Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
15 juni 2010 08:59
Sultan Mempawah Kunjungi BKPBM
Yogyakarta, MelayuOnline.com – Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) mendapat kehormatan dengan kunjungan dari Ratu Kesultanan Mempawah Kalimantan Barat, Pangeran Ratu Mulawangsa Dr. Ir. Mardan Adijaya, MSc., dan Permaisuri Ratu Kencanawangsa Dr. Ir. Arini Mariam, MSc., Senin (14/06/2010). Ratu Mulawangsa ditemani pula oleh putri dan menantu, Pangeran Putri Sri Negara Aryani Nurnisa Chandramidi, S.T dan Pangeran Mas Putra Wisesa Martin Drenth, BSc., MSc.
Kunjungan ini bukan hanya sekadar sebuah kehormatan, namun juga tanda persaudaraan. Sebelumnya, pada bulan Februari 2010, Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu Mahyudin Al Mudra, S.H., M.M., mengunjungi Kesultanan Mempawah. Dalam kunjungan tersebut Mahyudin Al Mudra mendapat anugerah gelar kebesaran Kesultanan Mempawah, dengan gelar Yang Mulia Seri Setia Amantubillah.
Pangeran Ratu Mulawangsa Mardan Adijaya Ibrahim merupakan ratu Kerjaan Mempawah ke-15 setelah kerajaan ini mejadi kerajaan Islam (kesultanan) dari tahun 2002-sekarang. Gelar Ratu Mulawangsa adalah Panembahan XIII.
Dalam kesempatan kunjungan tersebut, Pangeran Mulawangsa juga menyempatkan diri untuk turut berpartisipasi dalam diskusi bulanan yang diadakan oleh BKPBM dengan tema “Minangkabau dalam Dialektika Nusantara”. Pada kempatan diskusi tersebut beliau memberikan perbadingan dengan menceritakan persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat Melayu Kalimantan Barat.
Dalam pandangan beliau, penguatan lembaga adat (yang saat ini marak) bukan hanya sekadar untuk penguatan identitas, akan tetapi penghargaan terhadap pluralisme. Memaknai Islam sebagai way of life adalah memaknai Islam dalam pandangan hakihat, bukan sekadar syariat. Sehingga, berislam dengan memegang teguh Islam dalam hakikat berpengaruh terhadap tindakan dan perilaku untuk tidak menyakiti alam dan menyakiti manusia.
Ratu Kencanawangsa Dr. Ir. Ariani Mariam, MSc., berpandangan tak jauh berbeda. Ratu Kencanawangsa lebih menekankan pada aspek indentas kemanusiaan. Bagi beliau, manusia banyak yang tidak lagi menjadi “manusia” karena berbagai perilaku yang tidak mencerminkan “kemanusiaan”-nya. Sehingga, adalah penting untuk mengembalikan manusia pada nilai-nilai “kemanusiaan”-nya.
Usai acara diskusi, Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) menyerahkan cenderahati kepada Ratu Mulawangsa. Sebaliknya, Ratu Mulawangsa menyerahkan dua buah buku karya beliau tentang bela diri kerajaan dan buku kumpulan lagu yang beliau gubah.