Close
 
Jumat, 3 Juli 2026   |   Sabtu, 17 Muharam 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 7.756
Kemarin : 34.437
Minggu kemarin : 251.743
Bulan kemarin : 7.211.288
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

06 juli 2011 06:48

Pancasila, Ekspresi Kreatif Kawula Muda

Dialog Budaya dan Gelar Seni “Yogya Semesta” Seri-43
Pancasila, Ekspresi Kreatif Kawula Muda

Yogyakarta, MelayuOnline - Bertempat di Bangsal Kepatihan, Danurejan, Kota Yogyakarta, Dialog Budaya dan Gelar Seni “Yogya Semesta” dilangsungkan pada Selasa malam (5/7). Agenda rutin bulanan yang memasuki seri ke-44 kali ini bertepatan dengan peringatan Hari lahirnya Pancasila ke-66. Dialog yang dipandu oleh Hari Dendi ini bertujuan untuk merefleksikan kembali sejarah lahirnya Pancasila dan menyingkap problematika “kemerosotan” Pancasila di mata anak muda.

Dialog budaya kali ini menampilkan narasumber yang diharapkan dapat memberi masukan sekaligus semangat kepada generasi muda untuk menjadikan Pancasila sebagai idola dan sumber pengetahuan dalam hidup berbangsa dan bernegara. Para narasumber itu di antaranya adalah Drs. Nanang Rakhmad Hidayat, Msn (pengajar Institut Seni Indonesia Yogyakarta sekaligus peneliti lambang negara Garuda Pancasila) dan Hendrawan Kuswanto (mahasiswa jurusan informatika Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta dan Ketua KIMOCHI Yogyakarta). Selanjutnya, paparan kedua narasumber tersebut akan diulas oleh Drs. Sindung Tjahyadi, Msi (Kepala Pusat Studi Pancasila UGM).  

Dialog ini dibuka dengan penampilan audio visual bertema “Mencari Telur Garuda”. Sebuah visualisasi tentang proses pencarian wujud burung garuda sebagai simbol negara. Kemudian, acara disambung dengan paparan Nanang Rakhmad mengenai burung garuda berdasarkan penelitiannya selama ini. Nanang yang telah mendokumentasikan lebih dari 200 spesies burung garuda memaparkan Pancasila secara unik. Baginya, Pancasila telah bertransformasi, yakni bukan menoleh ke kanan (keadilan), melainkan ke kiri (kebohongan dan kerakusan). Ia menggambarkan Pancasila bagai gunungan yang melambangkan alam semesta di mana di sekelilingnya terdapat para raksasa yang berpesta-pora.  

Sedangkan Hendrawan Kuswanto menampilkan Pancasila dari sisi anak muda dengan visualisasi bertema “Kerennya Pribadi Bangsaku-Pancasila sebagai Manual Bangsa”. Visualisasi “gaul” ini menggunakan animasi ala Naruto dan Ksatria Baja Hitam. Hendrawan ingin menunjukkan bahwa masih banyak generasi muda yang sadar akan nasib bangsanya demi masa depan yang lebih baik. Pancasila bukanlah konsep filosofis yang susah untuk dijangkau dan dipahami anak muda. Sebaliknya, Pancasila adalah panduan manual bangsa yang mudah dicerna dan bisa juga “gaul”.   

Sementara itu, dalam paparannya, Sindung Tjahyadi berpendapat bahwa kedua narasumber yang tampil pada malam itu semakin membuktikan akan kesaktian Pancasila itu sendiri. Sebagai simbol dan dasar negara, Pancasila menginspirasi banyak hal, termasuk kesenian. Pancasila dapat masuk ke semua lapisan masyarakat Indonesia. Hal ini menjadikan optimisme dan kepercayaan tersendiri bahwa Pancasila memang cocok dengan jiwa masyarakat Indonesia dan sesuai untuk dijadikan dasar negara.

(Yusuf Efendi/Brt/06/07-2011)


Dibaca : 1.835 kali.

Tuliskan komentar Anda !