Senin, 20 April 2026   |   Tsulasa', 3 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 1.213
Hari ini : 18.062
Kemarin : 26.672
Minggu kemarin : 249.242
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

18 november 2010 03:52

Upacara Adat Ramaikan Perayaan Idul Adha

Upacara Adat Ramaikan Perayaan Idul Adha

Ambon, Maluku - Sejumlah upacara adat bernuansa Islami dilakukan masyarakat Desa Tulehu, Kabupaten Maluku Tengah, Rabu (17/11/2010), untuk memeriahkan Idul Adha 1431 Hijriah.

Berdasarkan pantauan, kegiatan tersebut antara lain hadrat, ambu gila, tari cakalele, debus dan abdau yang menjadi puncak perayaan hari raya kurban itu.

Saat Abdau dilakukan, ratusan pemuda Tulehu berebut sebuah bendera khusus di pelataran masjid.

Ada pula pemotongan tiga ekor kambing yang telah diarak keliling desa, dan darahnya diperebutkan para pemuda setempat untuk digosokkan ke sekujur tubuh.

"Kami percaya, darah kambing kurban menyebabkan kekebalan terhadap berbagai penyakit. Dan jangan coba-coba menunjukkan kegelian saat menyaksikan kejadian itu, karena bisa berakibat kerasukan," kata Siti Rapiah Pari (45) di Ambon.

Para pemuda itu berdesak-desakan hingga menabrak beberapa kerumunan penonton dari ribuan orang yang tersebar di pelataran masjid dan sekitarnya.

Ada pula bambu gila yakni sebilah bambu panjang yang tiba-tiba terasa berat usai dimantrai walaupun sudah berusaha dipegang belasan pemuda saat dibawa mengelilingi masjid.

Tak kalah menariknya, pertunjukan tari Cakalele yang ditampilkan 18 orang pemuda dan tiga orang anak berpakaian adat serba merah sambil memegang parang dan salawaku (perisai) diiringi sebuah nyanyian daerah yang menggambarkan perjuangan Pattimura, salah satu pahlawan asal Maluku.

Selanjutnya, para penonton ngeri  saat menyaksikan aksi debus atau beberapa pemuda, orang tua maupun anak-anak yang menghujankan sepasang pasak besi yang bagian ujungnya sudah ditajamkan ke dadanya berulang-ulang hingga berdarah. Anehnya, kondisi tubuh mereka tetap stabil.

Hiburan lainnya, marching band Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Tulehu yang berpakaian serba hijau dan juga belasan anak kecil yang membawakan tari Qurbane. Tari ini diiringi lagu berbahasa India dengan judul yang sama dengan tariannya.

Menurut salah satu tokoh masyarakat desa Tulehu, John Saleh Ohorella (56), penyembelihan hewan kurban merupakan bentuk penyucian dosa umat Islam setempat.

"Kegiatan ini dilakukan berdasarkan kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail. Sebelum disembelih, ketiga kambing korban diarak terlebih dahulu ke rumah raja dan dikaulkan di rumah imam masjid," katanya.

John mengatakan, semangat persatuan dan kebersamaan para pemuda sebagai wujud penerimaan Islam juga tergambar jelas dalam abdau.

"Suatu bentuk pengorbanan kepada agama, bangsa dan negara," ujarnya tentang perayaan yang dipusatkan di Masjid Jamil Tulehu itu.

Sedangkan variasi kegiatan lainnya yang bernuasa adat maupun hiburan, kata dia, adalah khazanah baru dalam memeriahkan hari raya kurban.

"Salah satunya lagu Qurbane yang berasal dari India," kata mantan raja Desa Tulehu itu.

Salah seorang penonton, Veni Suandi (17) mengatakan, sangat tertarik dengan perayaan tahunan ini, terutama abdau dan dabus.

"Saya sudah tiga tahun berturut-turut menyaksikan perayaan ini," kata mahasiswa Universitas Darussalam Ambon.

Sumber: http://www.banjarmasinpost.co.id
Sumber Foto: http://lca.wisc.edu


Dibaca : 3.572 kali.

Tuliskan komentar Anda !