Close
 
Sabtu, 22 Agustus 2026   |   Ahad, 8 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 368
Hari ini : 8.586
Kemarin : 24.647
Minggu kemarin : 178.006
Bulan kemarin : 11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

25 agustus 2007 08:02

Bahasa Wolio Harus Dilestarikan

Bahasa Wolio Harus Dilestarikan

Bentuk bangunan Istana Sultan Buton (Malige) di anjungan Sulawesi Utara Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Indonesia

Baubau- Bahasa wolio yang mulai digunakan sejak kehadiran mia patamiana dan resmi sebagai bahasa negeri sejak raja Buton pertama Wa Kaakaa mulai tidak mendapat perhatian sejak tahun 1960 dan kini sudah hampir punah.

Karena itu, bahasa wolio yang sudah sejak lama digunakan oleh penduduk negeri ini harus tetap dilestarikan oleh semua elemen yang ada di daerah ini. Adapun bentuk pelestarian bahasa ini wolio ini bisa melalui sarana pendidikan birokrasi dan lembaga-lembaga adat yang sudah terbentuk. Sebab, kedua lembaga ini memegang peranan yang sangat penting dalam rangka pelestarian bahasa wolio.

Demikian dikatakan kepala bidang nilai budaya kesenian sejarah dan purbakala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya (Parsenibud) Kota Bau-bau Drs Ali Arham melalui telepon selularnya kemarin.

Menurut Ali Arham, disamping melestarikan bahasa wolio (pogau wolio) yang terpenting sekarang ini adalah pembelajaran aksara wolio atau buri wolio dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas bahkan perguruan tinggi seperti Unidayan Bau-bau melalui muatan lokal.

Di masa lalu kata Ali Arham, bahasa wolio merupakan bahasa kenegaraan Kesultanan Buton yang selalu dipakai dengan tujuan untuk mempersatukan kerajaan-kerajaan yang termaksud dalam Kesultanan Buton. Sehingga, semua orang dalam wilayah Kesultanan menggunakan bahasa wolio sebagai bahasa persatuan. LAY

Sumber : www.kendariekspres.com
Kredit foto : www.tamanmin.com


Dibaca : 3.146 kali.

Tuliskan komentar Anda !