Close
 
Selasa, 14 April 2026   |   Arbia', 26 Syawal 1447 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 9.732
Kemarin : 21.376
Minggu kemarin : 280.012
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

28 maret 2011 04:18

Minim Perhatian Warga terhadap Pelestarian Rumah Gadang

Minim Perhatian Warga terhadap Pelestarian Rumah Gadang

Padang, Sumbar - Peneliti arsitektur Minang dari Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Bung Hatta Padang, Dr Eko Alvares menilai, perhatian dan pengetahuan masyarakat Minang di daerah terhadap pelestarian Rumah Gadang yaitu rumah adat Minangkabau sangat kurang.

Akibatnya, telah banyak terjadi perubahan pola ruang luar rumah gadang saat ini, katanya di Padang, Minggu (27/3). Ia menjelaskan, pola ruang luar maksudnya ruang yang terjadi dengan membatasi alam dan dipisahkan dari alam dengan memberi frame, dalam arti kata sebagai lingkungan luar buatan manusia.

Menurut dia, ruang luar merupakan arsitektur tanpa atap atau dengan kata lain, dari satu plot bangunan maka bagian dibawah atap disebut ruang dalam dan bagian-bagian yang tidak beratap disebut ruang luar.

Dalam pengertian arsitektur, tambahnya, ruang luar termasuk kebun dan ruang terbuka dan untuk menjaga nilainya sebagai arsitektur tanpa atap maka harus direncanakan dengan hati-hati supaya tidak terjadi perluasan alam tak terbatas.

Ruang luar dari rumah gadang, meliputi halaman yang luas tanpa ada bangunan lain. di ruang luar hanya ada rangkiang (lumbung padi) dan kebun aneka tanaman bumbu masakan, bunga, obat atau apotik hidup. Akan tetapi, saat ini telah banyak terjadi perubahan pola ruang luar rumah gadang saat ini karena kurangnya perhatian dan pengetahuan masyarakat Minang di daerah terhadap pelestarian rumah adat Minangkabau ini.

Perubahan ini antara lain, mulai banyaknya rumah hunian atau bangunan lain di halaman atau disisi rumah gadang serta mulai berkurangnya taman atau kebun di halaman rumah gadang. Menurut dia, rumah gadang juga mulai ditinggalkan yang merupakan awal dari perubahan pola ruang luar rumah adat tersebut.

Ia mengatakan, salah satu penyebab itu terjadi karena munculnya tren kehidupan baru pada masyarakat minang di perkampungan, dengan mulai terpengaruh gaya hidup orang kota yang cenderung individual dan menggunakan teknologi modern.  Tren tersebut memberikan dampak bagi korelasi negatif terhadap rumah gadang dengan rumah baru, dimana rumah gadang yang lebih dulu berdiri kini hanya sebagai hiasan dan saksi bisu berdirinya rumah-rumah baru, tambahnya.

Korelasi seperti itu akan memberikan dampak bagi kelangsungan rumah gadang, dimana rumah baru justru dibangun pada bagian depan atau di samping rumah gadang, bahkan terkadang ditempatkan persis di samping atau di sebelahnya. Penempatan rumah baru yang kurang bersahaja ini tentu sangat mengganggu pola luar rumah gadang, demikian Dr Eko Alvares.

Sumber: http://www.mediaindonesia.com
Sumber Foto: http://littlemoneypenny.blogspot.com


Dibaca : 2.176 kali.

Tuliskan komentar Anda !