Close
 
Selasa, 9 Juni 2026   |   Arbia', 23 Dzulhijah 1447 H
Pengunjung Online : 1.094
Hari ini : 22.456
Kemarin : 24.704
Minggu kemarin : 227.151
Bulan kemarin : 9.252.016
Anda pengunjung ke 105.216.314
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

22 mei 2013 03:45

17 Universitas Dunia Bahas Eksistensi Bahasa Melayu

17 Universitas Dunia Bahas Eksistensi Bahasa Melayu

Padang, Sumbar - Sebanyak 17 perguruan tinggi dari tujuh Negara (IndonesIa, Malayasia, Jerman, Amerika, Jepang, Denmark, dan Australia) akan membahas eksistensi bahasa Melayu dalam International Symposium on Malay/Indonesian Linguistics (ISML) yang ke-17, pada 6-10 Juni, di Aula Balairung Caraka Gedung B Kampus I Universitas Bung Hatta, Ulak Karang, Padang, Sumatera Barat.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya Puspawati mengatakan dipercaya menjadi tuan rumah untuk menyelenggarakan simposium internasional lantaran bekerjasama dengan Pusat Kajian Bahasa dan Budaya, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Departement of Linguistics and Cognittive Science, Universitiy of Delawere dan Departemnt Linguistic, Max Planck Institiute for Evolutionary Anthoropology, Jerman.

"Dalam simposium ini akan mempresentasikan makalah hasil kajian bahasa yang bersifat mikro dan makro dalam hubungan masyarakat, pendidikan variasi bahasa dan budaya Melayu dan Indonesia serta mengkaji ilmu linguistik dan ilmu yang berhubungan dengan linguistik," kata Puspa, Selasa (21/5/2013).

Katanya, simposium tersebut dilaksanakan tiap tahun secara bergilir, untuk tahun ini dilaksanakan di Indonesia, tahun besok dilaksanakan di Negara lain. "Tujuan simposium ini untuk mengumpukan para ahli yang akan membahas permasalahan bahasa dan budaya serta dialek-dialek yang ada di dalam rumpun Melayu Indonesia," ucapnya.

Ketua Pelaksana Elfiondri, menjelaskan ISMIL pertama kali dibahas di Malaysia pada 1997 hingga ISMIL ke-16 telah diselenggarakan di enam negara yaitu Indonesia, Belanda, Malaysia, Jerman, Amerika, dan Sri Lanka.

"Simposium ini menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam setiap kegiatannya mulai dari penulisan makalah hingga presentasi oleh pemakalah," ujarnya.

Dalam agendanya, simposium tersebut akan membahas masalah phonology, phonology dialec, historical comperative, morphology, morphology morphosyntax, semantics, semantics lexical catagories, syntax grammatical relations, syntax nominalisations, siciolinguistics, anthoropological, contact, languange change, acquisition, endangerment and documentation dan syntaxis.

Sumber: http://kampus.okezone.com


Dibaca : 1.250 kali.

Tuliskan komentar Anda !