Minggu, 26 April 2026 |Isnain, 9 Dzulqaidah 1447 H
Pengunjung Online : 625
Hari ini
:
12.641
Kemarin
:
23.172
Minggu kemarin
:
7.342.256
Bulan kemarin
:
101.098.282
Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
04 sepember 2012 03:21
UNS Bangun Pusat Studi Bangsa Melayu
Solo, Jateng - Universitas Sebelas Maret, Solo, mendirikan Pusat Studi Bangsa Melayu yang peresmiannya akan dilakukan pada Senin (3/9) ini di Kota Solo. Penelitian dilakukan bersama antara Indonesia dengan Malaysia untuk mengangkat eksistensi bangsa Melayu di tengah dunia.
Rektor UNS Prof Ravik Karsidi, Minggu (2/9), mengatakan, peresmian pusat studi tersebut bersamaan dengan penganugerahan gelar doktor kehormatan kepada mantan Perdana Menteri Malaysia YABhg Tun Dr Mahathir Mohamad. UNS menilai Mahathir memiliki peran yang sangat besar dalam membawa bangsa Melayu tampil sederajat dengan bangsa-bangsa lain.
Pusat studi itu akan menampung segala bentuk riset mengenai bahasa dan budaya Melayu. Riset yang dilakukan adalah hasil kerja sama antara peneliti Indonesia dengan Malaysia. Bahasa Melayu menjadi salah satu yang menarik untuk diteliti karena sifatnya yang egaliter dan terbuka.
”Bahasa Melayu yang merupakan akar bahasa Indonesia, pernah diusulkan oleh Pusat Bahasa untuk menjadi salah satu bahasa internasional. Sebab, pengguna bahasa tersebut tergolong cukup besar, bisa mencapai 400 juta jiwa,” kata Ravik.
Namun, jumlah penutur bahasa yang besar saja tidak cukup untuk menjadikan bahasa Melayu menjadi bahasa internasional. Karena itu, kerja sama di bidang kebudayaan dan studi-studi intensif harus terus berjalan agar dapat mendorong negara masing-masing memperjuangkan hal itu.
Naib Canselor (Rektor) Universiti Utara Malaysia (UUM) Prof Dato Dr Mohamed Mustafa Ishak mengatakan, hal lain yang lebih menentukan diperhitungkan atau tidaknya suatu bangsa adalah kekuatan ekonomi. Ia mencontohkan, Jepang dengan penduduk sekitar 128 juta jiwa, bahasanya menjadi salah satu bahasa internasional.
”Kalau negara-negara dengan rumpun Melayu memperkuat pembangunan ekonomi, maka bahasa Melayu akan berkembang,” kata Mustafa.