Minggu, 26 April 2026 |Isnain, 9 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 820
Hari ini
:
15.528
Kemarin
:
23.172
Minggu kemarin
:
7.342.256
Bulan kemarin
:
101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
05 april 2010 06:01
Keramahan Banjarmasin Menyambut Tim BKPBM
Dr. Taufik Arbain, M.Si, (kedua dari kanan), saat menjamu makan sore tim BKPBM di Banjarmasin.
Banjarmasin, Melayuonline.com - Sejak hari Sabtu kemarin (3/04), tim dari BKPBM (Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu) Yogyakarta bertolak menuju Banjarmasin untuk memenuhi undangan Kongres Kebudayaan Banjar II yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.
Ini kali, tim dari BKPBM yang bertolak ke Banjarmasin terdiri dari Mahyudin Al Mudra (Pemangku Balai), Yuhastina Sinaro (Humas), Adi Tri Pramono (Redaktur MelayuOnline.Comdan WisataMelayu.Com) dan Aam Ito (Fotografer).
Selain menghadiri kongres tersebut, kesempatan ini juga digunakan oleh tim BKPBM untuk kembali menikmati keramahan Banjarmasin.
“Setelah Kalimantan Barat, alhamdulillah kita bisa kembali bersilaturahmi dengan Kalimantan Selatan,” ungkap Bang MAM dalam Rapat Umum BKPBM yang berlangsung sebelum berangkat ke Banjarmasin.
Tentu saja undangan ini menjadi sangat berarti bagi BKPBM maupun panitia Kongres mengingat hubungan personal maupun institusional antara BKPBM dan masyarakat Banjar sangat baik.
“Pernah terbersit dalam kehendak saya, bahwa saya harus ketemu dengan para pegiat BKPBM. Dan alhamdulillah keinginan tersebut terkabul,” ungkap jelas Dr. Taufik Arbain, M.Si, kepada tim BKPBM dalam perjalanan menuju ke hotel.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Bang MAM, panggilan akrab Pemangku Balai, kepada Dr. Taufik. Kepada salah satu koordinator panitia Kongres ini, Bang MAM mengungkapkan, “Adalah kewajiban kami untuk meneruskan apa yang dihasilkan oleh Kongres Banjar II nanti kepada seluruh pembaca setia portal-portal BKPBM. Dan kami akan mengenalkan Kebudayaan Banjar ke dunia digital serta mengintegrasikannya dengan apa yang sudah kami lakukan dengan budaya Melayu.”
Berpijak pada keharmonisan hubungan itulah, semenjak menginjakkan kaki di Bumi Lambung Mangkurat, baik tim BKPBM maupun Dr. Taufik tak henti-hentinya membicarakan tentang proyeksi kerjasama budaya ke depan.
“Budaya Banjar harus memiliki lembaga seperti BKPBM, dan sebaliknya BKPBM juga pasti akan menemukan berbagai khasanah dan pengetahuan dari budaya Banjar,” jelas Dr. Taufik dengan bahasa Banjarnya yang kental.
Kongres Urang Banua
Kongres yang dihadiri BKPBM ini adalah Kongres Kebudayaan Banjar II yang digelar oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Kongres pertama telah sukses diselenggarakan pada tahun 2007. Kongres pada tahun ini dihadiri oleh berbagai komunitas Banjar yang selama ini tersebar di berbagai penjuru, baik dalam maupun luar negeri.
“Kongres ini merupakan salah satu upaya memperkuat hubungan Urang Banua yang selama ini tersebar di berbagai wilayah perantauan,” jelas Dr. Taufik Arbain, M.Si, yang juga tercatat sebagai salah satu pengajar di Universitas Lambung Mangkurat.
Istilah Urang Banua adalah istilah yang digunakan oleh warga Banjar untuk menyebut diri mereka sendiri. Sekitar 15 tahun terakhir, istilah ini telah mengalami asimilasi makna sehingga menjadi lebih luas dan egaliter.
“Dahulu, Banua adalah istilah untuk menyebut kota Banjarmasin, namun sekitar 15 tahun terakhir, makna istilah Banua mengalami asimilasi, yakni maknanya menjadi lebih luas menjadi daerah tempat suku bangsa Banjar berasal. Tak hanya orang Banjarmasin saja yang kini disebut Urang Banua, melainkan semua orang yang berasal secara historis berasa dari suku bangsa Banjar, kini disebut dengan Urang Banua,” papar Dr. Taufikyang dalam kepanitiaan Kongres bertugas sebagai Koordinator Persidangan dan Upacara.
“Oleh karena itu, istilah Urang Banua saat ini lebih egaliter dan sangat merekatkan warga Banjar, terutama bagi warga Banjar yang ada di tanah perantauan,” imbuh Dr. Taufik.
Menanggapi paparan itu, Bang Mam juga menyampaikan berbagai hasil dakwah kemelayuan yang selama ini dilakukan oleh BKPBM. Menurut Bang MAM, “Nampaknya, definisi kebudayaan memang tidak bisa dikekang oleh perubahan waktu.”
Kongres Kebudayaan Banjar ini akan dihadiri oleh sekitar 200 peserta yang berasal dari berbagai pelosok nusantara dan luar negeri. Kehadiran perwakilan Urang Banua dari komunitas di berbagai daerah ini memang dimaksudkan untuk menjelaskan peran dan aktivitas Urang Banua di tanah perantauan. Oleh karena itu, kongres ini merupakan Kongres Urang Banua.
Keramahan dan Nostalgia
Banjarmasin dan budaya Banjar adalah salah satu cultural base yang sangat kaya sekaligus penting bagi BKPBM. Cultural base ini tentunya memiliki cultural point yang memang memiliki potensi, baik itu secara antropologis, geososial maupun geopolitik.
Salah satu cultural point yang sudah dinikmati oleh tim BKPBM selama dua hari berpijak di Banua Banjar ini adalah keramahan warga Banjar. Kota dan warga Banjarmasin seolah sudah siap untuk memanjakan Urang-urang Banua yang telah lama merantau. Hal tersebut bisa tergambar dari ekspresi peserta kongres maupun panitia.
Keramahan dan nostalgia inilah yang kembali muncul di benak peserta dan panitia kongres.
“Buah dari keramahan dan nostalgia ini adalah pengetahuan yang harus terus menerus dibagi,” ujar Dr. Taufik, yang diiyakan oleh Bang MAM.
Bang MAM sendiri memiliki kedekatan genetis dengan urang banjar mengingat garis keturunannya memang berdarah Banjar. Bagi anggota tim BKPBM yang lain, sejak menjejakkan kaki di Banjarmasin, keramahan Banjar mampu mengganti kelelahan fisik. Banjarmasin, memang ramah banar. (ATP/brt/19/04-10)