Senin, 17 Agustus 2026 |Tsulasa', 3 Rab. Awal 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini
:
1.595
Kemarin
:
22.556
Minggu kemarin
:
179.363
Bulan kemarin
:
11.454.048
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
02 november 2010 06:23
Penulis Muda Ikuti Jejak Raja Ali Haji
Tanjungpinang, Kepri - Geliat sastra di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, setidak-tidaknya sejak 7 tahun terakhir, berkembang pesat. Bukan saja karena Wali Kota Suryatati A Manan seorang perempuan penyair dengan sejumlah prestasi, tapi kota yang berjuluk Kota Gurindam Negeri Pantun itu roh sastranya begitu kuat.
Pasalnya, di daerah itu terkenal dengan tokohnya Raja Ali Haji (1708-1783), yang dinobatkan sebagai Bapak Bahasa Indonesia, Pahlawan Nasional (2004) dengan karyanya yang menumental Gurindan Dua Belas (1847), Bustanul Katibin (1857), dan Kitab Pengetahuan Bahasa (1859).
Kompetisi bidang sastra begitu banyak untuk anak sekolah semua tingkatan. Pemenang tidak saja mendapat hadiah lumayan besar, tapi karya-karya terbaik juga diterbitkan dalam bentuk buku dan menjadi bacaan di semua sekolah di Kota Tanjungpinang, kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, Abdul Kadir Ibrahim, di sela-sela acara Temu Sastrawan Indonesia III di Kota Tanjungpinang, yang berakhir Minggu (31/10).
Bahkan, untuk memotivasi penulis-penulis muda di bidang sastra, karya-karya terbaik untuk kategori cerita pendek dan puisi, dari sastrawan Indonesia, diterbitkan dalam dua buku, yaitu Ujung Laut Pulau Marwah (Antologi Cerpen Temu Sastrawan Indonesia III) dan Percakapan Lingua Franca (Antologi Puisi Temu Sastrawan Indonesia III), dan diluncurkan dalam acara yang dipenuhi puluhan karangan bunga ucapan selamat itu.
Menurut Suryatati A Manan, diluncurkannya kedua buku sastra tersebut agar selepas perhelatan akbar nasional itu muncul kembali penulis-penulis muda bidang sastra, yang sejatinya dapat memberi andil pula terhadap tumbuh-kembangnya sastra Indonesia modern.
Di samping itu, agar sastrawan yang mengikuti acara ini, dapat memetik banyak manfaat dalam berkreativitas di bidang sastra dan memberi manfaat terhadap Kota Tanjungpinang, katanya.
Suryatati kemudian mengutip penggalan puisinya: Hidup ini singkat/Kenapa harus diisi dengan menghujat/Hidup ini indah/Kenapa harus diisi dengan fitnah dan keluh kesah/Hidup ini nikmat/Kenapa harus diisi dengan dendam kesumat//.
Abdul Kadir Ibrahim berharap penerbitan dan peluncuran buku antologi puisi dan antologi cerita pendek itu dapat menjadi mutiara bagi pertumbuh-kembangan sastra Indonesia modern.
Dalam sebuah pantun ia mengatakan; Usai shalat Al-Quran dibaca/Kepala Allah merendah hati/Pertemuan sastrawan gapai ridhaNya/Karya sastra penghalus nurani.