Close
 
Minggu, 26 April 2026   |   Isnain, 9 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 1.035
Hari ini : 17.669
Kemarin : 23.172
Minggu kemarin : 7.342.256
Bulan kemarin : 101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

08 sepember 2007 05:23

Kampanye Peningkatan Apresiasi Siswa Terhadap Museum

Kampanye Peningkatan Apresiasi Siswa Terhadap Museum

Pekanbaru- Museum Daerah Riau “Sang Nila Utama” bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Dispora) Pekanbaru mengadakan kegiatan “Kampanye Peningkatan Apresiasi Anak Didik Terhadap Museum”, dari tanggal 5 hingga 8 September. Kegiatan ini dibuka secara resmi Wakil Kepala Dinas Kebudayaan Kesenian dan Pariwisat (Disbudsenipar) Provinsi Riau, RM Yamin.

Kepala Museum Daerah Riau “Sang Nila Utama”, Dra Asmawaty Abza kepada wartawan, Jum`at (7/9) diruang kerjanya mengatakan, tujuan diadakannya kegiatan tersebut adalah untuk meningkatkan fungsionalisasi museum dalam pembinaan pelestarian kebudayaan serta sebagai salah satu media pendidikan non formal.

Selain itu, tambahnya, juga untuk memperkenalkan tugas dan fungsi museum serta keberadaannya kepada masyarakat. Khususnya berkaitan dengan pembinaan dan pelestarian kebudayan daerah. Dan juga untuk meningkatkan apresiasi masyakarat terhadap museum, khususnya para pelajar untuk menjadi duta museum.

“Salah satu tujuan lainnya adalah untuk menumbuh dan mengembangkan minat masyarakat. Khususnya para pemuda untuk menjadi motivator dalam pelestarian, mengembangkan dan memajukan kebudayaan daerah yang tentunya merupakan asset budaya Indonesia,” tutur Asmawaty.

Diakuinya, dalam kegiatan ini, pihaknya menentukan beberapa materi kegiatan. Yakni pengenalan museum secara umum, pengenalan koleksi museum, pemeliharaan/perawatan dan tata pameran, dan bimbingan serta publikasi museum.

“Kegiatan ini adalah kegiatan tahun kedua. Pada tahun 2006 lalu, kita mengadakannya di daerah Rokan Hilir, Bengkalis dan Indragiri Hilir. Dan tahun ini, kita lakukan untuk Pekanbaru dengan jumlah peserta 64 pelajar dari SD, 64 pelajar dari SLTP dan 64 pelajar dari SLTA sederajat,” kata wanita yang akrab disapa Ema ini.

Menurutnya, “Kampanye Peningkatan Apresiasi Anak Didik terhadap Museum” ini dibagi empat priode. “Sebenarnya, banyak pihak sekolah yang merasa `cemburu` karena sekolahnya tak diikutkan dalam kegiatan ini. Ini menunjukkan bahwa, kegiatan non formal bagi pelajar (dunia pendidikan) ini sangat disambut baik oleh pihak sekolah,” akunya.

Untuk mengatasi hal itu, pihaknya berjanji kepada pihak sekolah yang tahun ini tak mendapat jatah panggilan turut serta, maka untuk ke depannya, pihak sekolah tersebut akan diikutsertakan.

Museum Daerah Riau “Sang Nila Utama” yang terletak di Jalan Sudirman Pekanbaru memiliki 4.292 koleksi berbagai jenis benda bernilai budaya. Makanya, untuk lebih memudahkan para pelajar yang ikut dalam kegiatan ini mengenali benda-benda tersebut, pihaknya membuat kegiatan itu mengarah kepada dialog.

“Pesertanya kan dari pelajar SD, SLTP dan SLTA sederajat. Tentunya, mereka ini akan sulit mengerti tentang kegiatan ini, apalagi jenjang usia mereka yang berbeda. Untuk itu, agar mereka lebih gampang menyimaknya, maka kegiatan yang kita adakan ini lebih banyak diupayakan untuk berdialog. Tujuannya, agar mereka tidak merasa terbebani,” demikian Asmawaty mengutarakan.

Riau Jendela Kepulauan Indonesia

Sebelumnya, Wakil Kepala Dinas Budsenipar Riau Drs RM Yamin saat membuka acara mengatakan, selain sebagai salah satu objek wisata, museum juga berfungsi sebagai tempat menggali ilmu pengetahuan non formal. Ini berarti, keberadaan museum mempunyai peranan penting dalam menunjang kegiatan pendidikan masyarakat dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Diutarakan, berbicara tentang kebudayaan, juga tidak terlepas dari keberadaan museum. Dan tentu pula, keberadaan museum juga tak terpisahkan dengan pendidikan. Hal ini terlihat nyata dengan keberadan museum sebagai lembaga yang melayani kepentingan masyarakat dan kemajuannya yang fungsi dan tugasnya mengumpulkan, memelihara, meneliti, memamerkan serta mempublikasikan benda-benda dan lingkungannya untuk tujuan pendidikan non formal yang bersifat kreatif.

Diakuinya, perkembangan kebudayaan tak terlepas dari pengaruh lingkungan social masyarakat pendukung dimana kebudayaan itu berkembang. “Jadi, museum ini berperan serta menunjang kegiatan pendidikan masyarakat,” ujar RM Yamin.

Lebih jauh dikatakan, sebagai “Jendela Kepulauan Indonesia (Window of Indonesian Archipelago)”, Provinsi Riau memiliki keunikan dari sudut perkembangan kebudayaan Indonesia. Dimana, faktor bahasa Melayu yang merupakan induk dari bahasa Indonesia berasal dari daerah ini dan juga pernah menjadi pusat kerajaan Melayu masa lalu, serta letaknya yang strategis tentunya menjadikan wilayah ini mempunyai keanekaragaman budaya daerah.

“Nah, ini dapat dijadikan sebagai modal visi dan misi Riau 2020. Dan kondisi yang kita harapkan ini tentunya tak akan terwujud tanpa dibarengi usaha dan kegiatan yang mengarah pada cita-cita itu mulai dari sekarang,” terangnya lagi.

Sumber : bangrusli.net
Kredit foto : Koleksi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu


Dibaca : 2.497 kali.

Tuliskan komentar Anda !