Senin, 20 April 2026 |Tsulasa', 3 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 535
Hari ini
:
13.359
Kemarin
:
26.672
Minggu kemarin
:
249.242
Bulan kemarin
:
101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
25 juni 2010 04:53
Usulkan Budaya Betawi Masuk Kurikulum
Jakarta - HUT DKI yang ke-483 membawa harapan baru bagi masyarakat Jakarta. Seperti pelestarian budaya Betawi. Rencananya, untuk menjadikan budaya Betawi tetap lestari, akan dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah.
’’Dengan belajar kesenian tradisional akan timbul kecintaan. Sehingga kesenian Betawi bisa terus hidup,’’ ujar Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) Tatang Hidayat.
Dengan dimasukkannya budaya Betawi ke dalam kurikulum sekolah, setiap generasi muda bisa dikenalkan budaya tradisional sejak dini serta berkesinambungan. Disamping juga dengan masuk sebagai materi pelajaran sekolah, siswa bisa dengan serius mendalami bagaimana budaya dan kesenian Betawi. Hal itu sangat berbeda jika budaya Betawi hanya diperkenalkan lewat ajang di luar sekolah.
Untuk bisa mengenal lebih dalam sangat sulit. Kecuali benar-benar berminat dan menekuni bidang tersebut. Apalagi, gencarnya pengaruh budaya dari luar sedikit banyak berpengaruh kepada karakter generasi muda. “Dengan mengenal lebih dalam budaya dan kesenian Betawi, anak Jakarta akan lebih cinta dan bangga pada kampung halamannya,” katanya.
Tatang mengakui, peran pemerintah dalam memberikan pengetahuan kesenian terhadap siswa didik sudah maksimal. Namun keterlibatan langsung dari Lembaga Kesenian Betawi yang ada masih kurang dilibatkan. Oleh sebab itu, Tatang meminta pemerintah memberdayakan peran LKB agar fokus memberikan materi pelajaran yang berkaitan dengan kesenian dan kebudayaan Betawi.
Pembangunan infrastruktur Kota Jakarta yang cukup pesat memang membuat kawasan ibukota maju. Namun, jika tidak diimbangi dengan pembangunan masyarakat Jakarta yang berbudaya akan terjadi ketimpangan. Warga Jakarta bisa meninggalkan budaya aslinya. Yakni budaya Betawi.
Pihaknya berharap, masyarakat Jakarta secara utuh memiliki peran langsung dalam pengelolaan, pelestarian dan pembinaan terhadap kebudayaan Betawi. Khususnya bagi generasi muda Jakarta. Dari sinilah, Tatang yang mewakili suara masyarakat kotaJakarta itu meminta kepada Pemprov DKI Jakarta untuk melibatkan LKB dalam pelestarian kebudayaan di sekolah-sekolah.
“Disamping pembangunan infrastruktur, sebaiknya Pemprov DKI membangun karakter masyarakat Jakarta yang berbudaya. Dalam arti menjadikan warga Jakarta yang religius, toleran, dan harmonis. Karakter kekeluargaan harus dibangun kembali agar peristiwa bentrokan antar etnis tidak terulang kembali,” harapnya. (aak/aj/jpnn)