Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
08 desember 2010 08:00
Misteri Merapi Penanda Perubahan Zaman
Suasana dialog budaya “Yogya Semesta”
Yogyakarta, Melayuonline.com– Bencana Erupsi Gunung Merapi yang meluluhlantakkan dusun-dusun dan menewaskan kuncen Merapi, Mbah Maridjan setidaknya bisa menjadi salah satu bentuk pembelajaran disertai harapan sebagai bahan mawas diri bagi masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya.
Hal ini disampaikan Drs. Djoko Dwiyanto, MHum, Kepala Dinas Kebudayaan DIY dalam Dialog Budaya dan Gelar Seni “Yogya Semesta” Seri -38 bertepatan dengan 1 Sura 1944 Tahun Bedi Bangsal Kepatihan Kompleks Kantor Gubernuran Yogyakarta, Selasa (7/12) malam. Selain Djoko Dwiyanto, hadir pula narasumber lain yaitu Prof. Dr. Ir. Conrad Danisworo, Guru Besar FakultasGeologi UPN “Veteran” Yogyakarta, Prof. Dr. Suratman, MSc, Dekan Fakultas Geografi UGM, Djangkung Sudjarwadi, SH, LLM, Kepala Kantor Wilayah Ditjen Pajak DIY, dengan moderator tetap Hari Dendi sekaligus Pengasuh “YogyaSemesta”.
Djoko Dwiyanto dalam materi ‘Enigma Merapi dan Perubahan Zaman : Perspektif Historis – Arkeologis’ mengatakan empat tahun lalu, akhir tahun 2006 pernah diadakan suatu pertemuan ilmiah yang dikenal sebagai 1000 tahun Enigma Merapi, namun pada kenyataannya, letusan Gunung Merapi dengan menggunakan kedua sebutan tersebut baik erupsi maupun enigma, bagi masyarakat mengandung misteri yang tidak dapat diramalkan. “Banyak para ahli dan budayawan sering mengkaitkan antara hajatan gunung merapi dengan keadaan masyarakat, khususnya dengan kraton masa lalu dan pemerintahan negara masa kini,” katanya.
Melalui aspek arkeologis-budaya, Djoko mengatakan dari sejarahnya, Merapi seakan menandai proses perubahan zaman, sejak Pra-Merapi sampai sekarang, yang mengakibatkan kepindahan Kerajaan Mataram-Hindu ke Jawa Timur. Meski letusannya tidak sebesar seperti pada masa silam itu, letusan baru-baru ini tentunya juga berdampak pada pergeseran pola pikir dan perilaku penduduk lereng Merapi. “Semoga ini menjadi pembelajaran dan disertai harapan sebagai bahan mawas diri bagi masyarakat,” ujar Djoko.
Sementara dari aspek lingkungan Prof. Dr. Suratman, MSc, Dekan Fakultas Geografi UGM mengatakan, masyarakat khususnya yang tinggal di lereng merapi dapat mengenali tanda-tanda akan adanya bencana sehingga sebelum letusan terjadi, masyarakat bisa segera antisipasi agar tidak menjadi korban. “Merapi itu ibarat ular, sedang nglungsungi. Dan jika erupsi ini sudah terjadi maka akan ada kehidupan baru lagi. Biasanya, sebelum Merapi njebluk pasti ada tanda-tanda dari binatang terlebih ikan lele yang sudah mulai gelisah dan stres. Kalau orang merasakan sumuk yang luar biasa tentunya juga menjadi pertanda ada apa dengan Merapi, ini yang harus dicermati. Manusia harus peka,” katanya.
Dialog Budaya dan Gelar Seni “Yogya Semesta” Seri -38 yang juga dimeriahkan dengan penampilan adegan selang-seling wayang kulit ringkes dengan dalang Ki Sunardi dan diwarnai dengan performance singkat oleh Djangkung Sudjarwadi, SH, LLM, Kepala Kantor Wilayah Ditjen Pajak DIY lewat tembang-tembangJawa.
Pengasuh “Yogya Semesta”, Hari Dendi menambahkan Gunung Merapi merupakan sebuah enigma yang penuh misteri. Dalam mitologi Jawa, misteri merapi merupakan penanda perubahan zaman apalagi meletusnya Gunung Merapi diikuti juga dengan bergejolaknya Gunung Slamet, Dieng, Bromo, dan Semeru secara bersamaan. Dikatakan Hari, sebelum amuk laut dan amuk gunung mereda, maka masih akanada amuk pamungkas yakni amuk jagad manusia. Di kehidupan sekarang ini akan datang suasana panas yang akan melanda negeri ini, dan ritme ini terus meninggi sampai semuanya reda kembali, lahir kembali harmonisasi Keraton Laut, Keraton Api dan Keraton Manusia. **(Eko Wahyu)