Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
12 juni 2013 07:41
Bhinneka Tunggal Ika Dalam Pameran Seni Rupa “Salam Nusantara”
Ketua BKPBM Mahyudin Al Mudra SH., MM menyampaikan kata sambutan sekaligus membuka Pameran Seni Rupa “Salam Nusantara”
Yogyakarta, MelayuOnline.Com -- “Bukan pelukis jika tak melukis.” Itulah sepenggal kalimat dalam kata sambutan yang disampaikan oleh Ketua Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Mahyudin Al Mudra SH., MM ketika membuka Pameran Seni Rupa bertajuk “Salam Nusantara” pada Selasa (11/06) malam.
Pameran Seni Rupa bertajuk “Salam Nusantara” berlangsung selama Selasa-Kamis, 11-13 Juni 2013 bertempat di BKPBM Jalan Gambiran No. 85 Yogyakarta. Pameran ini menampilkan 24 lukisan dari 22 perupa. Para perupa terdiri dari para mahasiswa tingkat akhir di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, para alumni ISI, serta seniman lukis ternama, seperti Kartika Affandi.
Tema “Salam Nusantara” menjadi menarik untuk dicermati karena pada dasarnya pameran ini merangkum keberagaman menjadi satu nafas bernama Bhinneka Tunggal Ika. Keberagaman tersebut tercermin dari karya-karya yang dipajang dalam pameran yang menurut Mahyudin Al Mudra, “mencerminkan simbol-simbol tertentu, konotatif-denotatif, tersirat, maupun tersurat”.
Sebut saja lukisan karya Suryawan yang bertajuk “Srabat Caruban” yang kental dengan tradisi dari daerah Jawa Barat. Ada lagi lukisan karya Oki Supriadi Koto yang berjudul “Nirmana Gurindam”. Lukisan ini jelas terinspirasi karya sastra monumental “Gurindam Dua Belas” buah pikir sastrawan ternama Raja Ali Haji dari Kepulauan Riau. Muncul pula lukisan karya Andis Pasaribu bertajuk “Sigale-gale Berjas Putih”. Si Gale-gale adalah tradisi dari daerah Batak, Sumatra Utara, namun tampilan jas putih jelas merupakan makna simbolis yang hendak disampaikan oleh sang pelukisnya.
Karya lukis yang dipamerkan. Dari kiri ke kanan: Lukisan karya Oki Supriadi Koto yang berjudul “Nirmana Gurindam” dan lukisan karya Andis Pasaribu bertajuk “Sigale-gale Berjas Putih”
Keragaman budaya juga muncul lewat lukisan berjudul “Pasar Terapung” karya Danang Wibisono yang menggambarkan situasi Pasar Terapung di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kemudian ada pula lukisan berjudul “Wanita Melayu Terakhir” karya Rian Sunandri. “Wanita Melayu” secara implisit menunjuk kepada suku Melayu, namun kata “terakhir” adalah simbolisasi dari sang pelukis. Tak ketinggalan, beberapa lukisan lain juga turut menampilkan makna-makna tertentu, baik bermuatan budaya, politik, ekonomi, maupun sosial, seperti lukisan karya Jamesbi Chaniago berjudul “Apabila Terpelihara Mata, Maka Sedikitlah Cita-cita”, Mufti Wahyudi Saili berjudul “Budaya Mengering” dan “Sesungguhnya Kurang Peduli”, I Gusti Agung Bagus Ari Maruta bertajuk “Sarapan Mewah”, lukisan berjudul “Soekarno” karya Rinaldi Ade Putra, dan lain sebagainya.
Karya lukis yang dipamerkan. Searah jarum jam: “Pasar Terapung” karya Danang Wibisono, “Wanita Melayu Terakhir” karya Rian Sunandri, “Soekarno” karya Rinaldi Ade Putra, dan “Sarapan Mewah” karya I Gusti Agung Bagus Ari Maruta
Kehadiran beragam lukisan dengan muatan berbagai kebudayaan tersebut tampak serasi dengan pembukaan pameran yang menampilkan beragam tarian multi-etnis. Sebut saja Tari Topeng dari Cirebon, tarian kontemporer dengan kemasan Tari Bali, dan Tari Mak Inang Pulau Kampai dari Kepulauan Riau.
Penampilan Tari Topeng Cirebon dan Mak Inang Pulau Kampai dalam pembukaan Pameran Seni Rupa “Nusantara”
Menanggapi keragaman budaya yang tersaji dalam pembukaan Pameran Seni Rupa “Salam Nusantara”, Dosen Seni Rupa ISI, Hening Swasono M.Sn yang menyampaikan kata sambutan di awal acara berkata bahwa, “pameran ini adalah cagar budaya”. Cagar budaya yang dimaksudkan adalah tradisi silaturahmi, baik antara sesama seniman, maupun antara budaya yang satu dengan budaya lainnya. Oleh karena itu, pameran semacam ini sebenarnya merupakan ajang bersilaturahmi tanpa ada muatan atau kepentingan lain di luar jalur seni dan budaya. Pasalnya, jika jiwa seni dalam darah seorang atau sekumpulan seniman telah terkontaminasi oleh muatan atau kepentingan tertentu, maka idealisme seorang seniman hanya tinggal nama saja. (Tunggul Tauladan/brt/02/06-2013)