Close
 
Selasa, 19 Mei 2026   |   Arbia', 2 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 1.577
Hari ini : 20.406
Kemarin : 19.896
Minggu kemarin : 249.195
Bulan kemarin : 15.288.374
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

20 januari 2007 02:07

Lomba Sampan

BAGI masyarakat pulau sekitar Batam, lomba perahu kolek sudah menjadi agenda tahunan tiap perayaan 17 Agustusan atau HUT Kemerdekaan Indonesia.

Perlombaan yang mirip dengan lomba perahu layar ini sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Melayu yang hidupnya menggantungkan diri sebagai nelayan.

Tradisi yang turun-temurun ini, dikabarkan sudah berumur 40 tahun. Tidak jelas siapa yang memulainya. Yang jelas, lomba sampan kolek ini biasanya dipusatkan di Pulau Belakang Padang. Tapi, dalam tiga tahun terakhir, juga dilaksanakan di tempat lain, seperti Sembulang dan Buluh.

Jangan tanya jumlah pengunjung yang datang menyaksikannya. Seperti perlombaan kolek pada Kamis (19/8) di Sembulang, Pulau Galang, yang disaksikan Wali Kota Batam Nyat Kadir, sedikitnya 1.000 warga tumpah ruah memadati jalan dan tepi pantai. Warga yang datang berasal dari lima pulau, seperti Pulau Panjang, Pulau Pasir Todak, Pulau Patah, Pulau Akar, dan Pulau Buluh.

Warga yang berkunjung, sebagian besar datang dengan naik truk, bus, sepeda motor dan berjalan kaki dan ada juga dengan naik sampan atau perahu. Biasanya, bagi warga pulau lain, sudah datang sehari sebelumnya dengan perahunya masing-masing. Mereka menginap semalam di tepi pantai atau di atas sampannya dengan membawa perbekalannya masing- masing.

Tontonan yang disaksikan warga bukan hanya lomba sampan kolek. Tapi, ada berbagai tradisi rakyat, seperti joget dangkung, panjat pinang, tarik tambang, atau hiburan musik gazal. Namun, puncak dari hiburan utama masyarakat pulau adalah lomba sampan kolek.

Jenis permainan ini disebut kolek karena tiang pancang (sauk) sebagai pengikat layar bentuknya panjang. Jika tiang pancang pendek, disebut belumak. Warna layarnya pun beragam dan tidak diharuskan sama. Ada merah, kuning, biru, hijau, seperti bendera warna partai politik. Jumlah orang yang ikut berlomba dalam satu perahu mulai dari lima orang, tujuh orang, sembilan, dan 12 orang. Jarak tempuh perlombaan sekitar satu mil lebih dengan menempuh searah angin dan melawan arah angin.

Pemain kolek terdiri dari orang tua dan muda. Dalam perlombaan, masing-masing pemain tugasnya adalah membawa sampan dari garis awal (start) sampai akhir (finish) mampu mengarungi ombak laut yang kuat. Karena pesertanya semuanya nelayan, jarang sekali sampan kolek yang mereka bawa tenggelam. Kalaupun ada yang sampai tenggelam, biasanya para nelayan mampu mengembalikan seperti semula.

Supaya sampan cepat berlayar, pemain harus cekatan memegang tali bedogang, yang diikatkan ke tiang layar. Semakin kuat dipegang talinya, kecepatan sampan pun semakin kencang.

"Bagi kami, lomba perahu kolek sudah menjadi tradisi masyarakat pulau yang sehari-hari hidupnya menggantungkan dari hasil laut. Kalau tak ada perlombaan perahu kolek, rasanya tidak ramai," kata Ali (70), warga Pulau Panjang, kepada Kompas ketika menghadiri perlombaan perahu kolek di Sembulang, Pulau Galang, Batam, Kamis.

Pengakuan Bujang (58), warga Sembulang, mereka tak mempermasalahkan besar kecilnya hadiah. Kemeriahan dan rasa kebersamaan itulah yang hendak mereka bangun dari tahun ke tahun. "Rasanya tak sedaplah merayakan hari kemerdekaan jika tak ada lomba sampan kolek," ujarnya.

Walikota Batam Nyat Kadir mengatakan, lomba sampan kolek sudah tiga tahun terakhir dijadikan sebagai agenda resmi tahunan bagi Pemerintah Kota Batam dalam memeriahkan perayaan 17 Agustusan. Animo masyarakat terlihat cukup tinggi untuk mengikutinya.

Pada tahun mendatang, jelas Nyat, Pemkot Batam akan menjadikannya sebagai agenda wisata. Selama tiga tahun perayaan 17-an di pulau-pulau ini, belum dikoordinasikan dengan agen-agen perjalanan dan hotel untuk dijadikan kalender wisata. Belum dijadikannya sebagai kalender wisata karena fasilitas dam sentuhan kreativitas atas perlombaan yang disajikan belum tertata baik.

Pada tahun 2005 mendatang, diharapkan, rencana menjadikan perayaan Agustusan sebagai kalender wisata akan dimulai. Itu dimaksudkan agar peningkatan kedatangan wisatawan meningkat dari tahun sebelumnya yang berjumlah 1,2 juta orang menjadi 1,5 juta orang.

"Kami yakin, perayaan kemerdekaan dapat menjadi salah satu daya tarik untuk menjual obyek wisata ke wisatawan. Tentu saja dilengkapi dengan obyek wisata budaya dan tradisi," ungkapnya.

Bagi Anas, pengusaha hotel Novotel, jika lomba sampan layar hendak dijadikan pemerintah kota sebagai kalender tahunan wisata, tentu sangat didambakan. Sebab, harus diakui, hingga sekarang ini Batam yang hendak dijadikan sebagai pintu gerbang pariwisata Indonesia tidak memiliki kalender tahunan wisata.

"Kami dari perhotelan sangat mengharapkan agar Pemkot Batam bisa memprakarsai kalender tahunan wisata di Batam. Tentu saja dalam pelaksanaannya harus dipersiapkan secara profesional dengan sentuhan kreativitas seni tradisi yang dapat dijual kepada wisatawan," jelas Anas yang juga Bendahara Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Batam.

Cita-cita Nyat untuk menjadikan kalender wisata sebetulnya sangat realistis. Alasannya, dalam merayakan perlombaan sampan kolek yang "dijual" bukan hanya semata perlombaannya.

Akan tetapi, banyak hal lain, seperti keindahan pantai dan alamnya yang luas. Di sisi lain, banyak obyek wisata yang bisa diperlihatkan kepada wisatawan karena di sekitar Pulau Galang, ada bekas tempat pengungsi Vietnam (1979-1996).

Dengan kata lain, wisatawan yang dijadwalkan hadir selain menyaksikan lomba sampan kolek juga disuguhkan obyek wisata lain, termasuk musik tradisional dan joget Melayu. (SMN)


Sumber:

Kompas


Dibaca : 3.532 kali.

Tuliskan komentar Anda !