Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
09 maret 2010 02:00
Sejarah Adityawarman dan Kerajaan Majapahit Ditelusuri di Unimed
Medan, Sumut - Profesor Uli Kozok, peneliti dan pengajar di Universitas Hawaii Manoa USA akan mengupas penelusuran sejarah Adityawarman dan Kerajaan Majapahit dalam ceramah ilmiahnya di Lantai 3 gedung Dekanat Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Medan, Selasa (9/3) hari ini.
Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosialsis (Pussis) Unimed, Dr Phil Ichwan Azhari mengatakan hal itu dalam siaran persnya, Senin (8/3).
Didampingi stafnya Erond Damanik, lebih lanjut Ichwan menjelaskan, penelitian terhadap sejarah Adityawarman ini sekaligus untuk memberikan informasi terbaru dari penelitian tersebut.
Hal ini dilakukan karena dalam upaya penulisan sejarah Nasional di Indonesia, para sejarahwan menghadapi dilema bahwa sumber-sumber sejarah tentang Majapahit yang telah diangkat pemerintah sebagai cikal bakal Indonesia. "Sebab ternyata sangat terbatas pada sejumlah prasasti dan dua naskah yaitu Negarakretagama dan Pararaton", ungkapnya.
Oleh karena itu, jelas Ichwan Azhari penelusuran sejarah Adityawarman oleh Uli Kozok itu sangat penting, karena belum ada kejelasan hingga kini terutama dalam historiografi Indonesia. Apakah sebenarnya Adityawarman adalah Melayu atau Jawa?. Ungkapnya.
Dijelaskan Ichwan, berdasarkan sumber yang ada menyebutkan bahwa Adityawarman adalah putra kerajaan Majapahit yang lahir dan dibesarkan di lingkungan Istana. Ibunya adalah putra Dara Jingga berdarah Minang. Sementara itu, berdasarkan versi Minang, Adityawarman adalah asli Minang, pendiri kerajaan Pagaruyung.
Karena itu, ungkapnya , masih harus digali dan dipertanyakan. Apakah Aditywarman pernah diutus untuk menaklukkan kerajaan di Sumatra sebagaimana yang tercatat dalam sejarah Indonesia selama ini.
Tanggungjawab
Oleh karena itu, Pussis-Unimed sebagai pusat studi sejarah, memiliki tanggungjawab untuk memberikan hasil penelitian terbaru terhadap kontroversi Adityawarman itu, ucapnya.
Menurut alumni Universitas Hamburg ini, informasi yang terkandung dalam sumber-sumber itu kerap kali kontradiktif dan ditulis pada waktu yang berbeda dan ditulis untuk tujuan berbeda pula. (rmd)