Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
23 februari 2010 02:00
Situs Bersejarah Siguntang Dirambah
Palembang, Sumsel - Sebagian kawasan situs bersejarah Bukit Siguntang telah berubah fungsi menjadi permukiman warga akibat perambahan sejak beberapa tahun lalu. Praktik yang terus terjadi ini dinilai mulai mengancam keberadaan situs Siguntang sebagai ikon penting di era Kerajaan Sriwijaya.
Pendapat ini dikatakan pakar sejarah dari Palembang, Johan Hanafiah, Senin (22/2) di kediamannya. Dia mengatakan, kawasan Bukit Siguntang, yang kini dilindungi sebagai situs sejarah budaya, luasnya hanya sekitar 12 hektar.
”Padahal, jika melihat fungsi dan kondisinya di era Melayu sampai Sriwijaya, Bukit Siguntang ini lebih luas daripada yang sekarang,” katanya.
Sebagian area situs, ujar Johan, berubah fungsi menjadi permukiman. Perambahan yang terjadi sejak lama ini berlangsung perlahan-lahan, tanpa kontrol yang ketat dari para pemegang kebijakan.
Selain perubahan fungsi dari kawasan situs menjadi permukiman, menurut Johan, ada beberapa bagian situs yang sudah menghilang, salah satunya kanal. Kanal ini dulunya menghubungkan antara Bukit Siguntang dan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya.
Pantauan Kompas juga menunjukkan bahwa situs Siguntang ini nyaris tidak menunjukkan kekhasan sebagai sebuah ikon kerajaan Buddha (Sriwijaya). Di sisi lain, situs ini justru terkenal sebagai tempat menyepi bagi para peziarah religius dari luar Palembang.
Tokoh mitos
Saat ditanya mengenai beberapa nama yang ada di situs Bukit Siguntang, seperti Pangeran Bagus Kuning dan Puteri Kembang, Johan menjelaskan, para tokoh tersebut hanya merupakan mitos sejarah. Para tokoh ini juga tidak memiliki hubungan langsung dengan keberadaan Kerajaan Sriwijaya yang pusat kekuasaannya ada di kawasan Palembang.
”Sekarang ini, nilai historis Bukit Siguntang dan keterkaitannya dengan Kerajaan Sriwijaya justru semakin memudar, perlahan-lahan tergantikan oleh aktivitas ziarah untuk mencari keberuntungan,” katanya.
Dia juga menyarankan agar situs Siguntang dijadikan ikon atau simbol Kota Palembang selaras dengan peran besarnya pada masa lampau. (ONI)