaan di Jawa. Diduga kuat, predikat “patih” yang melekat pada nama Patih Gumantar adalah salah satu bukti bahwa antara Kerajaan Mempawah di Kalimantan Barat dan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur pernah terjalin ikatan kerja sama yang cukup erat dan harmonis. Selain itu, terdapatnya unsur Jawa dan Bugis, juga unsur Dayak dan Tionghoa, dalam tradisi Melayu di Kerajaan Mempawah menjadi penegas bahwa kerajaan ini memang kaya akan keberagaman budaya yang tidak mengenal sekat-sekat suku, ras, ataupun agama.

Karaeng Oe Saiful Ansari juga mengungkapkan bahwa sebenarnya masih banyak benda-benda pusaka yang dimiliki Kerajaan Mempawah, namun tidak semua senjata pusaka tersebut dikeluarkan dan ditunjukkan ke khalayak ramai. Bahkan, terdapat beberapa senjata pusaka tertentu yang dimandikan langsung oleh Raja Mempawah yang saat ini diampu oleh Pangeran Ratu Mulawangsa Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim bergelar Panembahan XIII.


Prosesi Pemandian Senjata Pusaka Kerajaan Mempawah

Sedangkan kerabat Kerajaan Mempawah, Gusti Ulyanto, yang ditemui wartawan www.MelayuOnline.com, seusai prosesi pemandian senjata pusaka menuturkan, tujuan diselenggarakannya ritual adat ini adalah semata-mata untuk melestarikan tradisi dan sebagai upaya untuk semakin memperkenalkan kekayaan budaya Kerajaan Mempawah kepada masyarakat. Diharapkan, dengan diadakannya kegiatan-kegiatan adat, termasuk Upacara Robo-Robo ini, masyarakat dapat lebih mengenal dan mengetahui kekayaan budaya yang dipunyai Kerajaan Mempawah pada khususnya, dan kerajaan-kerajaan lain di Kalimantan Barat pada umumnya.

Ritual adat Robo-Robo sendiri dilaksanakan rutin setiap tahun sebagai wujud napak tilas kedatangan Opu Daeng Menambun di wilayah Mempawah untuk yang pertama kalinya. Opu Daeng Menambun, seorang bangsawan dari Bugis, diyakini datang ke Mempawah pada pekan keempat di bulan Safar. Beberapa sumber tertulis menyebut Opu Daeng Menambun datang ke Mempawah sejak tahun 1740 M dan kemudian memimpin Kerajaan Mempawah dengan gelar Pangeran Mas Surya Negara. Opu Daeng Menambun wafat pada tahun 1761 M, juga pada bulan Safar, dan dimakamkan di Sebukit Rama. Oleh karena itulah, ritual adat Robo-Robo juga diselenggarakan setiap tahun sekali, tepatnya pada bulan Safar sesuai dengan waktu kedatangan dan wafatnya Opu Daeng Menambun.

(Iswara N. Raditya/Brt/01/02-2009)

Sumber Foto: Koleksi www.melayuonline.com (Fotografer: Aam Ito Tistomo)


Dibaca : 6.041 kali.

Tuliskan komentar Anda !