Selasa, 18 Agustus 2026 |Arbia', 4 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini
:
3.759
Kemarin
:
19.117
Minggu kemarin
:
179.363
Bulan kemarin
:
11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
23 agustus 2007 07:26
Aksi Kalimantan dan Nagabonar Jadi 2 Tampil di Praha
London– Film produksi bersama Indonesia dan Cekoslawakia yang berjudul "Aksi Kalimantan" dan film "Nagabonar Jadi 2" yang dibintangi Deddy Mizwar menjadi tontonan yang menarik dalam rangkaian perayaan Hari Kemerdekaan RI di Praha, Ceko.
Film "Aksi Kalimantan" merupakan realisasi dari kerjasama kebudayaan Indonesia – Ceko yang ditandatangani kedua Negara pada tahun 1958, ujar Dubes RI di Praha, Salim Said, kepada ANTARA News di London, Rabu.
Pemutaran kedua film tersebut tidak saja dihadiri masyarakat Indonesia yang berdomisili di Praha serta sejumlah diplomat Asia tetapi juga warga Ceko yang cinta Indonesia.
Film "Aksi Kalimantan" adalah film produksi Indonesia-Ceko yang dibuat tahun 1962 yang disutradarai oleh sutradara asal Ceko dengan cerita yang ditulis Marsekal Udara S. Suryadarma, KSAU pada waktu, dan itu diproduksi Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) .
Film yang dibintangi artis ternama pada zaman itu, diantaranya Bambang Hermanto, Bambang Irawan, Pietrajaya Burnama dan Mike Wijaya, yang bercerita tentang penerjunan pertama tentara Indonesia di Kalimantan pada saat perang kemerdekaan.
Pemutaran film tersebut membawa kenangan dan menimbulkan keharuan bagi warga Ceko dan Indonesia yang terlibat langsung dalam pembuatan film tersebut, 45 tahun lalu diantaranya Koentiyo Soekadar dan Zorica Dubovska.
Koentiyo Soekadar, mahasiswa Indonesia di Praha yang mengisi suara salah seorang pemain karena tidak bisa didatangkan ke Praha, sedangkan Zorica Dubovska, seorang ahli bahasa Indonesia, yang pada saat itu bekerja di Kedutaan Besar Cekoslowakia di Jakarta bertindak sebagai penasehat bahasa.
Film "Aksi Kalimantan" yang tersimpan dengan baik di Lembaga Arsip Film Ceko hingga kini tidak ditemukan dalam Sinematik Indonesia.
Meskipun persetujuan kebudayaan itu dilakukan tahun 1958, hingga kini masih diakui kedua Negara dan tengah dilakukan pembicaraan dalam upaya meningkatkan hubungan budaya kedua Negara, demikian Salim Said.
Sumber : www.antara.co.id Kredit foto : www.vistonet.net