Close
 
Minggu, 5 Juli 2026   |   Isnain, 19 Muharam 1448 H
Pengunjung Online : 0
Hari ini : 3.002
Kemarin : 32.542
Minggu kemarin : 251.743
Bulan kemarin : 7.211.288
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

13 agustus 2011 06:35

Keluarga Pagaruyung Protes Pembangunan Istano Basa

Keluarga Pagaruyung Protes Pembangunan Istano Basa

Padang, Sumbar - Pihak keluarga besar keturunan Raja Pagaruyung meminta Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk dilibatkan dalam proses pembangunan kembali Istano Basa Pagaruyung Tanah Datar.

Menurut keluarga besar keturunan Raja Pagaruyung, sejak diserahterimakannya hak pakai tanah kaum raja kepada Pemerintah Provinsi Sumbar untuk pembangunan Istano Basa, pihak keturunan keluarga Istano jarang dilibatkan dalam setiap proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan Istano Basa.

“Dulu pihak keluarga bersama Gubernur Sumbar membuat sebuah perjanjian pada saat penyerahan hak pakai tanah untuk pembuatan Istano Basa Pagaruyung. Saat itu dinyatakan bahwa hak pakai tanah berada di tangan Pemprov dan Pemda sebagai panitia pembangunan dan pengelolaannya. Dalam kesepakatan itu juga dinyatakan bahwa keluarga akan selalu dilibatkan dengan apapun yang terkait dengan Istano,” ujar Sutan Muhammad Taufik Thaib, salah satu keturunan Kerajaan Pagaruyung kepada Haluan, Kamis (11/5/2011).

Namun menurutnya sejak pembangunan, pihak keluarga Taufik tidak begitu diikutsertakan dalam setiap kegiatan terkait Istano Basa Pagaruyung. Hal yang sama diungkapkan Rhauda Thaib yang merupakan pewaris perempuan Istano Basa saat ini. Ditemui terpisah, Rhauda mengatakan bahwa secara kesepakatan keluarga memang dinyatakan harus dilibatkan dalam setiap hal yang terkait dengan Istano Basa.

“Namun dilibatkan ternyata bukan berarti memiliki peran, akibatnya banyak hal yang tidak memberikan ‘tempat’ kepada keluarga. Menurut saya sebaiknya memang dalam pengelolaan Istano harus ada diskusi antara keluarga dengan instansi manapun yang kini menggunakan hak

pakai tersebut. Sayangnya, sejauh ini kami cenderung hanya dilibatkan dalam acara pemberian gelar-gelar saja,” jelasnya.

Oleh karena itu, terkait proses pembangunan Istano Basa yang kini dalam proses pembangunannya menjadi temuan BPK RI, baik Rhauda maupun Taufik menyatakan belum mengetahui apa-apa tentang itu.

Rhauda berharap sebagai salah satu destinasi pariwisata budaya Minangkabau, keberadaan Istano Basa jangan dipisahkan dengan sejarah yang melekat erat pada bangunan yang menjadi tonggak sejarah Minangkabau ini.

“Bagaimanapun untuk mengembangkan pariwisata budaya kita tak bisa menafikan sejarah. Baik Istano Basa maupun Silinduang Bulan merupakan simpul-simpul budaya Minangkabau yang saling melengkapi. Sudah selayaknya dijaga kelestariannya secara turun temurun,” tandas Rhauda lagi.

Selain itu kisah Kerajaan Pagaruyung ini juga memiliki kaitan erat dengan berbagai sejarah di daerah lain. “Jadi kami hanya akan menjadi pusat adat, tidak akan ada yang memanfaatkan nilai sejarah ini untuk sebuah unsur politik apapun,” tegasnya.

Sumber: http://nasional.inilah.com


Dibaca : 2.925 kali.

Tuliskan komentar Anda !