Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
23 maret 2010 04:45
Ironis, Jejak Sejarah Lampung Banyak di Luar Negeri
Bandar Lampung, Lampung - Sebagian naskah kuno dari Provinsi Lampung diketahui justru tersimpan di lembaga-lembaga asing di luar negeri. Penambahan koleksi benda-benda bersejarah di museum negeri Lampung terkendala terbatasnya dana.
Hal itu diungkapkan Pulung Swandaru, KepalaMuseum Negeri Lampung Ruwai Jurai. Ia prihatin dengan kenyataan, ternyata banyak naskah kuno Lampung serta benda bersejarah lainnya yang dikoleksi bangsa asing.
"Terus terang, kita (Lampung) sangat miskin akan data-data mengenai sejarah kita sendiri. Sementara, sebagian naskah-naskah kuno kita justru ada di luar negeri, misalnya di Leiden (Belanda). Kalau seperti ini, ke depan, anak cucu kita tidak akan kebagian apa pun tentang kearifan lokal," ungkap Pulung khawatir.
Berdasarkan data Pemprov Lampung, naskah-nashah kuno ini tersebar di Belanda, Denmark, Inggris, dan Jerman. Di Amsterdam, belanda, misalnya, tercatat disimpan 40 buah naskah kuno dari bahan kulit kayu, rotan, dan kertas.
Di Leiden, setidaknya ada 5 buah naskah kuno yang disimpan bersama-sama koleksi dari Sumatera Selatan. Lalu, di Inggris, disimpan sepuluh buah naskah kuno Lampung yang dikumpulkan penelitinya, MA. Jaspan.
"Betapa, kita tidak berdaya untuk menambah koleksi, melindungi barang-barang bersejarah, dengan anggaran yang ada," ungkap Pulung. Anggaran pengadaan koleksi baru benda bersejarah di museum ini hanya Rp 40 - 70 juta pe tahun.
Ia mencontohkan, pernah suatu ketika pihaknya berniat membeli uang akuan eks karesidenan Lampung tahun 1958. Namun, si pemiliknya meminta uang ganti dengan harga yang sangat mencengangkan, yaitu Rp 200 juta.
"Padahal, dia itu PNS. Beginilah, orang asing dapat beli door to door ini (barang-barang bersejarah) kepada pemiliknya, karena punya dana yang banyak. Kadang, pemilik bersedia tukar dengan barang elektronik," tutur Bambang Sigit, Kepala Seksi Pelayanan Museum Ruwai Jurai Lampung. (Yulvianus Harjono)