Close
 
Senin, 20 April 2026   |   Tsulasa', 3 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 619
Hari ini : 21.507
Kemarin : 26.672
Minggu kemarin : 249.242
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

30 november 2010 02:38

Ngumbay Lawok, Budaya Ruwatan Masyarakat Lampung

Ngumbay Lawok, Budaya Ruwatan Masyarakat Lampung

Tanggamus, Lampung - Ngumbay lawok atau syukuran atas keberkahan yang diberikan Allah SWT, dilakukan nelayan Teluk Semangka, Kabupaten Tanggamus, Lampung, Minggu.

"Ruwatan, atau istilah Lampung Ngumbay lawok, merupakan bagian dari warisan budaya bangsa indonesia yang perlu dilestarikan," kata Bupati Tanggamus, Bambang Kurniawan, di Kotaagung, Minggu.

Ia menghimbau masyarakat agar dapat menjaga lingkungan laut dan pantai, terutama tentang kebersihan, kesehatan, fasilitas penerangan yang telah diberikan oleh pemerintah kabupaten maupun provinsi.

Dia menegaskan, masyarakat di pesisir Tanggamus harus menjaga aset tersebut, demi kelancaran dan kenyamanan nelayan.

Ia mengatakan, Ruwatan (Ngumbay lawok) itu salah satu upacara adat leluhur yang lazim dilakukan masyarakat di pulau Jawa hingga Sumatera, yang memiliki tujuan untuk membebaskan manusia atau lingkungan dari ancaman bahaya.

"Intinya kita semua diperintahkan untuk selalu berdoa, mohon perlindungan kepada Allah dari ancaman bahaya, seperti bencana alam, dan berdoa mohon pengampunan dosa-dosa dari kesalahan-kesalahan yang sudah dilakukan yang dapat menyebabkan bencana," kata Bambang.

Upacara adat tersebut merupakan ajaran budaya Jawa kuno yang sangat sakral dan sekarang diadaptasi dan disesuaikan dengan ajaran agama.

Bambang mengatakan makna ruwatan jangan disalahartikan, karena ruwatan itu maknanya adalah mengembalikan pada keadaan sebelumnya; keadaan sekarang yang kurang baik dikembalikan kepada keadaan semula awal penciptaan yang baik dari Tuhan.

Ruwatan (Ngumbay lawok) juga membebaskan penduduk desa dari ancaman bencana yang kemungkinan akan terjadi.

Ruwatan seperti itu setiap tahun dilakukan oleh sebagian warga Tanggamus keturunan dari Jawa sebagai tolak bala atau buang sial, katanya.

Bambang mengharapkan agar masyarakat dapat sama-sama memahami arti kemajemukan itu dan tidak menjadikan perpecahan antara satu dengan lainnya hanya karena perbedaan pendapat dan tata cara dalam mengungkapkan rasa syukur pada Sang Pencipta.

"Semua itu pada dasarnya sama, yang terpenting adalah menjaga dan memelihara isi seluruh alam, agar dapat memberikan kemanfaatan yang besar bagi masyarakat di Tanggamus," ujarnya menambahkan.

Sumber: http://www.antaranews.com
Sumber Foto:
http://sosbud.kompasiana.com


Dibaca : 1.823 kali.

Tuliskan komentar Anda !