Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
01 april 2010 08:10
Mahasiswa Master Universiti Putra Malaysia (UPM) Kunjungi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Yogyakarta
Yogyakarta, MelayuOnline.Com– Rombongan mahasiswa dan dosen dari program S2 Jurusan Komunikasi Pembangunan, UPM (University Putra Malaysia), berkunjung ke BKPBM (Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu) Yogyakarta pada hari Kamis, 1 April 2010. Rombongan tersebut dipimpin oleh Profesor Saleh Haji Hasan, pengajar mata kuliah Komunikasi Pembangunan di UPM, dan ditemani oleh para mahasiswa Pascasarjana Komunikasi Universitas Gadjah Mada.
Setiba di Balai Pinang Lima, kantor pusat BKPBM, para tamu berkeliling dan melihat-lihat sebagian dari koleksi benda-benda budaya yang dimiliki oleh Balai. Acara kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah di aula BKPBM, yang diisi dengan tanya jawab seputar Melayu, kemelayuan, dan BKPBM serta portalnya yang pertama, MelayuOnline.Com. Seusai acara, beberapa orang tamu menyempatkan diri untuk membeli buku-buku dan suvenir kreasi BKPBM. Rangkaian acara kunjungan tersebut diakhiri dengan berfoto bersama.
Dalam sesi ramah-tamah, Profesor Saleh mengatakan bahwa kunjungan ini secara umum bertujuan untuk melakukan studi banding. Dengan kunjungan ini, sesuai dengan jurusan pendidikan mereka, para mahasiswa diajak untuk melihat pola-pola komunikasi masyarakat di Yogyakarta. Melalui situs Melayuonline.com dan situs-situsnya yang lain, BKPBM dianggap telah melakukan aktivitas komunikasi tersebut, khususnya komunikasi antarmasyarakat Melayu di dunia.
Kegiatan kunjungan seperti ini sendiri merupakan kegiatan rutin tiap tahun yang dilakukan oleh UPM. Dua tahun sebelumnya, UPM mengadakan kunjungan ke Filipina sedangkan tahun lalu tujuannya adalah ke Medan dan tahun ini tujuannya adalah Yogyakarta.
Pemangku Balai BKPBM, yang dalam hal ini diwakili oleh konsultan BKPBM, Dr. Aris Arif Mundayat, mengucapkan terima kasih atas kunjungan tersebut. Kunjungan ini diharapkan menjadi momentum untuk mendekatkan puak-puak Melayu serumpun dan menutup segala kemungkinan prasangka buruk akibat pemberitaan negatif tentang hubungan Indonesia dan Malaysia beberapa waktu yang lalu.
Dalam sesi tanya jawab, salah seorang tamu menanyakan tentang siapa penyandang dana utama dari semua aktivitas BKPBM saat ini. Oleh konsultan BKPBM, pertanyaan tersebut dijawab dengan tegas, bahwa semua aktivitas BKPBM didanai oleh pendiri dan pemangku Balai sendiri, yaitu Bapak Mahyudin Al Mudra, S.H.,M.H. Hingga saat ini, bantuan dana dari pihak lembaga luar belum ada, kecuali bantuan pribadi dari orang-orang yang peduli dengan kegiatan BKPBM. Untuk mereka semua, BKPBM mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya.
Pertanyaan lain yang mengemuka adalah, selain membuat media online, apa lagi yang dilakukan oleh BKPBM untuk menegakkan budaya Melayu dan melestarikan rumpun Melayu di Bumi ini? Dr. Aris menjawab bahwa BKPBM juga mengajak kaum cerdik pandai dari seluruh wilayah rumpun Melayu untuk ikut menyumbangkan pikiran dengan mengirimkan tulisan, baik berupa artikel, cerita, maupun pantun, untuk dimuat di situs-situs yang dikelola oleh BKPBM (MelayuOnline.Com, WisataMelayu.Com, RajaAliHaji.Com, dan CeritaRakyatNusantara.Com).
Salah seorang tamu mengajukan pertanyaan yang menggelitik. Mengapa sebuah balai kajian tentang Melayu didirikan di Jawa yang bukan suku Melayu? Dr. Aris menjawab dengan jelas bahwa Yogyakarta selama ini dianggap sebagai miniatur nusantara. Selain itu, Jawa sebenarnya juga Melayu. Pengkotakan suku dan ras ini sebenarnya adalah akibat dari sistem kolonial yang masih melekat dalam imajinasi manusia Melayu. Dekolonisasi imajinasi ini membuat manusia Melayu juga ikut berpikir bahwa Melayu itu Malaysia, Melayu Riau, Melayu Sumatera, atau Melayu Kalimantan. Pola pikir seperti ini harus dihapus dari imajinasi manusia Melayu agar tidak terjadi klaim pemaksaan identitas Melayu atau konflik rumpun Melayu. Usaha orang per orang (people to people) harus terus digalakkan untuk meminimalisir hubungan negatif di antara puak-puak Melayu. “BKPBM melalui Melayuonline.com dan beberapa situsnya yang lain berada di rel ini,” tandas Dr. Aris.
Acara kunjungan tersebut ditutup dengan saling memberikan cenderamata antarkedua belah pihak. Cenderamata dari BKPBM diserahkan oleh Dr. Aris Arif Mundayat kepada Profesor Saleh Haji Hasan sedangkan cenderamata dari UPM diserahkan oleh Profesor Saleh Haji Hasan kepada Dr. Aris Arif Mundayat. Setelah itu, rombongan dan tuan rumah berfoto bersama, kemudian rombongan pamit untuk kembali ke Malaysia. (Yusuf Efendi/05/01-04-2010)