Close
 
Senin, 20 April 2026   |   Tsulasa', 3 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 2.815
Hari ini : 32.449
Kemarin : 26.672
Minggu kemarin : 249.242
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

14 desember 2010 02:30

Raja Muda Kesultanan Banjar Ditabalkan

Raja Muda Kesultanan Banjar Ditabalkan

Martapura, MelayuOnline.com – Setelah sempat mati suri selama lebih dari 100 tahun, akhirnya Kesultanan Banjar bangkit kembali. Pada hari Minggu (12/12), atau bertepatan dengan tanggal 6  Muharram 1432 H, Pangeran Haji Gusti Khaerul Saleh dinobatkan sebagai Raja Muda Kesultanan Banjar. Prosesi penabalan yang diselenggarakan di Mahligai Sultan Adam, Jalan Ahmad Yani No. 1, Martapura, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, ini berlangsung dengan cukup meriah dan khidmat.

Rangkaian prosesi penobatan Pangeran Haji Khaerul Saleh sebagai Raja Muda Kesultanan Banjar dihadiri oleh sedikitnya 28 raja/sultan dan perwakilan kerajaan/kesultanan dari nusantara dan mancanegara. Raja-raja yang hadir antara lain: Sultan Prabudiredja Badaruddin III (Kesultanan Palembang Darussalam), Tengku Mochtar Anum (Kesultanan Siak Sri Inderapura), Sri Susuhunan Pakubuwono XII Tedjowulan (Kasunanan Surakarta Hadiningrat), Kanjeng Pangeran Haryo Anglingkusumo (Kadipaten Pakualaman Yogyakarta), Raja Abdullah (Kerajaan Mamala Maluku), dan lain-lainnya.


Mahyudin Al Mudra Mengucapkan Selamat Atas Penobatan Raja Muda
Kesultanan Banjar

Utusan dari luar negeri yang datang menghadiri acara penobatan itu di antaranya adalah warga keturunan Kesultanan Banjar yang bermukim di Brunei Darussalam, Kesatuan Urang Banjar di Selangor dan Kuala Lumpur (Malaysia), serta tamu dari negeri Belanda dan Jerman. Mahyudin Al Mudra, SH, MM, Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) sekaligus Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi www.MelayuOnline.com dan www.KerajaanNusantara.com juga turut hadir menyaksikan rangkaian prosesi penobatan Raja Muda Kesultanan Banjar tersebut. Tampak pula Ketua Balai Kebudayaan Adat Banjar dan para tetua adat Banjar.

Acara penobatan Raja Muda Pangeran Haji Gusti Khaerul Saleh, yang juga menjabat sebagai Bupati Banjar, juga dihadiri oleh Surya Yoga (Staf Ahli Menbudpar Bidang Pranata Sosial) mewakili Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik yang berhalangan hadir. Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Arifin, para walikota/bupati, dan sejumlah anggota DPRD Kalimantan Selatan maupun DPR-RI, juga terlihat hadir dalam perhelatan ini. Tidak ketinggalan, para tokoh masyarakat, tokoh agama, budayawan, sejarawan, dan warga Martapura pada umumnya juga turut ambil bagian dalam prosesi sakral penobatan Raja Muda Kesultanan Banjar tersebut. Setelah upacara penobatan selesai dilaksanakan, acara dilanjutkan dengan melantik dan penganugerahan gelar kepada kerabat Kesultanan Banjar.


Penganugerahan Gelar kepada Kerabat Kesultanan Banjar

Dalam silsilah keluarga Kesultanan Banjar, Raja Muda Pangeran Haji Gusti Khaerul Saleh merupakan keturunan dari Sultan Adam Al Wasik Billah yang bertahta pada periode 1825-1857 M. Momen kebangkitan ini merupakan penantian panjang di mana sejak tahun 1905 status Kesultanan Banjar dihapuskan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Kesultanan Banjar sendiri berdiri sejak tahun 1526 M dan merupakan kelanjutan dari riwayat Kerajaan Negara Dipa (1355 M) serta Kerajaan Negara Daha (1448 M).

Bagai “Mengangkat Batang Terendam”

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, dalam sambutan yang dibacakan oleh Surya Yoga, mengucapkan selamat atas ditabalkannya Pangeran Gusti Haji Khaerul Saleh sebagai Raja Muda Kesultanan Banjar. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI juga memberikan apresiasi atas terselenggaranya prosesi budaya tersebut. “Ini merupakan bagian dari usaha melestarikan budaya bangsa,” kata Jero Wacik seperti yang disampaikan oleh Surya Yoga.


Rudy Arifin (Gubernur Kalsel) & Surya Yoga (Staf Ahli Menbudpar)

Selain itu, Jero Wacik juga menyampaikan ucapan selamat atas berdirinya Lembaga Adat dan Kekerabatan Kesultanan Banjar (LAKKB) yang terbentuk sebagai hasil musyawarah bersama pada tanggal 24 Juli 2010 di Banjarmasin. Jero Wacik mengharapkan supaya keberadaan LAKKB dapat menangkal dominasi arus globalisasi yang bisa meruntuhkan nilai-nilai kearifan budaya kesultanan. “Semoga keberadaan LAKKB dapat dijadikan sarana untuk menyampaikan segala ide, gagasan, dan mampu memacu gerak bersama demi ‘mengangkat batang terendam’ atau menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal masa lampau agar dapat diterapkan di masa sekarang,” demikian pesan Jero Wacik.

Gubernur Kalimantan Selatan, Rudy Arifin, mengajak untuk menjadikan momentum kebangkitan Kesultanan Banjar untuk memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Gubernur juga berharap semoga keberadaan Kesultanan Banjar dapat memperkuat tekad dan komitmen bersama untuk melestarikan adat-budaya Banjar serta dapat semakin mempertegas jatidiri dan kepribadian urang Banjar dalam menghadapi tantangan zaman. “Semoga kebangkitan Kesultanan Banjar membuat semua kalangan berpikir positif demi upaya memperkaya khazanah budaya yang ada di Kalimantan Selatan. Semoga adat Banjar tidak lekang karena panas dan tidak lapuk karena hujan,” kata Gubernur mengakhiri sambutannya.


Rangkaian Acara Penobatan Raja Muda Kesultanan Banjar

Dalam kesempatan yang sama, dilakukan juga peluncuran buku berjudul Kamus Indonesia-Banjar Dialek Kuala yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Banjarmasin. Buku ini sebenarnya sudah beredar sejak tahun 2008 dan diluncurkan kembali dengan tajuk Edisi Khusus dalam rangka turut meramaikan acara penobatan Raja Muda Kesultanan Banjar pada akhir tahun 2010 ini. Diterbitkannya kamus setebal 473 halaman yang proses pengerjaannya sudah dirintis sejak tahun 2001 itu diharapkan dapat bermanfaat sebagai referensi untuk lebih mengenal, mempelajari, dan melestarikan bahasa urang Banjar agar tak hilang digerus zaman. (Iswara N. Raditya/MelayuOnline)

Sumber Foto: Dokumentasi BKPBM (Fajar Kliwon)


Dibaca : 6.243 kali.

Tuliskan komentar Anda !