Anda pengunjung ke 105.216.314 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )
AGENDA
Belum ada data - dalam proses
Berita
07 juni 2013 04:13
Seni Tradisi Sintren Pukau Publik Jambi
Jambi - Pegelaran seni tradisi Sintren sanggar seni Sekar Laras, asal Bongas Wetan, Sumberjaya, Majalengka, Jawa Barat pukau penonton di Teater Tertutup Taman Budaya Jambi. Atraksi menari di atas pecahan kaca dan beling disertai menyayat leher dan lidah mengundang pekik jerit penonton.
“Ini suatu peristiwa sangat langka bagi kami masyarakat Kota Jambi dan sekitarnya. Sungguh sangat jarang sekali ada kesenian tradisional yang menampilkan atraksi-atraksi seperti ini. Sunggu sangat luar biasa sekali kesenian Sintren dapat di tampilkan di acara ini,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prov. Jambi Ir. H. Budidaya, M.For.Sc., yang berkesempatan hadir menyaksikan pegelaran seni Sintren yang mewakili Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat pada Temu Karya dan Temu Kepala Taman Budaya Se Indonesia 2013 di Jambi, Kamis (6/6/13).
Sementara Kepala Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, Dra. Hj. Rosdiana Racmiwaty, M.Si., mengungkapkan ditampilkannya seni Sintren sebagai perwakilan Jawa Barat, sesuai dengan tema Temu Karya dan Temu Kepala Taman Budaya Se Indonesia 2013, “Kekuatan Mantera dalam Perspektif Kebudayaan Manusia”.
“Selain memiliki daya tarik tersendiri, kesenian Sintren saat ini tengah diangkat menjadi salah satu ikon kesenian di Jawa Barat selain kesenian lainnya seperti Angklung, Jaipongan, Kuda Renggong dan Gotong Singa,” terang Rosdiana Rachmiwaty.
Selain itu, menurut Rosdiana, hal yang menelatarbelakangi dibawanya seni Sintren diajang Temu Karya dan Temu Kepala Taman Budaya Se Indonesia 2013 di Jambi, adalah latarbelakang sejarah kesenian Sintren yang sangat menarik untuk diungkap. Hal yang tidak kalah menariknya adalah kesenian Sintren terus mengalami perkembangan dan hal ini sesuai dengan arahan dan tujuan dari keberadaan Taman Budaya dalam mendorong terciptanya kreativitas dikalangan seniman dan seniwati tradisional dalam mengembangkan seni budaya sebagai ikon daerah.