Jumat, 17 April 2026   |   Sabtu, 29 Syawal 1447 H
Pengunjung Online : 4.468
Hari ini : 68.018
Kemarin : 36.578
Minggu kemarin : 249.242
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

10 januari 2011 03:02

Lestarikan Budaya untuk Kedamaian Bangsa

Lestarikan Budaya untuk Kedamaian Bangsa

Waykanan, Lampung - Bupati Kabupaten Waykanan, Provinsi Lampung Bustami Zainudin mengharapkan budaya "angkenan" atau mengangkat saudara, perlu dilestarikan sehingga seluruh warga daerah itu bersaudara.

"Tidak ada orang Jawa, Batak, dan sebagainya di sini, yang ada adalah orang Waykanan. Karena itu saya juga sangat mengharapkan bahasa daerah tidak punah, namun bisa tumbuh dan berkembang," katanya di Blambanganumpu, Sabtu.

Perihal angkenan, ujar Bustami menambahkan, bisa dilakukan saat ada keluarga memiliki hajatan seperti pernikahan.

"Jika orang Lampung mengangkat saudara dari Jawa, Bali, dan lain sebagainya semua warga daerah ini adalah saudara. Mari bersama-sama membangun Waykanan yang kita cintai dari mana pun kita berasal," imbaunya.

Persatuan negara, kata bupati, dirajut dengan keluhuran budaya, karenanya kebudayaan jangan sampai hilang. "Demikian juga untuk budaya bualih atau menangkap ikan beramai-ramai, saya juga berharap untuk dilestarikan," ujarnya.

Malah, kata bupati, kalau bisa saat ada acara bualih, pihak museum rekor Indonesia atau MURI datang ke Waykanan dan mencatatnya.

"Saya berharap dan yakin bualih bisa masuk MURI jika seluruh warga Waykanan menangkap ikan beramai-ramai pada ulang tahun kabupaten ini nantinya," kata dia.

Karena itu, lanjut Bustami, Dinas Pertanian Peternakan dan Perikanan Kabupaten Waykanan harus mempersiapkan supaya hal tersebut bisa terealisasi.

Bualih ialah dimana orang beramai-ramai menangkap ikan di kolam atau sungai hanya dengan tangan dan tanpa menggunakan alat bantu atau racun sekalipun.

"Bualih  ialah tradisi nenek moyang kita dulu saat mencari ikan yang biasanya dilakukan secara beramai-ramai turun ke sungai," ujar bupati menjelaskan.

Secara makna, lanjut Bustami, bualih bisa diartikan membiasakan diri mencari kebutuhan hidup secara bersama-sama. "Namun tentu saja, hasilnya disesuaikan dengan kemampuan per individu," kata bupati.

Menariknya dari tradisi Bualih, kata bupati melanjutkan, para leluhur melakukannya dengan tertib tanpa adanya pertentangan.

"Inilah yang sangat diharapkan untuk bisa diterapkan dalam kehidupan modern, bersaing sehat sehingga suasana tetap kondusif," pungkasnya.

Sumber: http://oase.kompas.com
Sumber Foto: http://www.bpkp.go.id


Dibaca : 1.345 kali.

Tuliskan komentar Anda !